Imam Qatadah, Si Buta yang Sempat Dituduh Sebagai Pencuri Ilmu
Senin, 14 Juni 2021 - 05:00 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
SEJARAHtelah merekam keberadaan ulama-ulama besar dengan kekuatan hafalan yang sangat luar biasa. Fakta di lapangan membuktikan bahwa kekuatan hafalan mereka bagaikan gunung-gunung yang kokoh menjulang tinggi, bagaikan karang di lautan yang tidak pernah berpindah meski harus dihantam ombak yang besar.
Baca juga: Mengapa Para Sahabat Nabi dan Tabiin Tak Memiliki Karomah?
Salah satu ulama dengan kualitas semacam itu adalah Imam Qatadah bin Da’imah as-Sadusi, atau yang biasa disapa dengan panggilan Imam Qatadah.
Para ulama berbeda pendapat tentang tanggal kelahirannya. Namun, Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’ sebagaimana dikutip laman resmi Nahdlatul Ulama mengatakan, ia lahir pada tahun 60 H, dan wafat pada tahun 118 H.
Ia berasal dari suku as-Sadus, yaitu bagian dari Bani Syaiban, suku Arab bagian utara. Imam adz-Dzahabi menyebut Imam Qatadah sebagai Hafizhul Ashr (penghafal di masanya) dan Qudwatul Mufassirin wal Muhadditsin (suri teladannya para ahli tafsir dan ahli hadits). (Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala' [Beirut, Syria: Muassasah ar-Risalah 1982], juz 1, h. 272).
Ulama yang hidup pada masa tabiin dengan banyak kelebihan ini ternyata tidak bisa menikmati indahnya belajar menggunakan kedua matanya. Imam Qatadah terlahir dalam keadaan kedua matanya buta. Namun baginya, kebutaan mata bukan berarti meniscayakan kebutaan hati dan pikiran.
Justru kondisi itulah yang membuatnya istimewa. Imam Qatadah sama sekali tidak menjadikan “kekurangannya” itu sebagai penghambat perjuangannya menuntut ilmu.
Dengan kondisi seperti itu, ia mendatangi berbagai tempat ilmu tanpa malu dan ragu.
Semua itu dilakukan karena ia sadar akan derajat dan kemuliaan ilmu. Tentu perjalanan yang ditempuhnya tidaklah gampang. Tak jarang ia terjatuh. Namun, baginya fisik bukanlah penentu untuk menjadi orang berilmu. Apalah arti fisik sempurna jika tidak digunakan untuk mencari ilmu dan mengamalkannya?
Baca juga: Kisah Tobatnya Malik Bin Dinar, Preman yang Menjadi Ulama di Masa Tabiin
Semangatnya yang menggebu dan keinginanya yang menggelora mengalahkan teman-teman sebayanya ketika belajar. Pada mulanya, Qatadah menimba ilmu dari sekian banyak sahabat Nabi Muhammad SAW yang masih hidup, seperti Anas bin Malik, Abdullah bin Sarjis, Handzalah al-Katib, Abu Thufail al-Kinani, Anas bin an-Nadhr, dan sahabat nabi yang lainnya radhiyallahu ‘anhum.
Dengan Istiqamah, Qatadah selalu mendatangi pengajian-pengajian yang mereka selenggarakan, atau, bahkan bertatap muka secara langsung ketika ia tidak memahami suatu ilmu.
Setelah periode sahabat selesai, dan diganti periode selanjutnya, yaitu tabiin, Imam Qatadah belajar kepada ulama-ulama besar tabiin yang sezaman dengannya.
Baca juga: Mengapa Para Sahabat Nabi dan Tabiin Tak Memiliki Karomah?
Salah satu ulama dengan kualitas semacam itu adalah Imam Qatadah bin Da’imah as-Sadusi, atau yang biasa disapa dengan panggilan Imam Qatadah.
Para ulama berbeda pendapat tentang tanggal kelahirannya. Namun, Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’ sebagaimana dikutip laman resmi Nahdlatul Ulama mengatakan, ia lahir pada tahun 60 H, dan wafat pada tahun 118 H.
Ia berasal dari suku as-Sadus, yaitu bagian dari Bani Syaiban, suku Arab bagian utara. Imam adz-Dzahabi menyebut Imam Qatadah sebagai Hafizhul Ashr (penghafal di masanya) dan Qudwatul Mufassirin wal Muhadditsin (suri teladannya para ahli tafsir dan ahli hadits). (Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala' [Beirut, Syria: Muassasah ar-Risalah 1982], juz 1, h. 272).
Ulama yang hidup pada masa tabiin dengan banyak kelebihan ini ternyata tidak bisa menikmati indahnya belajar menggunakan kedua matanya. Imam Qatadah terlahir dalam keadaan kedua matanya buta. Namun baginya, kebutaan mata bukan berarti meniscayakan kebutaan hati dan pikiran.
Justru kondisi itulah yang membuatnya istimewa. Imam Qatadah sama sekali tidak menjadikan “kekurangannya” itu sebagai penghambat perjuangannya menuntut ilmu.
Dengan kondisi seperti itu, ia mendatangi berbagai tempat ilmu tanpa malu dan ragu.
Semua itu dilakukan karena ia sadar akan derajat dan kemuliaan ilmu. Tentu perjalanan yang ditempuhnya tidaklah gampang. Tak jarang ia terjatuh. Namun, baginya fisik bukanlah penentu untuk menjadi orang berilmu. Apalah arti fisik sempurna jika tidak digunakan untuk mencari ilmu dan mengamalkannya?
Baca juga: Kisah Tobatnya Malik Bin Dinar, Preman yang Menjadi Ulama di Masa Tabiin
Semangatnya yang menggebu dan keinginanya yang menggelora mengalahkan teman-teman sebayanya ketika belajar. Pada mulanya, Qatadah menimba ilmu dari sekian banyak sahabat Nabi Muhammad SAW yang masih hidup, seperti Anas bin Malik, Abdullah bin Sarjis, Handzalah al-Katib, Abu Thufail al-Kinani, Anas bin an-Nadhr, dan sahabat nabi yang lainnya radhiyallahu ‘anhum.
Dengan Istiqamah, Qatadah selalu mendatangi pengajian-pengajian yang mereka selenggarakan, atau, bahkan bertatap muka secara langsung ketika ia tidak memahami suatu ilmu.
Setelah periode sahabat selesai, dan diganti periode selanjutnya, yaitu tabiin, Imam Qatadah belajar kepada ulama-ulama besar tabiin yang sezaman dengannya.
Lihat Juga :