Perjuangan Palestina Adalah Perjuangan Nasionalisme Rakyat
Kamis, 27 Mei 2021 - 13:37 WIB
loading...
A
A
A
“Untuk itulah beliau (Nabi Muhammad) telah memelopori platform agung yang dikenal dengan Piagam Madinah yang senyatanya dapat menginspirasi kerukunan kebangsaan,” terangnya.
Dia mencontohkan perjuangan bangsa Indonesia yang mana berjuang bermodalkan spirit yang disebut nasionalisme. “Yang kemudian setelah merdeka spirit tersebut menjadi semangat kebangsaan yang bersifat mengisi kemerdekaan dengan perjuangan untuk mencapai tujuan nasional. Babak-babak sejarah itu masih menjadi perjuangan bagi bangsa Palestina saat ini,” katanya.
Ketiga, sambung dia, konsolidasi warga bangsa ke dalam strategi terpadu dalam memahami masalah-masalah antarbangsa. Warga bangsa Indonesia perlu menyatukan diri ke dalam strategi terpadu untuk ikut mendukung perjuangan bangsa Palestina.
“Politik luar negeri bebas aktif yang dirintis oleh Proklamator kita yang juga Wakil Presiden pertama Republik Indonesia (Mohammad Hatta) tentunya merupakan pilihan terbaik di dalam mewujudkannya,” lanjutnya.
Oleh karena itu, kata dia, konsep khilafah yang menolak gagasan nasionalisme ini tidak cocok digunakan sebagai upaya perjuangan membantu Palestina ataupun digunakan di Indonesia sendiri. Karena menurutnya yang diperjuangkan oleh para ulama Indonesia bersama-sama semua pendiri bangsa ketika merdeka dulu adalah kesadaran untuk hidup rukun, adil dan bermartabat.
“Dilakukan bersama semua warga bangsa dari semua latar belakang baik suku, agama, ras, adat dan golongan dalam sebuah wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka dalam situasi ini kita juga harus waspada, karena tidak tertutup kemungkinan adanya susupan provokasi,” ungkapnya.
Untuk menghindarkan diri dari provokasi khilafah dalam perjuangan Palestina ini, dia menyebut ada empat strategi yang berguna. Pertama, menyadari bahwa setiap bangsa memiliki hak untuk merdeka sebagai sebuah bangsa “Hal itu dapat dicapai melalui kerukunan kebangsaan yang kokoh. Dan kerukunan kebangsaan itu tidak menjadi perhatian dari konsep khilafah,” ujarnya.
Kedua, menyerap pelajaran penting dari strategi para rasul dalam membangun akhlak umat. Hal tersebut bermula dari persaudaraan kebangsaan, ajakan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, gerakan kemakmuran bersama, dan pola sikap reflektif agar tidak bertindak berlebihan.
Ketiga, yakni gagasan-gagasan yang memperparah perpecahan harus selalu dihindarkan. Juga yang menyurutkan wibawa pemerintah yang sah. Gagasan khilafah di Timur Tengah banyak ditolak, sebagiannya karena memicu perpecahan di kalangan masyarakat dan mengendurkan kepatuhan kepada pemerintah yang sah.
“Kebutuhan pokok bangsa Palestina saat ini adalah penguatan kerukunan nasional dan konsolidasi pemerintahan sebagai modal pokok perjuangan menuju kemerdekaannya,” katanya.
Dia mencontohkan perjuangan bangsa Indonesia yang mana berjuang bermodalkan spirit yang disebut nasionalisme. “Yang kemudian setelah merdeka spirit tersebut menjadi semangat kebangsaan yang bersifat mengisi kemerdekaan dengan perjuangan untuk mencapai tujuan nasional. Babak-babak sejarah itu masih menjadi perjuangan bagi bangsa Palestina saat ini,” katanya.
Ketiga, sambung dia, konsolidasi warga bangsa ke dalam strategi terpadu dalam memahami masalah-masalah antarbangsa. Warga bangsa Indonesia perlu menyatukan diri ke dalam strategi terpadu untuk ikut mendukung perjuangan bangsa Palestina.
“Politik luar negeri bebas aktif yang dirintis oleh Proklamator kita yang juga Wakil Presiden pertama Republik Indonesia (Mohammad Hatta) tentunya merupakan pilihan terbaik di dalam mewujudkannya,” lanjutnya.
Oleh karena itu, kata dia, konsep khilafah yang menolak gagasan nasionalisme ini tidak cocok digunakan sebagai upaya perjuangan membantu Palestina ataupun digunakan di Indonesia sendiri. Karena menurutnya yang diperjuangkan oleh para ulama Indonesia bersama-sama semua pendiri bangsa ketika merdeka dulu adalah kesadaran untuk hidup rukun, adil dan bermartabat.
“Dilakukan bersama semua warga bangsa dari semua latar belakang baik suku, agama, ras, adat dan golongan dalam sebuah wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka dalam situasi ini kita juga harus waspada, karena tidak tertutup kemungkinan adanya susupan provokasi,” ungkapnya.
Untuk menghindarkan diri dari provokasi khilafah dalam perjuangan Palestina ini, dia menyebut ada empat strategi yang berguna. Pertama, menyadari bahwa setiap bangsa memiliki hak untuk merdeka sebagai sebuah bangsa “Hal itu dapat dicapai melalui kerukunan kebangsaan yang kokoh. Dan kerukunan kebangsaan itu tidak menjadi perhatian dari konsep khilafah,” ujarnya.
Kedua, menyerap pelajaran penting dari strategi para rasul dalam membangun akhlak umat. Hal tersebut bermula dari persaudaraan kebangsaan, ajakan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, gerakan kemakmuran bersama, dan pola sikap reflektif agar tidak bertindak berlebihan.
Ketiga, yakni gagasan-gagasan yang memperparah perpecahan harus selalu dihindarkan. Juga yang menyurutkan wibawa pemerintah yang sah. Gagasan khilafah di Timur Tengah banyak ditolak, sebagiannya karena memicu perpecahan di kalangan masyarakat dan mengendurkan kepatuhan kepada pemerintah yang sah.
“Kebutuhan pokok bangsa Palestina saat ini adalah penguatan kerukunan nasional dan konsolidasi pemerintahan sebagai modal pokok perjuangan menuju kemerdekaannya,” katanya.
Lihat Juga :