Rayakan Idul Fitri, Masyarakat Harus Tetap Waspada dan Patuhi Protokol kesehatan
Rabu, 12 Mei 2021 - 16:35 WIB
loading...
A
A
A
”Nah potensi kerumunan itu berbahaya. Oleh karena itu saya pesan, daerah-daerah hijau yang tidak tertular covid tetap menggunakan protokol kesehatan. Tetapi daerah yang orange atau merah yang telah ditetapkan oleh satgas ini sebaiknya salatnya di rumah saja. Untuk apa? Menjaga diri dan keluarga. Kenapa? Karena kita sayang dengan keluarga,” tutur Amirsyah.
Dia berpendapat, saat ini sudah zamannya teknologi, sudah ada teknologi canggih. Dia menyarankan untuk menggunakan teknologi tersebut untuk menyambung silaturahim dan menyapa keluarga.
”Bisa dilakukan silaturahim lewat zoom, silaturahim lewat virtual. Intinya jangan berkumpul dulu untuk sementara, dalam arti kerumunan. Karena itu akan sangat berpotensi untuk membuat kluster baru penyebaran covid. Dan mudah-mudahan ini dapat diikuti oleh masyarakat,” tukasnya.
Dia menghimbau agar semua pihak harus kompak bersama, baik itu masyarakat maupun aparat. Karena menurutnya tidak ada artinya imbauan dan ajakan pemerintah maupun para kiai, para ulama kalau tidak diikuti oleh masyarakat.
Amirsyah juga meminta kepada media agar juga jangan menimbulkan kebingungan di masyarakat. Karena menurutnya, seringkali ada media yang bilang begini kemudian media yang lain bilang begini.
Oleh karena itu dirinya menyarankan agar kita harus memiliki keyakinan diri supaya tidak bingung. ”Ada ainul yaqin, setelah melihat banyak peristiwa kemudian kita yakin bahwa ikhtiar harus kita perkuat untuk mencegah. Jadi jangan ikut ajakan dan imbauan orang yang membuat bingung. Yang kedua ilmu yaqin, dengan ilmu, artinya apa? ada ahil, ada peneliti yang mengatakan tentang bahaya covid dan cara pencegahannya,” tuturnya.
Dia juga mengungkapkan ada tiga hal yang harus dipedomani yaitu wajib iman, jadi keyakinan harus diperkuat. Kemudian wajib aman, jaga diri agar aman jauh dari kerumumna dan yang ketiga wajib imun.
”Nah wajib imun ini kan perlu gizi, gizi ini kan masyarakat harus bergerak, maka itu dilakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Silakan mencari nafkah, tetapi harus menggunakan protokol kesehatan yang ketat,” ujarnya
Dia berpendapat, saat ini sudah zamannya teknologi, sudah ada teknologi canggih. Dia menyarankan untuk menggunakan teknologi tersebut untuk menyambung silaturahim dan menyapa keluarga.
”Bisa dilakukan silaturahim lewat zoom, silaturahim lewat virtual. Intinya jangan berkumpul dulu untuk sementara, dalam arti kerumunan. Karena itu akan sangat berpotensi untuk membuat kluster baru penyebaran covid. Dan mudah-mudahan ini dapat diikuti oleh masyarakat,” tukasnya.
Dia menghimbau agar semua pihak harus kompak bersama, baik itu masyarakat maupun aparat. Karena menurutnya tidak ada artinya imbauan dan ajakan pemerintah maupun para kiai, para ulama kalau tidak diikuti oleh masyarakat.
Amirsyah juga meminta kepada media agar juga jangan menimbulkan kebingungan di masyarakat. Karena menurutnya, seringkali ada media yang bilang begini kemudian media yang lain bilang begini.
Oleh karena itu dirinya menyarankan agar kita harus memiliki keyakinan diri supaya tidak bingung. ”Ada ainul yaqin, setelah melihat banyak peristiwa kemudian kita yakin bahwa ikhtiar harus kita perkuat untuk mencegah. Jadi jangan ikut ajakan dan imbauan orang yang membuat bingung. Yang kedua ilmu yaqin, dengan ilmu, artinya apa? ada ahil, ada peneliti yang mengatakan tentang bahaya covid dan cara pencegahannya,” tuturnya.
Dia juga mengungkapkan ada tiga hal yang harus dipedomani yaitu wajib iman, jadi keyakinan harus diperkuat. Kemudian wajib aman, jaga diri agar aman jauh dari kerumumna dan yang ketiga wajib imun.
”Nah wajib imun ini kan perlu gizi, gizi ini kan masyarakat harus bergerak, maka itu dilakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Silakan mencari nafkah, tetapi harus menggunakan protokol kesehatan yang ketat,” ujarnya
(dam)
Lihat Juga :