Abu Nawas Mencari Ibu Angkat, Baginda Tekor Seratus Dinar
Minggu, 31 Mei 2020 - 13:56 WIB
loading...
Dalam hati Sultan bergumam, Jangankan dipukul lima puluh kali, dipukul sekali saja perempuan tua ini tidak akan mampu berdiri. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
Abu Nawas adalah pujangga Arab dan merupakan salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Penyair ulung sekaligus tokoh sufi ini mempunyai nama lengkap Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami dan hidup pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M). (Baca juga: Baginda Sultan dan Para Menteri Bertelur, Abu Nawas Berkokok )
Pada suatu hari Abu Nawas menghadap Sultan ke Istana. Alhamdulillah diterima Raja dengan baik. Mereka pun bercakap-cakap dengan ceria. Tiba-tiba terlintas di benak Sultan. “Bukankah Ibu si Abu Nawas ini sudah meninggal?"
Kegemaran Sultan untuk mengusili Abu Nawas pun kembali menggelitik. "Ah, kepingin juga mencoba kepandaian Abu Nawas sekali lagi," pikir Baginda Sultan.
“Hai, Abu Nawas,” titah Sultan, “Besok bawalah Ibumu ke istanaku, nanti aku beri engkau hadiah seratus dinar,” ucap Baginda Sultan serius.
Abu Nawas kaget. “Bukankah beliau sudah tahu kalau ibuku sudah meninggal, tapi mengapa beliau memerintahkan itu,” pikirnya. Namun dasar Abu Nawas, ia menyanggupi saja perintah itu. “Baiklah, tuanku, esok pagi hamba akan bawa ibu hamba menghadap kemari,” jawabnya mantap. Setelah itu ia pun mohon diri.
Sesampai di rumah, setelah makan dan minum, Abu Nawas ingin jalan-jalan santai. Dijelajahinya sudut-sudut negeri itu, menyusuri jalan, lorong dan kampung, untuk mencari seorang perempuan tua yang akan dijadikan sebagai ibu angkat. Rupanya tidak mudah menemukan sesosok perempuan tua.
Baca juga: Abu Nawas dan Enam Ekor Lembu Berjenggot yang Pandai Bicara
Setelah memeras tenaga mengayun langkah kesana ke mari, barulah ia menemukan perempuan yang dicari. Perempuan itu adalah seorang pedagang kue apem di pinggir jalan yang sedang memasak kue-kue dagangannya. Dihampirinya perempuan tua itu.
“Hai, ibu, bersediakah engkau kujadikan ibu angkat?” kata Abu Nawas.
“Kenapa engkau berkata demikian?” tanya si Ibu tua itu. “Apa alasannya?” tanyanya lagi.
Pada suatu hari Abu Nawas menghadap Sultan ke Istana. Alhamdulillah diterima Raja dengan baik. Mereka pun bercakap-cakap dengan ceria. Tiba-tiba terlintas di benak Sultan. “Bukankah Ibu si Abu Nawas ini sudah meninggal?"
Kegemaran Sultan untuk mengusili Abu Nawas pun kembali menggelitik. "Ah, kepingin juga mencoba kepandaian Abu Nawas sekali lagi," pikir Baginda Sultan.
“Hai, Abu Nawas,” titah Sultan, “Besok bawalah Ibumu ke istanaku, nanti aku beri engkau hadiah seratus dinar,” ucap Baginda Sultan serius.
Abu Nawas kaget. “Bukankah beliau sudah tahu kalau ibuku sudah meninggal, tapi mengapa beliau memerintahkan itu,” pikirnya. Namun dasar Abu Nawas, ia menyanggupi saja perintah itu. “Baiklah, tuanku, esok pagi hamba akan bawa ibu hamba menghadap kemari,” jawabnya mantap. Setelah itu ia pun mohon diri.
Sesampai di rumah, setelah makan dan minum, Abu Nawas ingin jalan-jalan santai. Dijelajahinya sudut-sudut negeri itu, menyusuri jalan, lorong dan kampung, untuk mencari seorang perempuan tua yang akan dijadikan sebagai ibu angkat. Rupanya tidak mudah menemukan sesosok perempuan tua.
Baca juga: Abu Nawas dan Enam Ekor Lembu Berjenggot yang Pandai Bicara
Setelah memeras tenaga mengayun langkah kesana ke mari, barulah ia menemukan perempuan yang dicari. Perempuan itu adalah seorang pedagang kue apem di pinggir jalan yang sedang memasak kue-kue dagangannya. Dihampirinya perempuan tua itu.
“Hai, ibu, bersediakah engkau kujadikan ibu angkat?” kata Abu Nawas.
“Kenapa engkau berkata demikian?” tanya si Ibu tua itu. “Apa alasannya?” tanyanya lagi.
Lihat Juga :