Isu Palestina, Hentikan Mengemis! Saatnya Dunia Islam Bersatu
Selasa, 18 Mei 2021 - 09:18 WIB
loading...
A
A
A
Pertanyaannya adalah kenapa Amerika begitu konsisten membela Israel? Jawabannya jelas dan bukan hal baru. Karena Pemimpin politik sebuah negara akan bersikap, termasuk dalam mengambil kebijakan, berdasarkan kepada realita politik dan dinamika publik dalam negeri.
Kita mengenal bahwa sejak lama politik dalam negeri Amerika dan kebijakannya dikuasai oleh para pemilik modal. Dan ini realita di mana negara. Keuangan memang maha kuasa dalam mengendalikan wajah perpolitikan negara itu. Bahkan sering menjadikan para elit politik nampak seperti aneh, bahkan tidak rasional, karena harus mengikut kepada kepentingan sang penguasa tersembunyi (hidden power) itu yang seolah menentang akal sehat manusia.
Dalam konteks inilah Amerika dan Pemimpin politiknya harus dipahami. Bahwa realita dinamika sosial politik memang dikuasai oleh segmen masyarakat tertentu karena "keuangan yang maha berkuasa" tadi itu.
Bagi kami masyarakat Muslim di Amerika hal ini menjadi catatan penting dalam kerangka dakwah kami. Bahwa perjuangan dakwah di Amerika bukan sekedar menambah jumlah Muslim secara kuantitas. Tapi bagaimana melakukan gebrakan sehingga ke depan dinamika sosio politi itu dapat berubah. Tentu sangat tidak mudah. Selain karena semua jembatan pembentukan persepsi sebagai jalan merubah tatanan masyarakat masih dikuasai oleh segmen masyarakat yang dimaksud. Media salah satunya yang terpenting.
Tapi poinnya adalah jangan terlalu besar harap kepada Amerika ketika telah masuk ke ranah Palestina-Israel. Walaupun Amerika adalah negara super power dan di mana-mana mengkampanyekan demokrasi, kebebasan dan HAM, Amerika masih berada di bawah tekanan kepentingan domestik yang dikuasai oleh segmen masyarakat tertentu.
Hentikan Mengemis!
Karenanya untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina hentikan mengemis dari negara-negara non Muslim, termasuk Amerika. Umat ini secara mendasar diingatkan: "Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib sebuah kaum hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka".
Pada tataran inilah Palestina tidak akan mendapatkan hak-haknya kecuali ada dua hal mendasar yang segera dilakukan.
Pertama, bangsa Palestina sendiri harus segera kembali bersatu. Perpecahan bangsa Palestina ke berbagai kepingan menjadikannya begitu mudah diambrukkan. Fatah dan Hamas adalah dua kelompok dominan yang tidak pernah menyatu. Dan karenanya begitu mudah bagi Israel untuk melemahkan di tengah kelemahan yang telah ada.
Dari tahun ke tahun, bahkan itulah perjalanan sejarah bangsa Palestina, keluatannya semata ada pada kekuatan emosi. Ratusan bahkan ribuan roket yang ditembakkan ke arah Israel hanya menjadi justifikasi bagi Israel untuk semakin membumi hanguskan bangsa Palestina. Sehingga realita mengatakan bahwa dari tahun ke tahun bumi Palestina semakin terkikis.
Dan karenanya persatuan bangsa Palestina harus diwujudkan. Ini termasuk persatuan mereka pada tataran perjuangan diplomasi. Di Jakarta saja Kedutaan Palestina hanya mewakili faksi Fatah. Sehingga Hamas harus punya kantor Perwakilan sendiri.
Kita mengenal bahwa sejak lama politik dalam negeri Amerika dan kebijakannya dikuasai oleh para pemilik modal. Dan ini realita di mana negara. Keuangan memang maha kuasa dalam mengendalikan wajah perpolitikan negara itu. Bahkan sering menjadikan para elit politik nampak seperti aneh, bahkan tidak rasional, karena harus mengikut kepada kepentingan sang penguasa tersembunyi (hidden power) itu yang seolah menentang akal sehat manusia.
Dalam konteks inilah Amerika dan Pemimpin politiknya harus dipahami. Bahwa realita dinamika sosial politik memang dikuasai oleh segmen masyarakat tertentu karena "keuangan yang maha berkuasa" tadi itu.
Bagi kami masyarakat Muslim di Amerika hal ini menjadi catatan penting dalam kerangka dakwah kami. Bahwa perjuangan dakwah di Amerika bukan sekedar menambah jumlah Muslim secara kuantitas. Tapi bagaimana melakukan gebrakan sehingga ke depan dinamika sosio politi itu dapat berubah. Tentu sangat tidak mudah. Selain karena semua jembatan pembentukan persepsi sebagai jalan merubah tatanan masyarakat masih dikuasai oleh segmen masyarakat yang dimaksud. Media salah satunya yang terpenting.
Tapi poinnya adalah jangan terlalu besar harap kepada Amerika ketika telah masuk ke ranah Palestina-Israel. Walaupun Amerika adalah negara super power dan di mana-mana mengkampanyekan demokrasi, kebebasan dan HAM, Amerika masih berada di bawah tekanan kepentingan domestik yang dikuasai oleh segmen masyarakat tertentu.
Hentikan Mengemis!
Karenanya untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina hentikan mengemis dari negara-negara non Muslim, termasuk Amerika. Umat ini secara mendasar diingatkan: "Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib sebuah kaum hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka".
Pada tataran inilah Palestina tidak akan mendapatkan hak-haknya kecuali ada dua hal mendasar yang segera dilakukan.
Pertama, bangsa Palestina sendiri harus segera kembali bersatu. Perpecahan bangsa Palestina ke berbagai kepingan menjadikannya begitu mudah diambrukkan. Fatah dan Hamas adalah dua kelompok dominan yang tidak pernah menyatu. Dan karenanya begitu mudah bagi Israel untuk melemahkan di tengah kelemahan yang telah ada.
Dari tahun ke tahun, bahkan itulah perjalanan sejarah bangsa Palestina, keluatannya semata ada pada kekuatan emosi. Ratusan bahkan ribuan roket yang ditembakkan ke arah Israel hanya menjadi justifikasi bagi Israel untuk semakin membumi hanguskan bangsa Palestina. Sehingga realita mengatakan bahwa dari tahun ke tahun bumi Palestina semakin terkikis.
Dan karenanya persatuan bangsa Palestina harus diwujudkan. Ini termasuk persatuan mereka pada tataran perjuangan diplomasi. Di Jakarta saja Kedutaan Palestina hanya mewakili faksi Fatah. Sehingga Hamas harus punya kantor Perwakilan sendiri.
Lihat Juga :