Abu Nawas Pening, Baginda Minta Harimau Berjenggot
Minggu, 24 Mei 2020 - 15:46 WIB
loading...
Penghulu berjenggot itu seperti harimau. Ilustrasi/Ist
A
A
A
Abu Nawas adalah pujangga Arab dan merupakan salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Penyair ulung sekaligus tokoh sufi ini mempunyai nama lengkap Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami dan hidup pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M). (Baca juga: Cara Jitu Abu Nawas Balas Dendam, Pipi Baginda Kena Tabok)
Terkadang permintaan Baginda Khalifah Harun Al-Rasyid nggak masuk di akal. Parahnya, jika permintaan itu tidak dituruti bisa berabe bagi Abu Nawas. Begitu juga yang terjadi pada hari itu. “Hai Abu Nawas,” seru Khalifah Harun Al-Rasyid. “Sekarang juga kamu harus dapat mempersembahkan kepadaku seekor harimau berjenggot, jika gagal, aku bunuh kau.”
Baca juga: Baginda Percaya Nggak Percaya, Abu Nawas Bisa ke Bulan
Abu Nawas hanya bisa menatap lantai bila sudah begitu. Dia menyadari Baginda sedang keluar bencinya kepada dirinya. Dari bentuk mulut dan intonasinya ketika mengucapkan kalimat itu jelas betapa Sultan sedang kesal dengan Abu Nawas.
“Ya tuanku Syah Alam,” jawab Abu Nawas mau tidak mau. “semua perintah paduka akan hamba laksanakan, namun untuk yang satu ini hamba mohon waktu delapan hari.”
“Baik,” kata Baginda.
Baca juga: Cara Aneh Abu Nawas Memasak, Baginda Jadi Kelaparan
Alkisah, pulanglah Abu Nawas ke rumah. Agaknya ia sudah menangkap gelagat bahwa Raja sangat marah kepadanya, dicarinya akal supaya dapat mencelakakan dirinya. "Ini perkara serius," pikir Abu Nawas gelisah. “Kali ini aku juga harus berhati-hati.”
Sesampainya di rumah dipanggilnya empat orang tukang kayu dan disuruhnya membuat kandang macan. Hanya dalam waktu tiga hari kandang itu pun siap sudah. Kepada istrinya ia berpesan agar menjamu orang yang berjenggot yang datang ke rumah. “Apabila adinda dengar kakanda mengetuk pintu kelak, suruh dia masuk ke dalam kandang itu,” kata Abu Nawas sambil menunjuk kandang tersebut.
Baca Juga: Nasruddin Hoja Pilih Kekayaan Ketimbang Kebijaksanaan, Mengapa?
“Baik,” kata istrinya. Abu Nawas pun kemudian bergegas pergi ke Musalla dengan membawa sajadah.
“Hai Abu Nawas, tumben Lu salat di sini?” bertanya Imam dan penghulu mushalla itu.
Terkadang permintaan Baginda Khalifah Harun Al-Rasyid nggak masuk di akal. Parahnya, jika permintaan itu tidak dituruti bisa berabe bagi Abu Nawas. Begitu juga yang terjadi pada hari itu. “Hai Abu Nawas,” seru Khalifah Harun Al-Rasyid. “Sekarang juga kamu harus dapat mempersembahkan kepadaku seekor harimau berjenggot, jika gagal, aku bunuh kau.”
Baca juga: Baginda Percaya Nggak Percaya, Abu Nawas Bisa ke Bulan
Abu Nawas hanya bisa menatap lantai bila sudah begitu. Dia menyadari Baginda sedang keluar bencinya kepada dirinya. Dari bentuk mulut dan intonasinya ketika mengucapkan kalimat itu jelas betapa Sultan sedang kesal dengan Abu Nawas.
“Ya tuanku Syah Alam,” jawab Abu Nawas mau tidak mau. “semua perintah paduka akan hamba laksanakan, namun untuk yang satu ini hamba mohon waktu delapan hari.”
“Baik,” kata Baginda.
Baca juga: Cara Aneh Abu Nawas Memasak, Baginda Jadi Kelaparan
Alkisah, pulanglah Abu Nawas ke rumah. Agaknya ia sudah menangkap gelagat bahwa Raja sangat marah kepadanya, dicarinya akal supaya dapat mencelakakan dirinya. "Ini perkara serius," pikir Abu Nawas gelisah. “Kali ini aku juga harus berhati-hati.”
Sesampainya di rumah dipanggilnya empat orang tukang kayu dan disuruhnya membuat kandang macan. Hanya dalam waktu tiga hari kandang itu pun siap sudah. Kepada istrinya ia berpesan agar menjamu orang yang berjenggot yang datang ke rumah. “Apabila adinda dengar kakanda mengetuk pintu kelak, suruh dia masuk ke dalam kandang itu,” kata Abu Nawas sambil menunjuk kandang tersebut.
Baca Juga: Nasruddin Hoja Pilih Kekayaan Ketimbang Kebijaksanaan, Mengapa?
“Baik,” kata istrinya. Abu Nawas pun kemudian bergegas pergi ke Musalla dengan membawa sajadah.
“Hai Abu Nawas, tumben Lu salat di sini?” bertanya Imam dan penghulu mushalla itu.
Lihat Juga :