Perjuangan Palestina Adalah Perjuangan Nasionalisme Rakyat
Kamis, 27 Mei 2021 - 13:37 WIB
loading...
Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Muayyad Windan, Sukoharjo KH Mohammad Dian Nafi. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Perjuangan Palestina hendaknya dilihat sebagai gerakan nasionalisme rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri sebagai negara yang berdaulat.
Oleh karena itu, jika kemudian isu konflik ini digeser dalam politik identitas dengan framing solusi keagamaan, itu patut diwaspadai. Apalagi jika narasi yang yang dimainkan adalah khilafah sebagai solusi Palestina.
Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Muayyad Windan, Sukoharjo KH Mohammad Dian Nafi menilai menyusupkan wacana Khilafah ke dalam perjuangan nasionalisme Palestina justru menjauhkan rakyat Palestina dari pokok permasalahan yang sedang dihadapi dan menjadi hak mereka sebagai bangsa, yaitu mencapai kemerdekaan dan terbebas dari penjajahan.
“Bangsa Palestina sedang berjuang untuk memulihkan kedaulatan politiknya sebagai bangsa yang merdeka. Untuk perjuangan, itu penumbuhan kerukunan kebangsaan Palestina tentu menjadi keniscayaan,” tutur Mohammad Dian Nafi di Sukoharjo, Selasa (25/5/2021).
Menurut Kiai Dian, perjuangan politik sebagai bangsa merupakan nasionalisme yang merupakan spirit persatuan sesama warga bangsa Palestina yang tentunya berhak untuk hidup bermartabat bersama bangsa-bangsa di dunia.
“Dengan demikian, gagasan Khilafah yang sejak awal menolak nasionalisme malah mengaburkan pokok perjuangan bangsa Palestina itu sendiri,” ujarnya.Baca juga: Diusulkan Indonesia, Resolusi untuk Palestina Lolos di Majelis Kesehatan Dunia
Dia menjelaskan, ada tiga cara utama untuk mensterilkan perjuangan nasionalisme Palestina dari narasi khilafah dan politik identitas.
Pertama, membuka diri kepada realitas perjuangan bangsa Palestina, yakni di dalam bangsa Palestina sendiri saat ini terdapat beberapa faksi yang belum sependapat.
“Karena adanya hal tersebut, ini berpendapat bangsa Palestina mengalami kesulitan sangat berat untuk menyelenggarakan urusan keamanan dan kesejahteraan bagi penduduknya sendiri. Apalagi dirinya menambahkan bahwa negara-negara Arab tetangganya juga belum sepakat untuk melangkah secara sinergis dan efektif untuk membantu Palestina,” ujarnya.Baca juga: Untungkan Palestina, Raja Yordania Sambut AS Buka Lagi Konsulat di Yerusalem
Kedua, lanjut dia, literasi tentang nasionalisme sebagai modal sosial yang pokok perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa. Sejak awal Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat berkeadilan dan bermartabat di Madinah menempatkan persatuan seluruh warga sebagai modal sosial yang utama.
Oleh karena itu, jika kemudian isu konflik ini digeser dalam politik identitas dengan framing solusi keagamaan, itu patut diwaspadai. Apalagi jika narasi yang yang dimainkan adalah khilafah sebagai solusi Palestina.
Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Muayyad Windan, Sukoharjo KH Mohammad Dian Nafi menilai menyusupkan wacana Khilafah ke dalam perjuangan nasionalisme Palestina justru menjauhkan rakyat Palestina dari pokok permasalahan yang sedang dihadapi dan menjadi hak mereka sebagai bangsa, yaitu mencapai kemerdekaan dan terbebas dari penjajahan.
“Bangsa Palestina sedang berjuang untuk memulihkan kedaulatan politiknya sebagai bangsa yang merdeka. Untuk perjuangan, itu penumbuhan kerukunan kebangsaan Palestina tentu menjadi keniscayaan,” tutur Mohammad Dian Nafi di Sukoharjo, Selasa (25/5/2021).
Menurut Kiai Dian, perjuangan politik sebagai bangsa merupakan nasionalisme yang merupakan spirit persatuan sesama warga bangsa Palestina yang tentunya berhak untuk hidup bermartabat bersama bangsa-bangsa di dunia.
“Dengan demikian, gagasan Khilafah yang sejak awal menolak nasionalisme malah mengaburkan pokok perjuangan bangsa Palestina itu sendiri,” ujarnya.Baca juga: Diusulkan Indonesia, Resolusi untuk Palestina Lolos di Majelis Kesehatan Dunia
Dia menjelaskan, ada tiga cara utama untuk mensterilkan perjuangan nasionalisme Palestina dari narasi khilafah dan politik identitas.
Pertama, membuka diri kepada realitas perjuangan bangsa Palestina, yakni di dalam bangsa Palestina sendiri saat ini terdapat beberapa faksi yang belum sependapat.
“Karena adanya hal tersebut, ini berpendapat bangsa Palestina mengalami kesulitan sangat berat untuk menyelenggarakan urusan keamanan dan kesejahteraan bagi penduduknya sendiri. Apalagi dirinya menambahkan bahwa negara-negara Arab tetangganya juga belum sepakat untuk melangkah secara sinergis dan efektif untuk membantu Palestina,” ujarnya.Baca juga: Untungkan Palestina, Raja Yordania Sambut AS Buka Lagi Konsulat di Yerusalem
Kedua, lanjut dia, literasi tentang nasionalisme sebagai modal sosial yang pokok perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa. Sejak awal Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat berkeadilan dan bermartabat di Madinah menempatkan persatuan seluruh warga sebagai modal sosial yang utama.
Lihat Juga :