Muawiyah Tinggal di Istana Megah, Ali bin Abu Thalib: Itu Istana Celaka!
Jum'at, 19 Februari 2021 - 16:11 WIB
loading...
A
A
A
Sedang di Syam, Muawiyah memberi harapan dan janji-janji muluk serta mengobral harta dan hadiah-hadiah.
Di Kufah, Ali bin Abu Thalib r.a. diminta oleh kaum muslimin supaya tinggal di sebuah istana besar dan megah. Waktu melihat istana itu Ali bin Abu Thalib ra. membuang muka sambil berkata: "Itu istana celaka! Sampai kapan pun aku tak sudi tinggal di sana!"
Penduduk Kufah tetap menghimbau dan mendesak supaya Ali bin Abu Thalib r.a. bersedia menempati istana itu, sebab dianggap patut dan sesuai, tetapi Ali bin Abu Thalib r.a. tetap menolak keras: "Aku tidak membutuhkan itu! Umar Ibnul Khattab sendiri dulu tidak menyukainya!"
Di Kufah, Ali bin Abu Thalib r.a. sering berjalan kaki ke pasar-pasar, padahal ia seorang Amirul Mukminin. Di sana ia menunjukan orang yang sesat jalan dan membantu orang yang lemah. Ia berjumpa dengan seorang yang sudah sangat lanjut usia. Segera ia membantu membawakan barang jinjingannya.
Melihat perbuatan Ali bin Abu Thalib r.a. seperti itu ada sahabatnya yang tidak rela, lalu mendekati, kemudian berkata kepadanya: "Ya Amirul Mukminin....!"
Baca juga: Wasiat Ali bin Abi Thalib kepada Putra-Putranya Jelang Sakaratul Maut
Ali bin Abu Thalib r.a. tidak membiarkan sahabat itu berkata sampai selesai. Segera ia menukas dengan mengucapkan firman Allah, yang artinya: "Kampung akhirat itu kami sediakan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri di bumi dan tidak berbuat kerusakan. Kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa." (S. Al-Qishash:83).
Ia membeli kebutuhan-kebutuhan keluarganya dan membawanya sendiri. Jika ada salah seorang dari pengantarnya yang hendak membawakan jinjingannya, ia menjawab sambil tersenyum: "Kepala keluarga lebih berhak membawanya sendiri!"
Walaupun ia seorang Khalifah, ia menunggang keledai dengan dua kaki tergelantung seolah-olah tak ada bedanya lagi dengan seorang badui miskin.
Baca juga: Hati Siti Aisyah Tersayat-sayat Meratapi Akhir Tragis Muhammad bin Abu Bakar
Di Kufah, Ali bin Abu Thalib r.a. diminta oleh kaum muslimin supaya tinggal di sebuah istana besar dan megah. Waktu melihat istana itu Ali bin Abu Thalib ra. membuang muka sambil berkata: "Itu istana celaka! Sampai kapan pun aku tak sudi tinggal di sana!"
Penduduk Kufah tetap menghimbau dan mendesak supaya Ali bin Abu Thalib r.a. bersedia menempati istana itu, sebab dianggap patut dan sesuai, tetapi Ali bin Abu Thalib r.a. tetap menolak keras: "Aku tidak membutuhkan itu! Umar Ibnul Khattab sendiri dulu tidak menyukainya!"
Di Kufah, Ali bin Abu Thalib r.a. sering berjalan kaki ke pasar-pasar, padahal ia seorang Amirul Mukminin. Di sana ia menunjukan orang yang sesat jalan dan membantu orang yang lemah. Ia berjumpa dengan seorang yang sudah sangat lanjut usia. Segera ia membantu membawakan barang jinjingannya.
Melihat perbuatan Ali bin Abu Thalib r.a. seperti itu ada sahabatnya yang tidak rela, lalu mendekati, kemudian berkata kepadanya: "Ya Amirul Mukminin....!"
Baca juga: Wasiat Ali bin Abi Thalib kepada Putra-Putranya Jelang Sakaratul Maut
Ali bin Abu Thalib r.a. tidak membiarkan sahabat itu berkata sampai selesai. Segera ia menukas dengan mengucapkan firman Allah, yang artinya: "Kampung akhirat itu kami sediakan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri di bumi dan tidak berbuat kerusakan. Kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa." (S. Al-Qishash:83).
Ia membeli kebutuhan-kebutuhan keluarganya dan membawanya sendiri. Jika ada salah seorang dari pengantarnya yang hendak membawakan jinjingannya, ia menjawab sambil tersenyum: "Kepala keluarga lebih berhak membawanya sendiri!"
Walaupun ia seorang Khalifah, ia menunggang keledai dengan dua kaki tergelantung seolah-olah tak ada bedanya lagi dengan seorang badui miskin.
Baca juga: Hati Siti Aisyah Tersayat-sayat Meratapi Akhir Tragis Muhammad bin Abu Bakar
Lihat Juga :