Tafsir Al-Baqarah, Ada 4 Ciri dan Karakteristik Orang Kafir
Sabtu, 24 April 2021 - 08:05 WIB
loading...
A
A
A
1. Kafir Inkar
Seseorang yang tidak mengakui dan mempercayai keberadaan Allah Ta'ala. Contohnya: penganut paham Atheis.
2. Kafir Juhd
Seseorang yang secara zahirnya tidak mengakui dan mengimani adanya Allah, dan tidak pula mau mengakui secara lisannya, namun secara bathinnya dia masih mengakui kebenaran adanya Allah. Contohnya: orang-orang musyrikin Makkah yang menentang ketauhidan Allah, namun di dalam hati mereka masih mempercayai adanya kebenaran Islam, namun mereka tidak mau mengakuinya secara terang-terangan kebenaran tersebut secara lisan.
3. Kafir Inad
Seseorang yang secara zahirnya tidak beriman kepada Allah, namun secara bathinnya dia telah beriman kepada Allah, bahkan mengakui kebenaran Islam dengan lisannya. Akan tetapi dia masih enggan untuk memeluk agama Islam. Contoh: Abu Thalib; paman Nabi yang kafir secara zahir, namun beriman secara bathinnya.
4. Kafir Ni'mat
Orang yang tidak mau mensyukuri nikmat Allah, sedangkan dia masih beriman secara zahir dan bathinnya kepada Allah.
Adapun yang dimaksud pada ayat di atas, tentulah orang-orang yang termasuk dalam kategori kafir Inkar, kafir Juhd atau kafir Inad yang sudah tidak bisa lagi diharapkan keimanannya selama-lamanya. Hal tersebut disebabkan mereka sendiri yang telah menutup dan mengunci hati, pendengaran dan pandangan mereka dalam melihat sebuah kebenaran cahaya Islam, sehingga kemudian Allah pun menutup dan mengunci hati serta indera mereka dari rahmat dan hidayah yang datang.
Sedangkan kata "Khatama" bermakna menutup atau mengunci. Nabi Muhammad SAW diberikan gelar sebagai "Khataman Nabiyyin" sebab beliau merupakan penutup dari semua Nabi. Stempel dinamakan "Khatam" sebagai fungsinya sebagai pengesah dari sebuah surat atau stempel.
Kata "Gisyâwah" bermakna penutup botol. Kata ini digunakan untuk memberikan kesan betapa rapatnya upaya orang-orang yang kafir mengunci hati, pendengaran dan penglihatan mereka dari kebenaran cahaya hidayah Islam, sehingga seakan-akan tak ada celah untuk memasukinya.
Wallahu A'lam
Baca Juga: Sejarah Ilmu Tafsir Al-Qur'an, Pengertian dan Jenisnya (2)
Seseorang yang tidak mengakui dan mempercayai keberadaan Allah Ta'ala. Contohnya: penganut paham Atheis.
2. Kafir Juhd
Seseorang yang secara zahirnya tidak mengakui dan mengimani adanya Allah, dan tidak pula mau mengakui secara lisannya, namun secara bathinnya dia masih mengakui kebenaran adanya Allah. Contohnya: orang-orang musyrikin Makkah yang menentang ketauhidan Allah, namun di dalam hati mereka masih mempercayai adanya kebenaran Islam, namun mereka tidak mau mengakuinya secara terang-terangan kebenaran tersebut secara lisan.
3. Kafir Inad
Seseorang yang secara zahirnya tidak beriman kepada Allah, namun secara bathinnya dia telah beriman kepada Allah, bahkan mengakui kebenaran Islam dengan lisannya. Akan tetapi dia masih enggan untuk memeluk agama Islam. Contoh: Abu Thalib; paman Nabi yang kafir secara zahir, namun beriman secara bathinnya.
4. Kafir Ni'mat
Orang yang tidak mau mensyukuri nikmat Allah, sedangkan dia masih beriman secara zahir dan bathinnya kepada Allah.
Adapun yang dimaksud pada ayat di atas, tentulah orang-orang yang termasuk dalam kategori kafir Inkar, kafir Juhd atau kafir Inad yang sudah tidak bisa lagi diharapkan keimanannya selama-lamanya. Hal tersebut disebabkan mereka sendiri yang telah menutup dan mengunci hati, pendengaran dan pandangan mereka dalam melihat sebuah kebenaran cahaya Islam, sehingga kemudian Allah pun menutup dan mengunci hati serta indera mereka dari rahmat dan hidayah yang datang.
Sedangkan kata "Khatama" bermakna menutup atau mengunci. Nabi Muhammad SAW diberikan gelar sebagai "Khataman Nabiyyin" sebab beliau merupakan penutup dari semua Nabi. Stempel dinamakan "Khatam" sebagai fungsinya sebagai pengesah dari sebuah surat atau stempel.
Kata "Gisyâwah" bermakna penutup botol. Kata ini digunakan untuk memberikan kesan betapa rapatnya upaya orang-orang yang kafir mengunci hati, pendengaran dan penglihatan mereka dari kebenaran cahaya hidayah Islam, sehingga seakan-akan tak ada celah untuk memasukinya.
Wallahu A'lam
Baca Juga: Sejarah Ilmu Tafsir Al-Qur'an, Pengertian dan Jenisnya (2)
(rhs)
Lihat Juga :