Amalan Malam Nisfu Syaban, Jangan Lupa Baca Yasin 3 Kali
Rabu, 24 Maret 2021 - 14:52 WIB
loading...
A
A
A
Seorang dari mereka itu berkata: "Ya Allah, saya mempunyai dua orang tua yang lanjut usianya dan saya tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga ataupun hamba sahaya. Kemudian pada suatu hari amat jauhlah saya mencari kayu (daun-daunan untuk makanan ternak). Saya belum lagi pulang pada kedua orang tua itu sampai mereka tertidur. Selanjutnya sayapun terus memerah minuman untuk keduanya itu dan keduanya saya temui telah tidur. Saya enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan minuman kepada seseorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Seterusnya saya tetap dalam keadaan menantikan bangun mereka itu terus-menerus dan gelas itu tetap pula di tangan saya, sehingga fajarpun menyingsing, anak-anak kecil sama menangis karena kelaparan dan mereka ini ada di dekat kedua kaki saya. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka minum. "Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang demikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keridhaan-Mu, maka lapanglah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutup ini." Batu besar itu tiba-tiba membuka sedikit, tetapi mereka belum dapat keluar dari gua.
Yang lain berkata: "Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai seorang sepupu wanita yang merupakan orang tercinta bagiku dari sekalian manusia (dalam sebuah riwayat disebutkan, saya mencintainya sebagai kecintaan orang-orang lelaki yang amat sangat kepada wanita) kemudian saya menginginkan dirinya, tetapi ia menolak kehendakku, sehingga pada suatu tahun ia memperoleh kesukaran. Ia pun mendatangi tempatku, lalu saya memberikan 120 Dinar padanya dengan syarat ia menyendiri antara tubuhnya dan antara tubuhku (maksudnya suka dikumpuli dalam 1 tempat tidur). Setelah saya dapat menguasai dirinya (dalam sebuah riwayat lain disebutkan, Setelah saya dapat duduk di antara kedua kakinya) sepupuku itu lalu berkata, "Takutlah engkau pada Allah dan jangan membuka cincin (maksudnya cincin adalah kemaluan). Maka jangan melenyapkan kegadisanku melainkan dengan perkawinan yang sah. Lalu aku pun meninggalkannya, sedangkan ia adalah amat tercinta bagiku dari seluruh manusia dan emas yang saya berikan itu saya biarkan dimilikinya. "Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang demikian dengan niat mengharapkan keridhaan-Mu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kami hadapi ini. Batu besar itu kemudian membuka lagi, hanya saja mereka masih belum dapat keluar dari dalamnya."
Orang ketiga berkata: "Ya Allah, saya mengupah beberapa kaum buruh dan semuanya telah kuberikan upahnya masing-masing, kecuali seorang lelaki. Ia meninggalkan upahnya dan terus pergi. Upahnya itu saya kembangkan sehingga bertambah banyaklah hartanya tadi. Sesudah beberapa waktu, pada suatu hari ia mendatangi saya, kemudian berkata, 'Hai hamba Allah, tunaikanlah sekarang upahku yang dulu itu. Saya berkata, Semua yang engkau lihat ini adalah berasal dari hasil upahmu itu, baik yang berupa unta, lembu dan kambing dan juga hamba sahaya. Ia berkata, Hai hamba Allah, janganlah engkau memperolok-olokkan aku. Saya menjawab, saya tidak memperolok-olokkan engkau. Kemudian orang itu pun mengambil segala yang dimilikinya. Semua digiring dan tidak seekorpun yang ditinggalkan. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang demikian ini dengan niat mengharapkan keridhaan-Mu, maka lapangkanlah kami dari kesukaran yang sedang kami hadapi ini." Batu besar itu lalu membuka lagi dan merekapun keluar dari gua itu". (Muttafaq 'Alaih)
Apa yang dilakukan oleh para ulama sejak dahulu di Negeri Syam dan di beberapa negeri lainnya dalam menghidupkan malam Nisfu Sya'ban sudah cukup menjadi hujjah dan contoh bagi umat Islam saat ini.
Wallahu A'lam
Baca Juga: Amalan Malam Nisfu Sya'ban, Insya Allah Malam Senin 28 Maret 2021
Yang lain berkata: "Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai seorang sepupu wanita yang merupakan orang tercinta bagiku dari sekalian manusia (dalam sebuah riwayat disebutkan, saya mencintainya sebagai kecintaan orang-orang lelaki yang amat sangat kepada wanita) kemudian saya menginginkan dirinya, tetapi ia menolak kehendakku, sehingga pada suatu tahun ia memperoleh kesukaran. Ia pun mendatangi tempatku, lalu saya memberikan 120 Dinar padanya dengan syarat ia menyendiri antara tubuhnya dan antara tubuhku (maksudnya suka dikumpuli dalam 1 tempat tidur). Setelah saya dapat menguasai dirinya (dalam sebuah riwayat lain disebutkan, Setelah saya dapat duduk di antara kedua kakinya) sepupuku itu lalu berkata, "Takutlah engkau pada Allah dan jangan membuka cincin (maksudnya cincin adalah kemaluan). Maka jangan melenyapkan kegadisanku melainkan dengan perkawinan yang sah. Lalu aku pun meninggalkannya, sedangkan ia adalah amat tercinta bagiku dari seluruh manusia dan emas yang saya berikan itu saya biarkan dimilikinya. "Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang demikian dengan niat mengharapkan keridhaan-Mu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kami hadapi ini. Batu besar itu kemudian membuka lagi, hanya saja mereka masih belum dapat keluar dari dalamnya."
Orang ketiga berkata: "Ya Allah, saya mengupah beberapa kaum buruh dan semuanya telah kuberikan upahnya masing-masing, kecuali seorang lelaki. Ia meninggalkan upahnya dan terus pergi. Upahnya itu saya kembangkan sehingga bertambah banyaklah hartanya tadi. Sesudah beberapa waktu, pada suatu hari ia mendatangi saya, kemudian berkata, 'Hai hamba Allah, tunaikanlah sekarang upahku yang dulu itu. Saya berkata, Semua yang engkau lihat ini adalah berasal dari hasil upahmu itu, baik yang berupa unta, lembu dan kambing dan juga hamba sahaya. Ia berkata, Hai hamba Allah, janganlah engkau memperolok-olokkan aku. Saya menjawab, saya tidak memperolok-olokkan engkau. Kemudian orang itu pun mengambil segala yang dimilikinya. Semua digiring dan tidak seekorpun yang ditinggalkan. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang demikian ini dengan niat mengharapkan keridhaan-Mu, maka lapangkanlah kami dari kesukaran yang sedang kami hadapi ini." Batu besar itu lalu membuka lagi dan merekapun keluar dari gua itu". (Muttafaq 'Alaih)
Apa yang dilakukan oleh para ulama sejak dahulu di Negeri Syam dan di beberapa negeri lainnya dalam menghidupkan malam Nisfu Sya'ban sudah cukup menjadi hujjah dan contoh bagi umat Islam saat ini.
Wallahu A'lam
Baca Juga: Amalan Malam Nisfu Sya'ban, Insya Allah Malam Senin 28 Maret 2021
(rhs)
Lihat Juga :