Maqom Pengetahuan Tertinggi Adalah Diam, Simak Kisah Nabi Musa Ini
Sabtu, 06 Maret 2021 - 21:54 WIB
loading...
A
A
A
Tentu saja, hal itu membuat Nabi Musa terheran-heran dan tidak bisa menahan diri untuk berkomentar. "Mengapa Anda merusak perahu itu? Mengapa dan mengapa?"
Masih berlanjut pada kasus selanjutnya dimana Khidir mencekik leher seorang anak yang sedang bermain-main hingga tewas. Musa makin tidak mengerti karakter guru macam apa yang akan menjadi gurunya itu.
Nabi Musa protes dan seakan menghakimi apa yang dilakukan Khidir adalah kesalahan. Bahkan kezhaliman yang tidak sepantasnya dilakukan oleh siapa pun, membunuh jiwa yang tak berdosa secara zalim, apalagi bagi seorang Nabi di kalangan Bani Israel.
Nabi Musa tak tahan diri untuk berkomentar dan memprotes, hingga terkesan tidak terima dengan kenyataan yang dihadapinya. "Mengapa Anda bunuh jiwa yang tak berdosa?"
Namun, setiap kali menghadapi pertanyaan dan protes Musa, Khidir hanya mengingatkan kesepakatan di awal yang harus bisa disepakati. Mau tak mau, Nabi Musa pun harus menerima kenyataan yang di luar nalar dan logika pengetahuannya itu.
Ujian terakhir, yang dilakukan Khidir ini, ternyata hanya hal yang sangat sederhana, tidak penuh misterius seperti dua kasus peristiwa sebelumnya, yaitu membantu membetulkan dinding yang telah roboh pada sebuah rumah tua yang lama ditinggalkan. Itu saja.
Namun, justru hal ketiga inilah yang merupakan klimak dari pengembaraan itu. Musa tidak mampu untuk tidak berkomentar apa gerangan yang dilakukan oleh lelaki misterius dihadapannya yang telah Allah karuniakan berbagai lautan ilmu hikmah padanya.
Apa jawaban Khidir kepada Nabi Musa ?
هَذاَ فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ
"Inilah akhir perjumpaan antara diriku dan dirimu."
Akhirnya, Khidir menyingkapkan semua hikmah dari setiap peristiwa mulai perahu milik nelayan miskin yang dirusak, ternyata hikmahnya adalah penyelamatan dari perampasan raja zalim yang merampas semua perahu yang masih bagus kondisinya.
Masih berlanjut pada kasus selanjutnya dimana Khidir mencekik leher seorang anak yang sedang bermain-main hingga tewas. Musa makin tidak mengerti karakter guru macam apa yang akan menjadi gurunya itu.
Nabi Musa protes dan seakan menghakimi apa yang dilakukan Khidir adalah kesalahan. Bahkan kezhaliman yang tidak sepantasnya dilakukan oleh siapa pun, membunuh jiwa yang tak berdosa secara zalim, apalagi bagi seorang Nabi di kalangan Bani Israel.
Nabi Musa tak tahan diri untuk berkomentar dan memprotes, hingga terkesan tidak terima dengan kenyataan yang dihadapinya. "Mengapa Anda bunuh jiwa yang tak berdosa?"
Namun, setiap kali menghadapi pertanyaan dan protes Musa, Khidir hanya mengingatkan kesepakatan di awal yang harus bisa disepakati. Mau tak mau, Nabi Musa pun harus menerima kenyataan yang di luar nalar dan logika pengetahuannya itu.
Ujian terakhir, yang dilakukan Khidir ini, ternyata hanya hal yang sangat sederhana, tidak penuh misterius seperti dua kasus peristiwa sebelumnya, yaitu membantu membetulkan dinding yang telah roboh pada sebuah rumah tua yang lama ditinggalkan. Itu saja.
Namun, justru hal ketiga inilah yang merupakan klimak dari pengembaraan itu. Musa tidak mampu untuk tidak berkomentar apa gerangan yang dilakukan oleh lelaki misterius dihadapannya yang telah Allah karuniakan berbagai lautan ilmu hikmah padanya.
Apa jawaban Khidir kepada Nabi Musa ?
هَذاَ فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ
"Inilah akhir perjumpaan antara diriku dan dirimu."
Akhirnya, Khidir menyingkapkan semua hikmah dari setiap peristiwa mulai perahu milik nelayan miskin yang dirusak, ternyata hikmahnya adalah penyelamatan dari perampasan raja zalim yang merampas semua perahu yang masih bagus kondisinya.
Lihat Juga :