Hadis yang Digunakan untuk Tujuan Buruk dan Diletakkan Bukan pada Tempatnya
Senin, 25 Januari 2021 - 05:00 WIB
loading...
Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
SUNNAH Nabi yang suci telah menghadapi gempuran dari para hamba pemikiran Barat. Mereka, dengan sekuat tenaga dan upaya berusaha membunuh dan mematikannya. Beragam cara mereka lakukan, dan beragam jalan mereka tempuh, untuk mencapai tujuan itu.
Ada yang berusaha mengembangkan sikap skeptis terhadap sunnah. Yaitu dengan meragukan keabsahan seluruh sunnah, atau sunnah yang terucapkan saja --dan ini adalah bentuk sunnah yang terbesar-- atau juga meragukan periwayat-periwayat yang masyhur, seperti Abu Hurairah r.a.
Baca juga: Sesuai Hukum Islam, MUI Minta Vaksin Corona Penuhi Standar Halal dan Thoyyib
Ada yang berusaha meragukan keabsahan sunnah sebagai sumber hukum Islam dan pembentukan ajarannya. Mereka berkata, kita cukup berpegang kepada Al Quran saja!.
Adapula yang berusaha menghancurkan sunnah dengan sunnah sendiri. Yaitu dengan mengambil sebagian hadis dan meletakkannya bukan pada tempatnya. Kemudian dijadikan sebagai dalil bagi apa yang tidak sesuai dengan kandungan sunnah itu sendiri.
Syaikh Yusuf al Qardhawi dalam buku Sunnah Rasul: Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban diterjemahan Abdul Hayyie al Kattani dan Abduh Zulfidhar (1998) menyebutkan di antara hadis-hadis yang diletakkan bukan pada tempatnya, dan digunakan untuk tujuan yang buruk, adalah hadis masyhur yang diriwayatkan oleh Muslim dalam masalah pembuahan pohon kurma.
Hadis itu, dalam sebagian riwayat berbunyi:
"Kalian lebih tahu tentang perkara dunia kalian." [Hadist ini diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahih-nya, dalam kitab Al Fadlail, dari riwayat Thalhah, Rafi' bin Khudaij, A'isyah, dan Anas r.a. (hadist-hadist no. 2361-2363) dari Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fu'ad Abdul Baqy].
Baca juga: Habib Rizieq Puasa di Sel, Sahurnya Minta Dibawakan Kurma dan Cemilan
Sebagian dari mereka ada yang berusaha menafikkan adanya sistem politik dalam Islam secara total, dengan berdasarkan hanya satu hadis ini saja. Karena, menurut mereka, masalah politik, baik pokok maupun parsialnya, adalah urusan duniawi kita, maka otomatis kita lebih tahu tentangnya. Wahyu tidak mempunyai kompetensi untuk memberikan aturan dan petunjuk dalam masalah ini. Bagi mereka, Islam adalah agama tanpa negara, dan akidah tanpa syari'ah!.
Sebagian yang lain berusaha menafikan adanya sistem ekonomi dalam Islam, juga dengan bersandarkan pada satu hadis ini.
Baca juga: Uskup Agung Yunani Menghina Islam, Bilang Islam Bukan Agama
Al-Qardhawi menyatakan ada sebagian orang yang ingin menghancurkan seluruh hadis yang tercatat dalam kitab-kitab hadis, yang mengatur masalah perdagangan, mu'amalah, hubungan sosial, ekonomi dan politik hanya dengan satu hadis ini saja. "Seakan-akan Rasulullah SAW mensabdakan hadis ini untuk menasakh 'menghapus' seluruh sabda, perbuatan dan persetujuannya yang lain, yang tercatat sebagai hadis yang suci," jelasnya.
Ada yang berusaha mengembangkan sikap skeptis terhadap sunnah. Yaitu dengan meragukan keabsahan seluruh sunnah, atau sunnah yang terucapkan saja --dan ini adalah bentuk sunnah yang terbesar-- atau juga meragukan periwayat-periwayat yang masyhur, seperti Abu Hurairah r.a.
Baca juga: Sesuai Hukum Islam, MUI Minta Vaksin Corona Penuhi Standar Halal dan Thoyyib
Ada yang berusaha meragukan keabsahan sunnah sebagai sumber hukum Islam dan pembentukan ajarannya. Mereka berkata, kita cukup berpegang kepada Al Quran saja!.
Adapula yang berusaha menghancurkan sunnah dengan sunnah sendiri. Yaitu dengan mengambil sebagian hadis dan meletakkannya bukan pada tempatnya. Kemudian dijadikan sebagai dalil bagi apa yang tidak sesuai dengan kandungan sunnah itu sendiri.
Syaikh Yusuf al Qardhawi dalam buku Sunnah Rasul: Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban diterjemahan Abdul Hayyie al Kattani dan Abduh Zulfidhar (1998) menyebutkan di antara hadis-hadis yang diletakkan bukan pada tempatnya, dan digunakan untuk tujuan yang buruk, adalah hadis masyhur yang diriwayatkan oleh Muslim dalam masalah pembuahan pohon kurma.
Hadis itu, dalam sebagian riwayat berbunyi:
"Kalian lebih tahu tentang perkara dunia kalian." [Hadist ini diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahih-nya, dalam kitab Al Fadlail, dari riwayat Thalhah, Rafi' bin Khudaij, A'isyah, dan Anas r.a. (hadist-hadist no. 2361-2363) dari Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fu'ad Abdul Baqy].
Baca juga: Habib Rizieq Puasa di Sel, Sahurnya Minta Dibawakan Kurma dan Cemilan
Sebagian dari mereka ada yang berusaha menafikkan adanya sistem politik dalam Islam secara total, dengan berdasarkan hanya satu hadis ini saja. Karena, menurut mereka, masalah politik, baik pokok maupun parsialnya, adalah urusan duniawi kita, maka otomatis kita lebih tahu tentangnya. Wahyu tidak mempunyai kompetensi untuk memberikan aturan dan petunjuk dalam masalah ini. Bagi mereka, Islam adalah agama tanpa negara, dan akidah tanpa syari'ah!.
Sebagian yang lain berusaha menafikan adanya sistem ekonomi dalam Islam, juga dengan bersandarkan pada satu hadis ini.
Baca juga: Uskup Agung Yunani Menghina Islam, Bilang Islam Bukan Agama
Al-Qardhawi menyatakan ada sebagian orang yang ingin menghancurkan seluruh hadis yang tercatat dalam kitab-kitab hadis, yang mengatur masalah perdagangan, mu'amalah, hubungan sosial, ekonomi dan politik hanya dengan satu hadis ini saja. "Seakan-akan Rasulullah SAW mensabdakan hadis ini untuk menasakh 'menghapus' seluruh sabda, perbuatan dan persetujuannya yang lain, yang tercatat sebagai hadis yang suci," jelasnya.
Lihat Juga :