Imam Qatadah, Si Buta yang Sempat Dituduh Sebagai Pencuri Ilmu
Senin, 14 Juni 2021 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Imam adz-Dzahabai mencatat bahwa guru Imam Qatadah saat itu terdiri dari 42 tabiin, di antaranya seperti Said bin al-Musayyib, Abul Aliyah, Zurarah bin Aufa, Atha’ bin Abi Rabah, Imam Muhammad bin Sirin, Abi Mulih bin Usamah, Imam Hasan al-Bashri dan yang lainnya.
Bahkan, menurut Imam adz-Dzahabi, Qatadah berguru kepada Imam Hasan al-Bashri selama dua belas tahun. Dengan bermodalkan semangat dan mengandalkan pikirannya, Qatadah mampu melahap semua ilmu yang diajarkan oleh guru-gurunya. Tidak hanya paham, ia menghafal semuanya.
Maka, tidak heran jika Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala' mengatakan bahwa ia sebagai Hafidhul Ashr (penghafal di masanya) dan Qudwatul Mufassirin wal Muhadditsin (suri teladannya para ahli tafsir dan ahli hadits).
Baca juga: Tabiin yang Sahid di Tangan Penguasa Kufah Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi
Syekh Ali bin Muhammad asy-Syaukani pernah menceritakan tentang ihwal Imam Qatadah ketika berguru pada Imam Said bin al-Musayyib. Dalam kitabnya disebutkan: “Imam Qatadah pernah ingin menetap di (rumah) Imam Said al-Musayyib selama 8 hari (untuk menimba ilmu darinya), maka Imam Said mengatakan padanya di hari ketiga: ‘Pergilah wahai penyandang tunanetra, sesungguhnya engkau telah mencuriku’” (Syekh Ali bin Muhammad asy-Syaukani, Irsyadu al-Fuhul ila Tahqiqi al-Haq min Ilm al-Ushul, juz 1, h. 175).
Pada akhirnya, perjalanan panjang yang dilalui Imam Qatadah, pengembaraannya dalam mencari ilmu yang menguras kekuatan, dengan segala keterbatasannya yang serba melelahkan berujung manis.
Kegigihannya menuai hasil, semangatnya kini telah terbayar. Ia sukses mendalami berbagai cabang ilmu syariat. Bahkan, sangat jarang dijumpai ada seorang yang bisa mengunggulinya. Ia menjadi tokoh bersejarah dalam Islam.
Ia adalah orang yang kuat daya ingatannya dalam menghafal dari kalangan penduduk Bashrah. Tidaklah ia mendengar suatu ilmu melainkan langsung bisa menghafalnya.
Imam Said al-Musayyib sebagai guru dari Imam Qatadah begitu mengagumi muridnya yang satu ini. Pujiannya kepada muridnya pernah disampaikan secara langsung, “Aku tidak menyangka Allah SWT menciptakan manusia dengan kekuatan hafalan sepertimu” (Imam adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 1982: juz 1, h. 272).
Banyak pelajaran yang bisa diambil dari sosok seperti Imam Qatadah. Kekurangan dan keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menggapai kesempurnaan di sisi Allah ﷻ. Semuanya kembali pada tekad, kemauan, dan keikhlasan.
Bahkan, menurut Imam adz-Dzahabi, Qatadah berguru kepada Imam Hasan al-Bashri selama dua belas tahun. Dengan bermodalkan semangat dan mengandalkan pikirannya, Qatadah mampu melahap semua ilmu yang diajarkan oleh guru-gurunya. Tidak hanya paham, ia menghafal semuanya.
Maka, tidak heran jika Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala' mengatakan bahwa ia sebagai Hafidhul Ashr (penghafal di masanya) dan Qudwatul Mufassirin wal Muhadditsin (suri teladannya para ahli tafsir dan ahli hadits).
Baca juga: Tabiin yang Sahid di Tangan Penguasa Kufah Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi
Syekh Ali bin Muhammad asy-Syaukani pernah menceritakan tentang ihwal Imam Qatadah ketika berguru pada Imam Said bin al-Musayyib. Dalam kitabnya disebutkan: “Imam Qatadah pernah ingin menetap di (rumah) Imam Said al-Musayyib selama 8 hari (untuk menimba ilmu darinya), maka Imam Said mengatakan padanya di hari ketiga: ‘Pergilah wahai penyandang tunanetra, sesungguhnya engkau telah mencuriku’” (Syekh Ali bin Muhammad asy-Syaukani, Irsyadu al-Fuhul ila Tahqiqi al-Haq min Ilm al-Ushul, juz 1, h. 175).
Pada akhirnya, perjalanan panjang yang dilalui Imam Qatadah, pengembaraannya dalam mencari ilmu yang menguras kekuatan, dengan segala keterbatasannya yang serba melelahkan berujung manis.
Kegigihannya menuai hasil, semangatnya kini telah terbayar. Ia sukses mendalami berbagai cabang ilmu syariat. Bahkan, sangat jarang dijumpai ada seorang yang bisa mengunggulinya. Ia menjadi tokoh bersejarah dalam Islam.
Ia adalah orang yang kuat daya ingatannya dalam menghafal dari kalangan penduduk Bashrah. Tidaklah ia mendengar suatu ilmu melainkan langsung bisa menghafalnya.
Imam Said al-Musayyib sebagai guru dari Imam Qatadah begitu mengagumi muridnya yang satu ini. Pujiannya kepada muridnya pernah disampaikan secara langsung, “Aku tidak menyangka Allah SWT menciptakan manusia dengan kekuatan hafalan sepertimu” (Imam adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 1982: juz 1, h. 272).
Banyak pelajaran yang bisa diambil dari sosok seperti Imam Qatadah. Kekurangan dan keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menggapai kesempurnaan di sisi Allah ﷻ. Semuanya kembali pada tekad, kemauan, dan keikhlasan.
(mhy)
Lihat Juga :