Abu Nawas Pening, Baginda Minta Harimau Berjenggot
Minggu, 24 Mei 2020 - 15:46 WIB
loading...
A
A
A
"Sebenarnya saya mau menceritakan hal ini kepada orang lain, tapi kalau tidak kepada tuan penghulu kepada siapa lagi saya mengadu,” jawab Abu Nawas. “Tadi malam saya ribut dengan istri saya, itu sebabnya saya tidak mau pulang ke rumah,” dalih Abu Nawas.
“Pucuk dicinta, ulam tiba,” pikir penghulu itu. “Kubiarkan Abu Nawas tidur di sini dan aku pergi ke rumah Abu Nawas menemui istrinya. Sudah lama aku menaruh hati kepada perempuan cantik itu,” otak nakal penghulu itu mulai berandai-andai.
“Hai Abu Nawas,” kata si penghulu, “Bolehkah aku menyelesaikan perselisihan dengan istrimu itu?”
“Silakan,” jawab Abu Nawas. “Hamba sangat berterima kasih atas kebaikan hati tuan,” lanjutnya.
Maka pergilah penghulu ke rumah Abu Nawas dengan hati berbungan-bunga, dan dengan wajah berseri-seri diketuknya pintu rumah Abu Nawas. Begitu pintu terbuka ia langsung mengamit istri Abu Nawas dan diajak duduk bersanding.
“Hai Adinda,,,” katanya. “Apa gunanya punya suami jahat dan melarat. Lagi pula Abu Nawas hidupnya tak karuan. Lebih baik kamu jadi istriku. Kamu dapat hidup senang dan tidak kekurangan suatu apa,” rayunya.
“Baiklah kalau keinginan tuan demikian,” jawab istri Abu Nawas polos-polos saja.
Tak berapa lama kemudian terdengar pintu diketuk orang. Ketukan itu membuat penghulu belingsatan. “Ke mana aku harus bersembunyi," tanyanya kepada istri Abu Nawas.
“Tuan penghulu…silahkan bersembunyi di dalam kandang itu,” ujarnya lalu menunjuk kandang yang terletak di dalam kamar Abu Nawas.
Tanpa pikir panjang lagi penghulu itu masuk ke dalam kandang itu dan menutupnya dari dalam. Sedangkan istri Abu Nawas segera membuka pintu, sambil menengok ke kiri-kanan. Abu Nawas masuk ke dalam rumah.
“Hai Adinda, apa yang ada di dalam kandang itu?” tanya Abu Nawas.
“Pucuk dicinta, ulam tiba,” pikir penghulu itu. “Kubiarkan Abu Nawas tidur di sini dan aku pergi ke rumah Abu Nawas menemui istrinya. Sudah lama aku menaruh hati kepada perempuan cantik itu,” otak nakal penghulu itu mulai berandai-andai.
“Hai Abu Nawas,” kata si penghulu, “Bolehkah aku menyelesaikan perselisihan dengan istrimu itu?”
“Silakan,” jawab Abu Nawas. “Hamba sangat berterima kasih atas kebaikan hati tuan,” lanjutnya.
Maka pergilah penghulu ke rumah Abu Nawas dengan hati berbungan-bunga, dan dengan wajah berseri-seri diketuknya pintu rumah Abu Nawas. Begitu pintu terbuka ia langsung mengamit istri Abu Nawas dan diajak duduk bersanding.
“Hai Adinda,,,” katanya. “Apa gunanya punya suami jahat dan melarat. Lagi pula Abu Nawas hidupnya tak karuan. Lebih baik kamu jadi istriku. Kamu dapat hidup senang dan tidak kekurangan suatu apa,” rayunya.
“Baiklah kalau keinginan tuan demikian,” jawab istri Abu Nawas polos-polos saja.
Tak berapa lama kemudian terdengar pintu diketuk orang. Ketukan itu membuat penghulu belingsatan. “Ke mana aku harus bersembunyi," tanyanya kepada istri Abu Nawas.
“Tuan penghulu…silahkan bersembunyi di dalam kandang itu,” ujarnya lalu menunjuk kandang yang terletak di dalam kamar Abu Nawas.
Tanpa pikir panjang lagi penghulu itu masuk ke dalam kandang itu dan menutupnya dari dalam. Sedangkan istri Abu Nawas segera membuka pintu, sambil menengok ke kiri-kanan. Abu Nawas masuk ke dalam rumah.
“Hai Adinda, apa yang ada di dalam kandang itu?” tanya Abu Nawas.
Lihat Juga :