Kalah Perang dan Disuruh Kembali ke Madinah, Siti Aisyah Menangis Histeris
Minggu, 31 Januari 2021 - 18:33 WIB
loading...
A
A
A
"Tidak, aku tidak mau!" sahut Sitti Aisyah.
"Bunda sekarang bukan lagi orang yang dapat memerintah atau melarang," kataku terpaksa menegaskan, "Tidak bisa mengambil dan tidak bisa memberi."
Sitti Aisyah kemudian menangis, sampai suaranya kedengaran dari luar rumah. Lalu ia berkata: "Aku akan segera pulang ke tempat kediamanku, insyaa Allah Ta'aalaa. Demi Allah, tidak ada suatu negeri yang kubenci seperti negeri di mana kalian berada sekarang ini."
"Mengapa begitu?" tanyaku. "Demi Allah, kami tetap memandang bunda sebagai Ummul Mukminin. Kami tetap memandang ayahnya bunda, Abu Bakar, sebagai seorang shiddiq."
Sehabis pertemuan dengan Ummul mukminin aku segera menghadap Amirul Mukminin. Kepadanya kulaporkan semua yang kukatakan kepada Sitti Aisyah dan apa yang dikatakannya kepadaku.
Baca juga: Perang Unta: Syahidnya Dua Sahabat Nabi, Thalhah dan Zubair
Mendengar laporanku itu, Amirul Mukminin merasa lega. Menanggapi laporanku ia berucap: "Waktu aku menyuruhmu sudah kuduga ia akan memberi jawaban jawaban seperti itu."
Ekstrim
Sudah lazim terjadi, tiap kelompok masyarakat atau pasukan, seusai menghadapi peperangan muncul anasir-anasir ekstrim. Demikian juga pasukan Ali bin Abu Thalib r.a. Ada yang menuntut agar semua orang yang terlibat dalam pasukan lawan yang sudah kalah itu dijadikan tawanan, diperlakukan sebagai budak dan dibagi-bagikan.
Menjawab tuntutan ekstrim itu dengan tegas Ali bin Abu Thalib r.a. mengatakan: "Tidak!"
"Mengapa anda melarang kami?" tanya pihak ekstrim itu, "untuk menjadikan mereka sebagai hamba-hamba sahaya, padahal anda dalam peperangan menghalalkan darah mereka?!"
"Bunda sekarang bukan lagi orang yang dapat memerintah atau melarang," kataku terpaksa menegaskan, "Tidak bisa mengambil dan tidak bisa memberi."
Sitti Aisyah kemudian menangis, sampai suaranya kedengaran dari luar rumah. Lalu ia berkata: "Aku akan segera pulang ke tempat kediamanku, insyaa Allah Ta'aalaa. Demi Allah, tidak ada suatu negeri yang kubenci seperti negeri di mana kalian berada sekarang ini."
"Mengapa begitu?" tanyaku. "Demi Allah, kami tetap memandang bunda sebagai Ummul Mukminin. Kami tetap memandang ayahnya bunda, Abu Bakar, sebagai seorang shiddiq."
Sehabis pertemuan dengan Ummul mukminin aku segera menghadap Amirul Mukminin. Kepadanya kulaporkan semua yang kukatakan kepada Sitti Aisyah dan apa yang dikatakannya kepadaku.
Baca juga: Perang Unta: Syahidnya Dua Sahabat Nabi, Thalhah dan Zubair
Mendengar laporanku itu, Amirul Mukminin merasa lega. Menanggapi laporanku ia berucap: "Waktu aku menyuruhmu sudah kuduga ia akan memberi jawaban jawaban seperti itu."
Ekstrim
Sudah lazim terjadi, tiap kelompok masyarakat atau pasukan, seusai menghadapi peperangan muncul anasir-anasir ekstrim. Demikian juga pasukan Ali bin Abu Thalib r.a. Ada yang menuntut agar semua orang yang terlibat dalam pasukan lawan yang sudah kalah itu dijadikan tawanan, diperlakukan sebagai budak dan dibagi-bagikan.
Menjawab tuntutan ekstrim itu dengan tegas Ali bin Abu Thalib r.a. mengatakan: "Tidak!"
"Mengapa anda melarang kami?" tanya pihak ekstrim itu, "untuk menjadikan mereka sebagai hamba-hamba sahaya, padahal anda dalam peperangan menghalalkan darah mereka?!"
Lihat Juga :