Imam Maliki Sempat Masuk Penjara karena Melawan Pemerintah
Selasa, 10 Agustus 2021 - 12:24 WIB
loading...
A
A
A
Suasana kehidupan Imam Malik bin Anas di Madinah yang ketika itu dipenuhi dengan para tabi‘in amatlah menguntungkannya. Para tabi‘in ini adalah mereka yang sempat hidup bersama sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Mereka sempat belajar, mendengar hadits dan mengamalkan perbuatan para sahabat secara terus.
Inilah kenapa Imam Maliki tidak pernah meninggalkan Madinah kecuali apabila pergi menunaikan ibadat haji.
Baca juga: Imam Syafii: Usia 7 Tahun Hafal Al-Quran dan 13 Tahun Hafal Kitab al-Muwaththa
Imam Maliki kemudian mengambil alih peranan sebagai tokoh agama di Masjid Nabawi, Madinah. Ajarannya menarik ummatt Islam dari penjuru dunia Islam. Kala itu beliau juga bertindak sebagai Mufti Kota Madinah.
Imam Malikiadalah tokoh dalam mengumpul dan membukukan hadits-hadits Rasulullah SAW di dalam kitabnya al-Muwattha’. Kitabnya ini menjadi hafalan dan rujukan sehingga Imam as-Syafii menyebutnya sebagai: “Tidak wujud sebuah buku di bumi yang paling hampir kepada al-Quran melainkan kitab Imam Malik ini.”
Di antara tokoh besar yangbergurudengan Imam Malik ialah Imam Abu Hanifah dari Kufah, Iraq. Selain itu diriwayatkan juga bahwa sebanyak 1.300 tokoh-tokoh lain yangmenjadi santriImam Malik di Masjid Nabawi. Termasuk di antaranya Muhammad bin Idris, yang kemudiannya terkenal dengan gelaran Imam Syafii.
Ketinggian ilmu Imam Maliki pernah diungkap oleh Imam Ahmad bin Hanbal sebagai: “Imam Malik adalah penghulu daripara penghulu ahli ilmu dan beliau pula seorang imam dalam bidang hadits dan fiqih. Siapakah gerangan yang dapat menyerupai Imam Malik?”
Di antara santri beliau yang masyhur ialah ‘Abdarrahman bin al-Qasim al-Tasyri (191H/807M), Ibn Wahhab Abu Muhammad al-Masri (199H/815M) dan Yahya bin Yahya al-Masmudi (234H/849M).
Baca juga: Imam Syafii, Syair Zuhud dan Syair Akhlak Karyanya
Inilah kenapa Imam Maliki tidak pernah meninggalkan Madinah kecuali apabila pergi menunaikan ibadat haji.
Baca juga: Imam Syafii: Usia 7 Tahun Hafal Al-Quran dan 13 Tahun Hafal Kitab al-Muwaththa
Imam Maliki kemudian mengambil alih peranan sebagai tokoh agama di Masjid Nabawi, Madinah. Ajarannya menarik ummatt Islam dari penjuru dunia Islam. Kala itu beliau juga bertindak sebagai Mufti Kota Madinah.
Imam Malikiadalah tokoh dalam mengumpul dan membukukan hadits-hadits Rasulullah SAW di dalam kitabnya al-Muwattha’. Kitabnya ini menjadi hafalan dan rujukan sehingga Imam as-Syafii menyebutnya sebagai: “Tidak wujud sebuah buku di bumi yang paling hampir kepada al-Quran melainkan kitab Imam Malik ini.”
Di antara tokoh besar yangbergurudengan Imam Malik ialah Imam Abu Hanifah dari Kufah, Iraq. Selain itu diriwayatkan juga bahwa sebanyak 1.300 tokoh-tokoh lain yangmenjadi santriImam Malik di Masjid Nabawi. Termasuk di antaranya Muhammad bin Idris, yang kemudiannya terkenal dengan gelaran Imam Syafii.
Ketinggian ilmu Imam Maliki pernah diungkap oleh Imam Ahmad bin Hanbal sebagai: “Imam Malik adalah penghulu daripara penghulu ahli ilmu dan beliau pula seorang imam dalam bidang hadits dan fiqih. Siapakah gerangan yang dapat menyerupai Imam Malik?”
Di antara santri beliau yang masyhur ialah ‘Abdarrahman bin al-Qasim al-Tasyri (191H/807M), Ibn Wahhab Abu Muhammad al-Masri (199H/815M) dan Yahya bin Yahya al-Masmudi (234H/849M).
Baca juga: Imam Syafii, Syair Zuhud dan Syair Akhlak Karyanya
(mhy)
Lihat Juga :