Kisah Imam Abdullah Bin Alwi Al-Haddad, Pengarang Ratib Al-Haddad
Minggu, 07 Maret 2021 - 17:43 WIB
loading...
A
A
A
"Ini ada Salam dari ayahku. Minta ditajamkan pisau ini. Cepat ya. Soalnya mau dibuat menyembelih kurban," ucap sang anak dengan menyerahkan uang bayarnya.
"Oh baiklah. Besok datanglah lagi kemari untuk mengambilnya."
Anak inipun pulang. Sesampainya di rumah ayahnya bertanya,"Mana pisaunya?" "Besok" kata Imam Al-Haddad."
Ayahnya pun heran. Mengapa sampai satu hari, tidak langsung dikerjakan. Namun hal itu tidak ditanyakannya lagi.
Hingga keesokan harinya, setelah anak itu pulang mengambil pisau, ayahnya bertanya, "Mana pisaunya?"
"Ini. Uangnya dikembalikan oleh Haddad. Dia tidak mau dibayar."
Ayahnya pun semakin heran dan bertanya: "Memangnya dimana tempat Haddad itu?" "Jauuh. Di Alhawi sana."
Ayahnya keheranan: "Alhawi? Haddad siapa disana?" "Iya haddad di Alhawi."
"Haddad di Alhawi? Abdullah bin Alwi Al-Haddad ?"
"Iya. Abdullah Al-Haddad."
"Astagfirullah! Itu Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad ulama besar, bukan tukang pandai besi."
"Oh baiklah. Besok datanglah lagi kemari untuk mengambilnya."
Anak inipun pulang. Sesampainya di rumah ayahnya bertanya,"Mana pisaunya?" "Besok" kata Imam Al-Haddad."
Ayahnya pun heran. Mengapa sampai satu hari, tidak langsung dikerjakan. Namun hal itu tidak ditanyakannya lagi.
Hingga keesokan harinya, setelah anak itu pulang mengambil pisau, ayahnya bertanya, "Mana pisaunya?"
"Ini. Uangnya dikembalikan oleh Haddad. Dia tidak mau dibayar."
Ayahnya pun semakin heran dan bertanya: "Memangnya dimana tempat Haddad itu?" "Jauuh. Di Alhawi sana."
Ayahnya keheranan: "Alhawi? Haddad siapa disana?" "Iya haddad di Alhawi."
"Haddad di Alhawi? Abdullah bin Alwi Al-Haddad ?"
"Iya. Abdullah Al-Haddad."
"Astagfirullah! Itu Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad ulama besar, bukan tukang pandai besi."
Lihat Juga :