Sejarah Munculnya Istilah Halal Bihalal di Indonesia

Jum'at, 14 Mei 2021 - 17:10 WIB
loading...
Sejarah Munculnya Istilah...
Ustaz Miftah el-Banjary, Dai yang juga pakar ilmu linguistik Arab dan Tafsir Al-Quran asal Banjar Kalimantan Selatan. Foto/Ist
A A A
Ustaz DR Miftah el-Banjary
Pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Al-Qur'an,
Pensyarah Kitab Dalail Khairat

Di negara Arab dikenal istilah "Kullu am wa antum bil kheir" atau "Kullu sanah wa antum Thayyibin" yang makna dan artinya sebagai doa, harapan dan tahniah serta ucapan Selamat Hari Raya.

Sedangkan di Indonesia, kita mengenal dua istilah berbahasa Arab "Minal Aidin wal Faidzin" dan "Halal Bihalal". Meski keduanya berbahasa Arab, ternyata kedua istilah tersebut bukanlah istilah yang dikenal di negeri Arab dan dapat dipahami oleh orang-orang Arab.

Seperti istilah Halal Bihalal, misalnya punya sejarah tersendiri yang hanya dikenal di Indonesia, bahkan uniknya istilah ini diciptakan oleh seorang ulama di Indonesia untuk menyebut istilah khusus dari "Silaturahim" yang bertepatan pada momentum hari Raya Ied Fitri.

Halal Bihalal berasal dari akar kata "Halla-Yahillu" yang berarti singgah, memecahkan, melepaskan, menguraikan, mengampuni. Halal Bihalal kini menjadi istilah lain dari silaturrahim. Beda antara keduanya ialah "Halal Bihalal" hanya digunakan untuk mengiringi kepergian bulan suci Ramadhan, sedangkan silaturrahim berlaku secara universal, menerobos batas waktu dan tempat.

Istilah Halal Bihalal muncul sekitar pertengahan Ramadhan pada 1948.Ketika itu, Presiden Soekarno tengah dihadapkan dengan permasalahan disintegrasi bangsa yang kian memanas pasca-pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dan PKI di Madiun. Di tengah situasi pelik itu, para elit politik pada saat itu justru saling bertengkar dan tak mau duduk bersama mencari solusi.

KH Wahab Chasbullah, yang dimintai pendapat oleh Bung Karno, kemudian menyarankan acara silaturrahim di antara elit politik dengan memanfaatkan momentum Idul Fitri. Meski sepakat dengan usulan itu, tapi Bung Karno merasa kurang cocok dengan penggunaan kata silaturahim untuk mendinginkan suhu politik saat itu. Menurutnya, istilah itu terlalu biasa dan harus dicari istilah lain agar pertemuan itu jadi momentum dan mengena bagi para elit politik yang hadir.

Makna Ucapan "Minal Aidin Wal Faizin" berarti saling memaafkan saling menghalalkan KH Wahab Chasbullah kemudian menjelaskan sebuah alur pemikiran yang menjadi kunci pada penemuan istilah 'halal bihalal'. Diawali dengan penjelasan situasi para elit politik yang saling serang dan menyalahkan satu sama lain, KH Wahab menjelaskan hukum saling menyalahkan dalam Islam.

Beliau menyebut bahwa saling menyalahkan adalah dosa dan hukumnya haram. Agar elit politik terlepas dari dosa (haram), maka di antara mereka harus dihalalkan. Caranya, para elit politik harus duduk satu meja, berbicara satu sama lain, saling memaafkan, dan saling menghalalkan.

KH Wahab Chasbullah menyebut acara itu sebagai 'Thalabu Halal bi Thariqin Halal', maksudnya adalah mencari penyelesaian masalah atau keharmonisan hubungan dengan cara memaafkan kesalahan.

Alur pemikiran itu kemudian membawa KH Wahab pada sebuah istilah yang hingga saat ini dikenal luas di Indonesia, yaitu Halal Bihalal. Bung Karno pun menerima baik usulan itu. Saat Idul Fitri tiba, ia mengundang seluruh tokoh politik ke Istana untuk mengikuti acara Halal Bihalal.

Sejak saat itu, acara tatap muka, berbincang-bincang serta saling bersalam-salaman tersebut diikuti oleh instansi pemerintah hingga masyarakat luas hingga saat ini.

Sejak itu, Halal Bihalal menjadi populer dan diterima semua pihak, karena berisi pesan integrasi bangsa. Melalui acara Halal Bihalal jangan lagi ada dendam antara satu sama lain. Lapangkan dada dan hilangkan warna-warni perbedaan lokal di hadapan kebesaran Allah.

Halal Bihalal ialah menjalin dan lebih mempererat kembali silaturrahim antara sesama umat Islam (ukhuwwah Islamiyyah), sesama warga bangsa (ukhuwwah wathaniyyah), dan sesame umat manusia (ukhuwwah basyariyyah).

Mari kita membuktikan bahwa amaliah Ramadhan kita berhasil meraih predikat "Mabrur" dan "Mabruk" dengan mengubah perilaku kita yang kurang baik menjadi lebih baik. Insya Allah.

Baca Juga: Kisah Keluarga Rasulullah Makan Gandum Basi di Hari Idul Fitri
(rhs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Apakah Tradisi Halal...
Apakah Tradisi Halal Bilhalal Sudah Ada di Zaman Nabi Muhammad SAW?
Halalbilhalal dalam...
Halalbilhalal dalam Al Quran: Tak Ada Alasan untuk Bilang Tiada Maaf Bagimu
6 Hal yang Harus Diperhatikan...
6 Hal yang Harus Diperhatikan saat Berjabat Tangan, Simak Ya!
3 Doa Halal Bihalal...
3 Doa Halal Bihalal Idulfitri 2025, Yuk Amalkan!
Idulfitri: Saling Memaafkan...
Idulfitri: Saling Memaafkan dan Melapangkan Dada, Jabat Tangan Membuka Lembaran Baru
Ayat-Ayat Al-Quran tentang...
Ayat-Ayat Al-Quran tentang Halalbihalal
Rekomendasi
Cuaca Ekstrem, Hujan...
Cuaca Ekstrem, Hujan Deras Melanda Wilayah Makkah
4 Fosil Paling Lengkap...
4 Fosil Paling Lengkap yang Pernah Ditemukan Di Dunia
Teliti Bencana Kebakaran...
Teliti Bencana Kebakaran Hutan, Ilmuwan Temukan Keajaiban pada Pohon
Artikel Terkini
Bacaan Niat 3 Jenis...
Bacaan Niat 3 Jenis Puasa Sunnah Muharram, Harian, Tasua dan Asyura
Puasa Asyura 2026: Jadwal,...
Puasa Asyura 2026: Jadwal, Dalil, dan Keutamaan Besarnya Menurut Hadis Nabi
Peristiwa di Bulan Muharram...
Peristiwa di Bulan Muharram : Bahtera Nabi Nuh AS Berlabuh setelah 150 Tahun Terombang-ambing Banjir
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
Bolehkah Menggabungkan...
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Sunnah?
Tahun Baru Islam 1448...
Tahun Baru Islam 1448 H Jadi Momentum Kebangkitan Umat Islam Hadapi Tantangan Global
Infografis
7 Masjid Tua di Jakarta...
7 Masjid Tua di Jakarta yang Ikonik dan Sarat Sejarah Islam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved