Islam Turun di Makkah, Benarkah Karena Wilayah Itu Paling Bejat?
Senin, 18 Mei 2020 - 04:10 WIB
loading...
A
A
A
“Jika Aku menghendaki, Aku akan mengutus seorang rasul di setiap daerah.” (QS. al-Furqan: 51)
Namun Allah hanya memilih satu tempat untuk posisi munculnya utusan-Nya.
Kemudian, pertanyaan yang diajukan orang musyrik, hakekatnya bukan pertanyaan karena menolak tempat. Tapi pertanyaan karena latar belakang menolak kebenaran. Sehingga, andaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di Yaman, mereka akan mempertanyakan, “Mengapa nabi di utus di Yaman, bukankah masih banyak tempat lainnya?” dan sinonim yang sama juga bisa terjadi ketika beliau diutus di Indonesia sekalipun.(Baca juga: Ketakutan Dengan Pasukan Muslim, Pihak Romawi Menarik Diri )
Menurut Ulama Ahli Tafsir Prof Muhammad Quraish Shihab , dalam Al-Qur’an dijelaskan mengapa Nabi Muhammad tidak diutus dari seseorang yang berada di Makkah atau di luar Makkah. “Ada sebuah firman Allah yang mengatakan: Allah mengetahui siapa dan dimana yang paling tepat dia menetapkan dan mengutus utusan-Nya,” jelas Quraish Shihab.
Dari firman ini, menurutnya, kurang tepat jika ada yang mengatakan bahwa Nabi diutus karena di sanalah wilayah yang paling bejat.
Namun, ada pula sejumlah jawaban yang dianggap lebih masuk akal. Di sana disebutkan bahwa Timur Tengah dianggap yang paling wajar untuk terbitnya ajaran ini, karena jalur ke Eropa, Afrika, dan Asia.
Ada dua kekuatan super power di Timur Tengah kala itu. Persia yang menyembah api serta kawasan Romawi yang mengaku beragama nasrani, namun hidup berfoya-foya. "Hanya ada satu tempat yang belum dikuasi oleh kedua super power tersebut, yaitu Jazirah Arab," ungkap Prof Quraish.
Sama dengan Prof Quraish, Muhammad Husain Haekal dalam buku "Sejarah Hidup Muhammad" juga menyebut kala itu ada dua kekuatan yang sedang berhadap-hadapan yakni, kekuatan Kristen dan kekuatan Majusi. Kekuatan Barat berhadapan dengan kekuatan Timur. (Baca juga: Kaum Munafik Menghindari Seruan Nabi Melawan Romawi )
Bersamaan dengan itu, kekuasaan-kekuasaan kecil yang berada di bawah pengaruh kedua kekuatan itu, pada awal abad keenam berada di sekitar jazirah Arab.
Kedua kekuatan itu masing-masing mempunyai hasrat ekspansi dan penjajahan. Pemuka-pemuka kedua agama itu masing-masing berusaha sekuat tenaga akan menyebarkan agamanya ke atas kepercayaan agama lain yang sudah dianutnya.
Sungguhpun demikian, jazirah itu tetap seperti sebuah oasis yang kekar tak sampai terjamah oleh peperangan, kecuali pada beberapa tempat di bagian pinggir saja, juga tak sampai terjamah oleh penyebaran agama-agama Masehi atau Majusi, kecuali sebagian kecil saja pada beberapa kabilah.
"Gejala demikian ini dalam sejarah kadang tampak aneh kalau tidak kita lihat letak dan iklim jazirah itu serta pengaruh keduanya terhadap kehidupan penduduknya, dalam aneka macam perbedaan dan persamaan serta kecenderungan hidup mereka masing-masing," tuturnya.
Jazirah Arab bentuknya memanjang dan tidak parallelogram. Ke sebelah utara Palestina dan padang Syam. Ke sebelah timur Hira, Dijla (Tigris), Furat (Euphrates) dan Teluk Persia. Ke sebelah selatan Samudera Indonesia dan Teluk Aden. Sedangkan ke sebelah barat Laut Merah. Jadi, dari sebelah barat dan selatan daerah ini dilingkungi lautan, dari utara padang sahara dan dari timur padang sahara dan Teluk Persia.
Namun Allah hanya memilih satu tempat untuk posisi munculnya utusan-Nya.
Kemudian, pertanyaan yang diajukan orang musyrik, hakekatnya bukan pertanyaan karena menolak tempat. Tapi pertanyaan karena latar belakang menolak kebenaran. Sehingga, andaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di Yaman, mereka akan mempertanyakan, “Mengapa nabi di utus di Yaman, bukankah masih banyak tempat lainnya?” dan sinonim yang sama juga bisa terjadi ketika beliau diutus di Indonesia sekalipun.(Baca juga: Ketakutan Dengan Pasukan Muslim, Pihak Romawi Menarik Diri )
Menurut Ulama Ahli Tafsir Prof Muhammad Quraish Shihab , dalam Al-Qur’an dijelaskan mengapa Nabi Muhammad tidak diutus dari seseorang yang berada di Makkah atau di luar Makkah. “Ada sebuah firman Allah yang mengatakan: Allah mengetahui siapa dan dimana yang paling tepat dia menetapkan dan mengutus utusan-Nya,” jelas Quraish Shihab.
Dari firman ini, menurutnya, kurang tepat jika ada yang mengatakan bahwa Nabi diutus karena di sanalah wilayah yang paling bejat.
Namun, ada pula sejumlah jawaban yang dianggap lebih masuk akal. Di sana disebutkan bahwa Timur Tengah dianggap yang paling wajar untuk terbitnya ajaran ini, karena jalur ke Eropa, Afrika, dan Asia.
Ada dua kekuatan super power di Timur Tengah kala itu. Persia yang menyembah api serta kawasan Romawi yang mengaku beragama nasrani, namun hidup berfoya-foya. "Hanya ada satu tempat yang belum dikuasi oleh kedua super power tersebut, yaitu Jazirah Arab," ungkap Prof Quraish.
Sama dengan Prof Quraish, Muhammad Husain Haekal dalam buku "Sejarah Hidup Muhammad" juga menyebut kala itu ada dua kekuatan yang sedang berhadap-hadapan yakni, kekuatan Kristen dan kekuatan Majusi. Kekuatan Barat berhadapan dengan kekuatan Timur. (Baca juga: Kaum Munafik Menghindari Seruan Nabi Melawan Romawi )
Bersamaan dengan itu, kekuasaan-kekuasaan kecil yang berada di bawah pengaruh kedua kekuatan itu, pada awal abad keenam berada di sekitar jazirah Arab.
Kedua kekuatan itu masing-masing mempunyai hasrat ekspansi dan penjajahan. Pemuka-pemuka kedua agama itu masing-masing berusaha sekuat tenaga akan menyebarkan agamanya ke atas kepercayaan agama lain yang sudah dianutnya.
Sungguhpun demikian, jazirah itu tetap seperti sebuah oasis yang kekar tak sampai terjamah oleh peperangan, kecuali pada beberapa tempat di bagian pinggir saja, juga tak sampai terjamah oleh penyebaran agama-agama Masehi atau Majusi, kecuali sebagian kecil saja pada beberapa kabilah.
"Gejala demikian ini dalam sejarah kadang tampak aneh kalau tidak kita lihat letak dan iklim jazirah itu serta pengaruh keduanya terhadap kehidupan penduduknya, dalam aneka macam perbedaan dan persamaan serta kecenderungan hidup mereka masing-masing," tuturnya.
Jazirah Arab bentuknya memanjang dan tidak parallelogram. Ke sebelah utara Palestina dan padang Syam. Ke sebelah timur Hira, Dijla (Tigris), Furat (Euphrates) dan Teluk Persia. Ke sebelah selatan Samudera Indonesia dan Teluk Aden. Sedangkan ke sebelah barat Laut Merah. Jadi, dari sebelah barat dan selatan daerah ini dilingkungi lautan, dari utara padang sahara dan dari timur padang sahara dan Teluk Persia.
Lihat Juga :