Kisah Isra Mikraj: Ini Penyebab Nabi Musa Menangis Saat Jumpa Nabi Muhammad
Selasa, 09 Maret 2021 - 13:04 WIB
loading...
A
A
A
Sebaliknya, semakin umatnya sering melanggar perintah Allah, derajat Nabinya pun tidak setinggi Nabi yang berprestasi menuntun umat ke jalan ketaatan lebih gemilang. Musa merasa sangat menyesal.
Ia telah dikaruniai usia yang panjang melebihi usia Nabi Muhammad. Begitu pun umatnya lebih panjang usianya dibanding usia umat Muhammad. Tapi Nabi Musa gagal membina umatnya. Umatnya kalah banyak dibanding umat Muhammad. Sudah kalah banyak, kalah taat pula. Sesal Musa.
Baca juga: Libur Isra Mikraj dan Nyepi, ASN Dilarang ke Luar Kota
Syaikh Badruddin Ahmad al-Aini melanjutkan, Musa menangis bukan karena hasud. Na’uzdu billah! Di alam itu tidak ada lagi sifat hasud bagi tiap-tiap orang Mukmin, terlebih hamba pilihan Allah.
Musa hanya merasa menyesal karena tidak bisa meraih pahala yang seharusnya bisa mengangkat derajatnya di sisi Allah Swt. Banyaknya kesalahan yang diperbuat umatnya, mengakibatkan Musa tidak bisa meraih pahala itu.
Kedudukan setiap Nabi di sisi Allah dipengaruhi oleh pahala umat yang mengikutinya.
"Dalam kenyataannya, jumlah umat Nabi Musa kalah banyak dengan jumlah umat Nabi Muhammad, padahal masa umat Nabi Musa jauh lebih panjang dibanding masa umat Nabi Muhammad SAW,” ujar Syaikh Badruddin Ahmad al-Aini.
Salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada nabi-nabinya adalah besarnya rasa kasih sayang yang dimiliki setiap nabi-Nya. Jadi, di samping Musa merasa kurang berhasil dengan pencapaiannya, juga karena rasa sayang pada umatnya. Mengapa tidak bisa membimbing mereka lebih maksimal.
Syaikh Musa Lasyin, dengan mengutip ucapan Ibnu Abi Jamrah dalam Fathul Mun’im Syarah Shahih Muslim mengatakan, sesungguhnya Allah telah menjadikan rasa welas asih (rahmah) pada hati nabi-nabi-Nya, melebihi yang Ia berikan kepada hamba selain mereka. Oleh karena itu, Musa menangis karena rasa sayang terhadap umatnya.
Ia telah dikaruniai usia yang panjang melebihi usia Nabi Muhammad. Begitu pun umatnya lebih panjang usianya dibanding usia umat Muhammad. Tapi Nabi Musa gagal membina umatnya. Umatnya kalah banyak dibanding umat Muhammad. Sudah kalah banyak, kalah taat pula. Sesal Musa.
Baca juga: Libur Isra Mikraj dan Nyepi, ASN Dilarang ke Luar Kota
Syaikh Badruddin Ahmad al-Aini melanjutkan, Musa menangis bukan karena hasud. Na’uzdu billah! Di alam itu tidak ada lagi sifat hasud bagi tiap-tiap orang Mukmin, terlebih hamba pilihan Allah.
Musa hanya merasa menyesal karena tidak bisa meraih pahala yang seharusnya bisa mengangkat derajatnya di sisi Allah Swt. Banyaknya kesalahan yang diperbuat umatnya, mengakibatkan Musa tidak bisa meraih pahala itu.
Kedudukan setiap Nabi di sisi Allah dipengaruhi oleh pahala umat yang mengikutinya.
"Dalam kenyataannya, jumlah umat Nabi Musa kalah banyak dengan jumlah umat Nabi Muhammad, padahal masa umat Nabi Musa jauh lebih panjang dibanding masa umat Nabi Muhammad SAW,” ujar Syaikh Badruddin Ahmad al-Aini.
Salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada nabi-nabinya adalah besarnya rasa kasih sayang yang dimiliki setiap nabi-Nya. Jadi, di samping Musa merasa kurang berhasil dengan pencapaiannya, juga karena rasa sayang pada umatnya. Mengapa tidak bisa membimbing mereka lebih maksimal.
Syaikh Musa Lasyin, dengan mengutip ucapan Ibnu Abi Jamrah dalam Fathul Mun’im Syarah Shahih Muslim mengatakan, sesungguhnya Allah telah menjadikan rasa welas asih (rahmah) pada hati nabi-nabi-Nya, melebihi yang Ia berikan kepada hamba selain mereka. Oleh karena itu, Musa menangis karena rasa sayang terhadap umatnya.
(mhy)
Lihat Juga :