Langkah Khalifah Ali bin Abu Thalib Setelah Berhasil Menaklukkan Siti Aisyah
Senin, 01 Februari 2021 - 18:22 WIB
loading...
A
A
A
Karena kata-kata Abu Musa itu juga didengar oleh sejumlah penduduk Kufah, maka Ammar bin Yasir segera mengatakan: "Hai saudara-saudara. Abu Musa melarang kalian mencampuri urusan dua pihak yang sedang bertikai. Demi Allah, apa yang dikatakan olehnya itu sama sekali tidak bisa dibenarkan. Allah tidak akan ridha terhadap hamba-Nya yang mengikuti perkataan Abu Musa!
Baca juga: Perang Unta: Syahidnya Dua Sahabat Nabi, Thalhah dan Zubair
Allah telah berfirman, (artinya): "Jika ada dua golongan dari kaum muslimin berperang, maka damaikanlah dua-duanya. Jika salah satu dari dua golongan itu berbuat zalim terhadap yang lain, maka perangilah pihak yang berbuat zalim itu sampai mereka kembali patuh kepada perintah Allah. Bila pihak itu sudah mematuhi perintah Allah, maka damaikanlah dua-duanya dengan adil, dan hendaknya kalian benar-benar berlaku adil. Sesungguhnyalah bahwa Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Hujurat:9).
Seterusnya Ammar bin Yasir berkata pula: "Juga Allah telah berfirman, (artinya) "Dan perangilah mereka agar jangan sampai terjadi suatu bencana, dan supaya agama itu semata-mata hanya untuk Allah. Jika mereka telah berhenti, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. Al Anfal:39).
"Jelaslah," kata Ammar bin Yasir, "bahwa Allah tidak akan meridhai para hamba-Nya tetap duduk berpangku tangan di rumah, memencilkan diri dan membiarkan kaum muslimin saling menumpahkan darah. Oleh karena itu hai saudara-saudara, keluarlah mendatangi orang-orang yang sedang bertikai, dan dengarkan sendiri apa yang menjadi alasan mereka masing-masing. Lalu pertimbangkanlah baik-baik pihak mana yang harus dibela dan diikuti. Jika mereka sudah berdamai, kalian dapat pulang ke rumah masing-masing membawa pahala, sebab kalian sudah memenuhi kewajiban Allah. Tetapi jika ada pihak yang berlaku zalim terhadap pihak lain, perangilah pihak yang zalim itu, sampai mereka patuh kembali kepada Allah. Itulah yang diperintahkan Allah kepada kalian."
Baca juga: Jelang Pecah Perang, Surat Ali bin Abu Thalib dan Siti Aisyah yang Menggetarkan
Setelah perdebatan itu selesai Ammar bin Yasir dan Muhammad bin Abu Bakar pergi menghadap Khalifah Ali bin Abu Thalib r.a. untuk menyampaikan laporan tentang apa yang telah dikatakan Abu Musa.
Seterimanya laporan itu Ali bin Abu Thalib r.a. menulis surat panjang lebar ditujukan kepada penduduk Kufah. Surat itu akan dibawa langsung oleh 4 orang utusan yang terdiri dari Al Hasan bin Ali r.a., Abdullah bin Abbas, Ammar bin Yasir dan Qies bin Sa'ad.
Surat itu antara lain berbunyi: "…kuberitahukan kepada kalian tentang persoalan Utsman bin Affan, agar orang yang mendengar dapat berpikir seperti orang menyaksikan sendiri terjadinya peristiwa itu.
Aku adalah seorang muhajir yang paling jarang menyalahkan Utsman dan bahkan paling banyak memberi nasehat kepadanya."
Selanjutnya dalam surat tersebut dijelaskan tentang proses terjadinya pemberontakan terhadap Khalifah Utsman, proses pembai'atan dirinya sebagai Khalifah, dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan Thalhah dan Zubair yang pergi ke Makkah lalu mengajak Ummul Mukminin Sitti Aisyah r.a. untuk dijadikan alat pengobar fitnah dan bencana.
Empat orang utusan Ali bin Abu Thalib r.a. itu kemudian menemui Abu Musa Al Asy'ariy. Kepadanya surat Ali bin Abu Thalib r.a. itu diserahkan dan Abu Musa sendiri diminta membai'at Ali bin Abu Thalib r.a. dan memberikan dukungan.
Baca juga: Perang Unta: Syahidnya Dua Sahabat Nabi, Thalhah dan Zubair
Allah telah berfirman, (artinya): "Jika ada dua golongan dari kaum muslimin berperang, maka damaikanlah dua-duanya. Jika salah satu dari dua golongan itu berbuat zalim terhadap yang lain, maka perangilah pihak yang berbuat zalim itu sampai mereka kembali patuh kepada perintah Allah. Bila pihak itu sudah mematuhi perintah Allah, maka damaikanlah dua-duanya dengan adil, dan hendaknya kalian benar-benar berlaku adil. Sesungguhnyalah bahwa Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Hujurat:9).
Seterusnya Ammar bin Yasir berkata pula: "Juga Allah telah berfirman, (artinya) "Dan perangilah mereka agar jangan sampai terjadi suatu bencana, dan supaya agama itu semata-mata hanya untuk Allah. Jika mereka telah berhenti, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. Al Anfal:39).
"Jelaslah," kata Ammar bin Yasir, "bahwa Allah tidak akan meridhai para hamba-Nya tetap duduk berpangku tangan di rumah, memencilkan diri dan membiarkan kaum muslimin saling menumpahkan darah. Oleh karena itu hai saudara-saudara, keluarlah mendatangi orang-orang yang sedang bertikai, dan dengarkan sendiri apa yang menjadi alasan mereka masing-masing. Lalu pertimbangkanlah baik-baik pihak mana yang harus dibela dan diikuti. Jika mereka sudah berdamai, kalian dapat pulang ke rumah masing-masing membawa pahala, sebab kalian sudah memenuhi kewajiban Allah. Tetapi jika ada pihak yang berlaku zalim terhadap pihak lain, perangilah pihak yang zalim itu, sampai mereka patuh kembali kepada Allah. Itulah yang diperintahkan Allah kepada kalian."
Baca juga: Jelang Pecah Perang, Surat Ali bin Abu Thalib dan Siti Aisyah yang Menggetarkan
Setelah perdebatan itu selesai Ammar bin Yasir dan Muhammad bin Abu Bakar pergi menghadap Khalifah Ali bin Abu Thalib r.a. untuk menyampaikan laporan tentang apa yang telah dikatakan Abu Musa.
Seterimanya laporan itu Ali bin Abu Thalib r.a. menulis surat panjang lebar ditujukan kepada penduduk Kufah. Surat itu akan dibawa langsung oleh 4 orang utusan yang terdiri dari Al Hasan bin Ali r.a., Abdullah bin Abbas, Ammar bin Yasir dan Qies bin Sa'ad.
Surat itu antara lain berbunyi: "…kuberitahukan kepada kalian tentang persoalan Utsman bin Affan, agar orang yang mendengar dapat berpikir seperti orang menyaksikan sendiri terjadinya peristiwa itu.
Aku adalah seorang muhajir yang paling jarang menyalahkan Utsman dan bahkan paling banyak memberi nasehat kepadanya."
Selanjutnya dalam surat tersebut dijelaskan tentang proses terjadinya pemberontakan terhadap Khalifah Utsman, proses pembai'atan dirinya sebagai Khalifah, dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan Thalhah dan Zubair yang pergi ke Makkah lalu mengajak Ummul Mukminin Sitti Aisyah r.a. untuk dijadikan alat pengobar fitnah dan bencana.
Empat orang utusan Ali bin Abu Thalib r.a. itu kemudian menemui Abu Musa Al Asy'ariy. Kepadanya surat Ali bin Abu Thalib r.a. itu diserahkan dan Abu Musa sendiri diminta membai'at Ali bin Abu Thalib r.a. dan memberikan dukungan.
Lihat Juga :