Sayyidah Shafiyah binti Huyai, Istri Rasulullah Keturunan Nabi Harun

Kamis, 21 Mei 2020 - 14:43 WIB
loading...
A A A
Dihyah pun datang membawa Shafiyah. Saat Nabi melihat Shafiyah, beliau berkata pada Dihyah, “Pilihlah tawanan wanita selain dirinya.”

Dahiyyah pergi tanpa membawa pulang Shafiyyah, dia memilih tahanan yang lain untuk dijadikan budak. Sementara Rasulullah mempunyai bagian harta perang, yang biasanya dikenal dengan istilah shafi (jarahan perang yang dipilih pemimpin untuk dirinya). Rasulullah bebas dalam memilih, apakah ingin memilih budak laki-laki, budak perempuan, atau kuda, selama belum melebihi seperlima.

Dalam deretan tawanan itu ada juga Kinanah ibn Rabi', suami Shafiyah binti Huyai, yang saat itu menjadi penanggung jawab harta simpanan Bani Nadhir. Akhirnya ia diseret untuk menghadap Rasulullah SAW. Beliau menanyakan kepadanya tentang gudang kekayaan Khaibar itu, tetapi ia tidak mau memberitahukan di mana gudang itu berada. Ia bersikeras mengatakan bahwa dirinya tidak memegang rahasia tentang harta simpanan tersebut.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW pun bersabda, "Jika ternyata kami menemukannya padamu, akankah kami membunuhmu?" Kinanah menjawab, "Ya."

Tatkala Rasulullah menemukan bahwa harta itu memang disimpan di rumahnya, beliau mengirim Kinanah kepada Muhammad ibn Salamah agar dihukum pancung sebagai balasan untuk saudara Muhammad, Mahmud ibn Salamah, yang dibunuh oleh kaum Yahudi dalam perang tersebut.

Para wanita Qumush pun digiring sebagai tawanan. Rombongan itu dipimpin oleh Sayyidah Shafiyah ditemani oleh seorang saudari sepupunya. Mereka digiring oleh sang muazin Rasulullah, Bilal ibn Rabbah r.a. Bilal membawa para tawanan melewati medan pertempuran yang telah berakhir.

Medan itu dipenuhi oleh mayat orang-orang Yahudi yang terbunuh. Saudari sepupu Shafiyah itu pun menjerit dan histeris melihat pemandangan tersebut. la menutup wajahnya, lalu ia lumurkan debu di kepala sambil menjerit sekeras-sekerasnya, meratapi para laki-laki kabilahnya. Sementara itu, Sayyidah Shafiyah hanya terdiam, tetap tenang, dan tampak bersedih. Namun, ia sama sekali tidak bersuara atau meratap sedikit pun.

Sayyidah Shafiyah dan saudarinya dibawa menghadap Rasulullah SAW. Saat itu ketenangan menyelimuti wajah Sayyidah Shafiyah yang cantik jelita. Sementara itu, rambut saudari sepupunya tampak tidak karuan dan berlumuran debu dengan baju yang tercabik-cabik. Ia tidak henti-hentinya meratap, menjerit, dan menangis di hadapan Rasulullah SAW

Selanjutnya, Rasulullah mendekati Shafiyah dan memandangnya dengan penuh simpati dan belas kasih. Beliau bersabda, "Wahai Bilal, apakah engkau sudah kehilangan belas kasih hingga mengajak kedua wanita ini melewati jasad para laki-laki mereka yang terbunuh?"

Dua Pilihan
Sayyidah Shafiyah adalah seorang wanita tawanan yang bertakwa, bersih dan suci. Ialah wanita yang memiliki dua mata yang berkaca-kaca, kejernihan yang paling jernih.

Rasulullah memberikan pilihan kepada Sayyidah Shafiyah, apakah ingin dimerdekakan, kemudian akan dikembalikan kepada kaumnya yang masih hidup di Khaibar, ataukah ingin masuk Islam kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Sayyidah Shafiyah memilih untuk masuk Islam dan menikah dengan beliau, dengan maskawin kemerdekaannya.

Pada saat itu, Sayyidah Shafiyah berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, saya memeluk Islam dan saya sudah percaya kepadamu sebelum engkau mengajak saya. Saya sudah sampai pada perjalananmu. Saya tidak punya keperluan kepada orang-orang Yahudi. Saya sudah tidak mempunyai bapak, dan tidak mempunyai saudara yang merdeka. Lalu untuk apa saya kembali kepada kaumku?”

Dalam suatu hadits dari Anas disebutkan bahwa saat membawa Shafiyah binti Huyai, Rasulullah SAW bertanya kepadanya: "Apakah engkau mau menikah denganku?" Shafiyah menjawab, "Wahai Rasulullah, ketika masih menjadi musyrik pun aku telah mengharapkan hal itu, apalagi jika Allah memberiku kesempatan untuk itu dalam Islam."

Rasulullah SAW pun menunggu Shafiyah sampai suci dari haid. Setelah suci, beliau memerdekakan dan menikahinya. Kemerdekaannya itulah yang menjadi mas kawin bagi Shafiyah.

Setelah Rasulullah menikahi Shafiyah, beliau menunggu di Khaibar hingga Shafiyah menjadi tenang. Setelah itu, beliau memboncengkan Shafiyah menuju sebuah rumah di ujung Khaibar yang jaraknya kurang lebih 6 mil dari Khaibar. Rasulullah bermaksud menjadikan Shafiyah sebagai pengantin, tetapi Shafiyah menolak dan tidak mau jika Rasulullah melakukannya.

Penolakan dan keengganan Shafiyah memberatkan Rasulullah. Setelah itu, beliau kembali untuk menyiapkan pasukan dan segera kembali ke Madinah al-Munawwarah. Dalam perjalanan itu beliau melewati daerah Shahba. Selanjutnya, beliau perintahkan pasukan agar berhenti dan turun untuk sekadar istirahat di tempat tersebut. Saat itulah, beliau melihat Sayyidah Shafiyah tampak sudah siap menjadi pengantin.

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Ummu Sulaim binti Malhan atau Ummu Anas bin Malik mendatangi Shafiyah lalu menyisir rambutnya, merias, dan memakaikan wewangian. Shafiyah pun muncul sebagai seorang pengantin yang cantik dan menawan hingga memesona seluruh mata yang memandang. Bahkan, Ummu Sinan al-Aslamiyah mengatakan bahwa dirinya tidak pernah melihat wanita yang lebih cerah daripada Shafiyah.

Madinah al-Munawwarah begitu bersinar oleh sukacita atas pernikahan Rasulullah SAW. Terselenggaralah walimatul 'ursy (perjamuan makan dalam resepsi pernikahan) yang sangat ramai. Semua orang menikmati suguhan Khaibar yang lezat hingga kenyang. Setelah itu, Rasulullah SAW menemui Sayyidah Shafiyah dengan hati yang masih menyisakan sedikit duka dan tekanan atas penolakan Sayyidah Shafiyah sebelumnya untuk menjadi pengantin beliau.

Sayyidah Shafiyah binti Huyai, sang pengantin yang cantik itu, menyambut Rasulullah dengan wajah berseri.

Saat memandangnya, Nabi melihat ada bekas lebam di wajah istrinya itu. Beliau bertanya, “Apa ini?”

Sayyidah Shafiyah bercerita kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, pada malam pengantinku dengan Kinanah ibn Rabi', aku bermimpi melihat purnama jatuh ke pangkuanku. Ketika bangun dari tidur, aku ceritakan mimpiku itu kepada Kinanah. Dengan marah ia berkata: 'Hal itu terjadi tiada lain karena engkau mengharapkan si raja Hijaz, Muhammad! la pun menampar wajahku dan hingga kini bekas tamparan itu masih ada di wajahku".

"Demi Allah, saat itu aku sama sekali tidak menyebut-nyebut dirimu". (Ibnul Qayyim: Zadul Ma’ad, 3/291)

Di luar tenda, yang di dalamnya Rasulullah sedang berdua bersama Shafiyah, salah seorang kecintaan Rasulullah SAW, seorang laki-laki dari Anshar yang bernama Abu Ayyub Khalid ibn Zaid berjaga sepanjang malam demi kenyamanan Rasulullah. Pedangnya tidak pernah lepas dari tangan.

Ia menjaga tenda Rasulullah tanpa sepengetahuan beliau. Ketika pagi merekah, Rasulullah mendengar ada suara gerakan di depan tenda. Beliau pun keluar untuk memeriksa,dan ternyata Abu Ayyub berada di luar sana.

Beliau bersabda, "Ada apa denganmu, wahai Abu Ayyub?" Abu Ayyub menjawab, "Wahai Rasulullah, aku mengkhawatirkan dirimu terhadap wanita ini karena ia telah membunuh ayah, suami, dan kaumnya sendiri. Ia adalah wanita yang masih dekat dengan kekufuran hingga aku mengkhawatirkanmu darinya."

Sayyidah Aisyah Cemburu
Rasulullah dan para sahabat sudah tiba di Madinah al-Munawwarah. Dalam sebuah hadis, Anas r.a. menceritakan, "Aku melihat unta yang berhenti kemudian Shafiyah turun dan Rasulullah bangkit untuk menghijabnya. Para wanita muslimah melihat hal itu lalu mereka berdoa: 'Semoga Allah menjauhkan wanita Yahudi itu!' Rasulullah SAW tidak membawa sang pengantin baru menemui para istri beliau. Para pelayan pun keluar untuk melihat Shafiyah dan mengumpatnya."

Rasulullah membawa Shafiyah tinggal di rumah seorang sahabat, Faritsah ibn an-Nu'man. Para wanita Anshar mulai berkumpul di sekitar kediaman Haritsah untuk melihat kecantikan Shafiyah dan di antara mereka yang keluar itu adalah Aisyah.

Baca juga: Pernikahan Tak Lazim Dua Kali Sayyidah Zainab bin Jahsy

Rasulullah melihat Aisyah dan menunggunya sampai keluar. Ketika bertemu dengan Aisyah, beliau memegang bajunya dan berbicara dengan bergurau. Sambil tersenyum, beliau bertanya, "Apa yang engkau lihat wahai wanita berambut pirang?" Aisyah r.a. menjawab, "Aku melihat seorang wanita Yahudi." Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah engkau berkata demikian karena Shafiyah telah masuk Islam dan menjadi muslimah yang baik."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Rasulullah SAW...
Kisah Rasulullah SAW Menyembelih 100 Unta setelah Melaksanakan Haji Wada
Rasulullah SAW Pernah...
Rasulullah SAW Pernah Menunda Ibadah Haji Hingga 4 Tahun, Begini Kisahnya!
Kisah Baginda Nabi Muhammad...
Kisah Baginda Nabi Muhammad SAW Ketika Bertemu Lailatul Qadar
Kisah Rasulullah SAW...
Kisah Rasulullah SAW yang Melipatgandakan Sedekah di Bulan Ramadan
Kisah Sayyidah Hafshah...
Kisah Sayyidah Hafshah : Istri yang Pernah Ditalak Satu oleh Rasulullah SAW
Kisah Lelaki Miskin...
Kisah Lelaki Miskin dan Hadiah Anggurnya untuk Rasulullah SAW
Rekomendasi
Keajaiban Sungai di...
Keajaiban Sungai di Bawah Laut: Bukti Nyata Kekuasaan Allah dalam Surah Al-Furqan Ayat 53
Ausralia Sebut Kepulauan...
Ausralia Sebut Kepulauan Cocos Semakin Terancam Hilang Ditelan Ombak
Tertua di Dunia, Seni...
Tertua di Dunia, Seni Lukis Sulawesi Diklaim Dibuat oleh Nenek Moyang Manusia
Artikel Terkini
LGBT dalam Pandangan...
LGBT dalam Pandangan Islam: Dalil Al-Qur'an, Hadis, dan Solusi Menurut Syariat
Makna Basmalah dan Tafsirnya...
Makna Basmalah dan Tafsirnya dalam Islam, Ini Arti Bismillahirrahmanirrahim
Asal Usul Bacaan Basmalah,...
Asal Usul Bacaan Basmalah, Ternyata Pertama Kali Ditulis oleh Nabi Sulaiman AS
Dahsyatnya Bismillah,...
Dahsyatnya Bismillah, Doa Perisai Diri yang Ampuh dari Segala Kejahatan dan Gangguan
Keutamaan Bismillah...
Keutamaan Bismillah yang Jarang Diketahui, Dosa Diampuni dan Amal Kebaikan Dilipatgandakan
Menag Nasaruddin Umar,...
Menag Nasaruddin Umar, Andra Soni, dan Saleh Husin Hadiri MTQ Imam Masjid Se-Banten di Masjid Raya Baitul Mukhtar BSD
Infografis
Berjasa dalam Penemuan...
Berjasa dalam Penemuan Obat Kanker, 3 Ilmuwan Meraih Nobel Kimia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved