Kuah Berbalas Makjun: Lagi-Lagi Abu Nawas Ngerjain Baginda Raja
Minggu, 17 Mei 2020 - 03:40 WIB
loading...
A
A
A
Selesai upacara, semua orang pamitan kepada baginda dan pulang ke rumah masing-masing. Begitu pula dengan Abu Nawas.
(Baca juga: Cara Memilih Jalan, Menurut Abu Nawas )
Sejak itu Abu Nawas tidak pernah menginjakkan kakinya ke Istana. Tak kurang Baginda pun rindu berat kepadanya. Karena bagaimanapun Abu Nawas selalu dapat menghibur hatinya. Ada saja celotehan-celotehan Abu Nawas yang membuat suasana balairung jadi hidup.
Ketika Baginda Raja memanggilnya, Abu Nawas tidak bersedia memenuhi panggilan itu, dengan alasan sakit, meski panggilan tersebut disampaikan terus menerus. Setiap kali punggawa datang setiap kali itu pula Abu Nawas bilang sakitnya makin serius.
Baginda pun khawatir dengan sakitnya Abu Nawas, maka ditengoknya Abu Nawas ke rumahnya diiringi beberapa orang petinggi kerajaan.
(Baca juga: Kisah Bijak: Orang-Orang Buta dan Gajah )
Mendengar Baginda Raja menuju ke rumahnya, Abu Nawas buru-buru pasang aksi. Mata terpejam, badan tergeletak lemah lunglai. Namun sebelum itu ia telah menyuruh istrinya menyiapkan obat makjun, ramuan obat yang dibuat seperti dodol bulat, dan dua butir di antaranya dibubuhi tinja. Abu Nawas menelan sebutir obat itu ketika baginda sudah sampai di depannya.
“Hai Abu Nawas, apa yang kamu telan itu?” tanya Baginda.
“Inilah yang disebut obat makjun,” jawab Abu Nawas masih dalam posisi telentang. “Resepnya hamba peroleh tadi malam lewat mimpi. Seorang tua menghadap hamba dan berpesan agar obat makjun ini hamba telan dua butir, niscaya sembuh,” setelah Abu Nawas menelan sebutir lagi dan tampak badannya segar layaknya orang sembuh dari sakit.
(Baca juga: Tipu Dibalas Tipu, Abu Nawas Kok Dilawan )
(Baca juga: Cara Memilih Jalan, Menurut Abu Nawas )
Sejak itu Abu Nawas tidak pernah menginjakkan kakinya ke Istana. Tak kurang Baginda pun rindu berat kepadanya. Karena bagaimanapun Abu Nawas selalu dapat menghibur hatinya. Ada saja celotehan-celotehan Abu Nawas yang membuat suasana balairung jadi hidup.
Ketika Baginda Raja memanggilnya, Abu Nawas tidak bersedia memenuhi panggilan itu, dengan alasan sakit, meski panggilan tersebut disampaikan terus menerus. Setiap kali punggawa datang setiap kali itu pula Abu Nawas bilang sakitnya makin serius.
Baginda pun khawatir dengan sakitnya Abu Nawas, maka ditengoknya Abu Nawas ke rumahnya diiringi beberapa orang petinggi kerajaan.
(Baca juga: Kisah Bijak: Orang-Orang Buta dan Gajah )
Mendengar Baginda Raja menuju ke rumahnya, Abu Nawas buru-buru pasang aksi. Mata terpejam, badan tergeletak lemah lunglai. Namun sebelum itu ia telah menyuruh istrinya menyiapkan obat makjun, ramuan obat yang dibuat seperti dodol bulat, dan dua butir di antaranya dibubuhi tinja. Abu Nawas menelan sebutir obat itu ketika baginda sudah sampai di depannya.
“Hai Abu Nawas, apa yang kamu telan itu?” tanya Baginda.
“Inilah yang disebut obat makjun,” jawab Abu Nawas masih dalam posisi telentang. “Resepnya hamba peroleh tadi malam lewat mimpi. Seorang tua menghadap hamba dan berpesan agar obat makjun ini hamba telan dua butir, niscaya sembuh,” setelah Abu Nawas menelan sebutir lagi dan tampak badannya segar layaknya orang sembuh dari sakit.
(Baca juga: Tipu Dibalas Tipu, Abu Nawas Kok Dilawan )
Lihat Juga :