Hudzaifah ibnul Yaman: Jago Membaca Tabiat dan Airmuka Seseorang
Sabtu, 08 Mei 2021 - 04:50 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
SUATU hari, Penduduk kota Madinah berduyun-duyun keluar rumah untuk menyambut kedatangan wali negeri yang baru diangkat serta dipilih oleh Amirul Mu'minin Umar bin Khattab radhiyallah 'anhu. Pejabat baru ini adalah sahabat Nabi yang saleh dan takwa. Dia juga dikenal sebagai pembebas tanah Irak.
Baca juga: Ketika Khalid bin Walid Harus Memohon Maaf Kepada Ammar bin Yasir
Ketika mereka sedang menunggu rombongan yang hendak datang, tiba-tiba muncullah di hadapan mereka seorang laki-laki dengan wajah berseri-seri. la mengendarai seekor keledai yang beralaskan kain usang. Kedua kakinya teruntai ke bawah. Kedua tangannya memegang roti serta garam, sedang mulutnya sedang mengunyah.
Lelaki bersahaja itu adalah sang wali negeri yang baru itu. Namanya, Hudzaifah ibnul Yaman.
Penduduk Madinah hampir-hampir tak percaya bahwa dialah sang petinggi itu.
Hudzaifah meneruskan perjalanan, di saat orang-orang masih berkerumun dan mengelilinginya. Dan ketika dilihat bahwa mereka menatapnya seolah-olah menunggu amanat, diperhatikannya air muka mereka, lalu katanya:"Jauhilah oleh kalian tempat-tempat fitnah!"
"Di manakah tempat-tempat fitnah itu wahai Abu Abdillah?" tanya mereka.
"Pintu-rumah para pembesar. Seorang di antara kalian masuk menemui mereka dan mengatakan ucapan palsu serta memuji perbuatan baik yang tak pernah mereka lakukan,” jawabnya.
Baca juga: Ammar bin Yasir: Penghuni Surga yang Sempat Menyangka Dirinya Murtad
Suatu pernyataan yang luar biasa di samping sangat mena'jubkan. Dari ucapan yang mereka dengar dari wali negeri yang baru ini, orang-orang segera beroleh kesimpulan bahwa tak ada yang lebih dibencinya tentang apa saja yang terdapat di dunia ini, begitu pun yang lebih hina dalam pandangan matanya daripada kemunafikan. Dan pernyataan ini sekaligus merupakan ungkapan yang paling tepat terhadap kepribadian wali negeri baru ini, serta sistem yang akan ditempuhnya dalam pemerintahan.
Membaca Tabiat dan Airmuka
Hudzaifah ibnu Yaman radhiyallahu 'anhu memasuki arena kehidupan ini dengan bekal tabiat istimewa, antara ciri-cirinya ialah anti kemunafikan, dan mampu melihat jejak dan gejalanya walau tersembunyi di tempat-tempat yang jauh sekali pun.
Semenjak ia bersama saudaranya, Shafwan, menemani bapaknya menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan ketiganya memeluk Islam, sementara Islam menyebabkan wataknya bertambah terang dan cemerlang. Maka sungguh, ia menganutnya itu secara teguh dan suci, serta lurus dan gagah berani, dan dipandangnya sifat pengecut, bohong dan kemunafikan sebagai sifat yang rendah dan hina.
la terdidik di tangan Rasulullah SAW dengan kalbu terbuka tak ubah bagai cahaya subuh, hingga tak suatu pun dari persoalan hidupnya yang tersembunyi. Tak ada rahasia terpendam dalam lubuk hatinya. Seorang yang benar dan jujur, mencintai orang-orang yang teguh membela kebenaran, sebaliknya mengutuk orang-orang yang berbelit-belit dan riya, orang-orang culas bermuka dua.
Baca juga: Abu Musa Al-Asyari: Diberi Allah Seruling Keluarga Daud
Baca juga: Ketika Khalid bin Walid Harus Memohon Maaf Kepada Ammar bin Yasir
Ketika mereka sedang menunggu rombongan yang hendak datang, tiba-tiba muncullah di hadapan mereka seorang laki-laki dengan wajah berseri-seri. la mengendarai seekor keledai yang beralaskan kain usang. Kedua kakinya teruntai ke bawah. Kedua tangannya memegang roti serta garam, sedang mulutnya sedang mengunyah.
Lelaki bersahaja itu adalah sang wali negeri yang baru itu. Namanya, Hudzaifah ibnul Yaman.
Penduduk Madinah hampir-hampir tak percaya bahwa dialah sang petinggi itu.
Hudzaifah meneruskan perjalanan, di saat orang-orang masih berkerumun dan mengelilinginya. Dan ketika dilihat bahwa mereka menatapnya seolah-olah menunggu amanat, diperhatikannya air muka mereka, lalu katanya:"Jauhilah oleh kalian tempat-tempat fitnah!"
"Di manakah tempat-tempat fitnah itu wahai Abu Abdillah?" tanya mereka.
"Pintu-rumah para pembesar. Seorang di antara kalian masuk menemui mereka dan mengatakan ucapan palsu serta memuji perbuatan baik yang tak pernah mereka lakukan,” jawabnya.
Baca juga: Ammar bin Yasir: Penghuni Surga yang Sempat Menyangka Dirinya Murtad
Suatu pernyataan yang luar biasa di samping sangat mena'jubkan. Dari ucapan yang mereka dengar dari wali negeri yang baru ini, orang-orang segera beroleh kesimpulan bahwa tak ada yang lebih dibencinya tentang apa saja yang terdapat di dunia ini, begitu pun yang lebih hina dalam pandangan matanya daripada kemunafikan. Dan pernyataan ini sekaligus merupakan ungkapan yang paling tepat terhadap kepribadian wali negeri baru ini, serta sistem yang akan ditempuhnya dalam pemerintahan.
Membaca Tabiat dan Airmuka
Hudzaifah ibnu Yaman radhiyallahu 'anhu memasuki arena kehidupan ini dengan bekal tabiat istimewa, antara ciri-cirinya ialah anti kemunafikan, dan mampu melihat jejak dan gejalanya walau tersembunyi di tempat-tempat yang jauh sekali pun.
Semenjak ia bersama saudaranya, Shafwan, menemani bapaknya menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan ketiganya memeluk Islam, sementara Islam menyebabkan wataknya bertambah terang dan cemerlang. Maka sungguh, ia menganutnya itu secara teguh dan suci, serta lurus dan gagah berani, dan dipandangnya sifat pengecut, bohong dan kemunafikan sebagai sifat yang rendah dan hina.
la terdidik di tangan Rasulullah SAW dengan kalbu terbuka tak ubah bagai cahaya subuh, hingga tak suatu pun dari persoalan hidupnya yang tersembunyi. Tak ada rahasia terpendam dalam lubuk hatinya. Seorang yang benar dan jujur, mencintai orang-orang yang teguh membela kebenaran, sebaliknya mengutuk orang-orang yang berbelit-belit dan riya, orang-orang culas bermuka dua.
Baca juga: Abu Musa Al-Asyari: Diberi Allah Seruling Keluarga Daud
Lihat Juga :