Hudzaifah ibnul Yaman: Jago Membaca Tabiat dan Airmuka Seseorang
Sabtu, 08 Mei 2021 - 04:50 WIB
loading...
A
A
A
la bergaul dengan Rasullulah SAW dan sungguh, tak ada lagi tempat baik di mana bakat Hudzaifah ini tumbuh subur dan berkembang sebagai halnya di arena ini, yakni dalam pangkuan Agama Islam. Di hadapan Rasulullah SAW dan di tengah-tengah golongan besar Kaum perintis dari sahabat-sahabat Rasulullah SAW.
Bakatnya ini benar-benar tumbuh menurut kenyataan hingga ia berhasil mencapai keahlian dalam membaca tabi'at dan airmuka seseorang. Dalam waktu selintas kilas, ia dapat menebak airmuka dan tanpa susah payah akan mampu menyelidiki rahasia-rahasia yang tersembunyi serta simpanan yang terpendam.
Kemampuannya dalam hal ini telah sampai kepada apa yang diinginkannya, hingga Amirul Mu'minin Umar radhiyallah 'anhu yang dikenal sebagai orang yang penuh dengan inspirasi seorang yang cerdas dan ahli, sering juga mengandalkan pendapat Hudzaifah, begitu pula ketajaman pandangannya dalam memilih tokoh dan mengenali mereka.
Sungguh Hudzaifah radhiyallahu 'anhu telah dikaruniai pikiran jernih, menyebabkannya sampai pada suatu kesimpulan, bahwa dalam kehidupan ini sesuatu yang baik itu adalah yang jelas dan gamblang, yakni bagi orang yang betul-betul menginginkannya. Sebaliknya yang jelek ialah yang gelap atau samar-samar, dan karena itu orang yang bijaksana hendaklah mempelajari sumber-sumber kejahatan ini dan kemungkinan-kemungkinannya.
Demikianlah Hudzaifah radhiyallah 'anhu terus-menerus mempelajari kejahatan dan orang-orang jahat, kemunafikan dan orang-orang munafiq. Berkatalah ia: "Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya”.
Pernah kubertanya:"Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dulu kita berada dalam kejahiliyahan dan diliputi kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan ini. Apakah di balik kebaikan ini ada kejahatan?”
“Ada …" ujar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
"Kemudian apakah setelah kejahatan masih ada lagi kebaikan?” tanyaku pula.
"Memang, tetapi kabur dan bahaya ..."
"Apa bahaya itu?”
"Yaitu segolongan ummat mengikuti sunnah bukan sunnahku, dan mengikuti petunjuk bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu dan laranglah"
“Kemudian setelah kebaikan tersebut masihkah ada lagi kejahatan?” tanyaku pula.
"Masih,” ujar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "yakni para tukang seru di pintu neraka. Barangsiapa menyambut seruan mereka, akan mereka lemparkan ke dalam neraka...!"
Lalu kutanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Ya Rasulallah, apa yang harus saya perbuat bila saya menghadapi hal demikian?”
Bakatnya ini benar-benar tumbuh menurut kenyataan hingga ia berhasil mencapai keahlian dalam membaca tabi'at dan airmuka seseorang. Dalam waktu selintas kilas, ia dapat menebak airmuka dan tanpa susah payah akan mampu menyelidiki rahasia-rahasia yang tersembunyi serta simpanan yang terpendam.
Kemampuannya dalam hal ini telah sampai kepada apa yang diinginkannya, hingga Amirul Mu'minin Umar radhiyallah 'anhu yang dikenal sebagai orang yang penuh dengan inspirasi seorang yang cerdas dan ahli, sering juga mengandalkan pendapat Hudzaifah, begitu pula ketajaman pandangannya dalam memilih tokoh dan mengenali mereka.
Sungguh Hudzaifah radhiyallahu 'anhu telah dikaruniai pikiran jernih, menyebabkannya sampai pada suatu kesimpulan, bahwa dalam kehidupan ini sesuatu yang baik itu adalah yang jelas dan gamblang, yakni bagi orang yang betul-betul menginginkannya. Sebaliknya yang jelek ialah yang gelap atau samar-samar, dan karena itu orang yang bijaksana hendaklah mempelajari sumber-sumber kejahatan ini dan kemungkinan-kemungkinannya.
Demikianlah Hudzaifah radhiyallah 'anhu terus-menerus mempelajari kejahatan dan orang-orang jahat, kemunafikan dan orang-orang munafiq. Berkatalah ia: "Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya”.
Pernah kubertanya:"Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dulu kita berada dalam kejahiliyahan dan diliputi kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan ini. Apakah di balik kebaikan ini ada kejahatan?”
“Ada …" ujar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
"Kemudian apakah setelah kejahatan masih ada lagi kebaikan?” tanyaku pula.
"Memang, tetapi kabur dan bahaya ..."
"Apa bahaya itu?”
"Yaitu segolongan ummat mengikuti sunnah bukan sunnahku, dan mengikuti petunjuk bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu dan laranglah"
“Kemudian setelah kebaikan tersebut masihkah ada lagi kejahatan?” tanyaku pula.
"Masih,” ujar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "yakni para tukang seru di pintu neraka. Barangsiapa menyambut seruan mereka, akan mereka lemparkan ke dalam neraka...!"
Lalu kutanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Ya Rasulallah, apa yang harus saya perbuat bila saya menghadapi hal demikian?”
Lihat Juga :