Tafsir Surat Yasin Ayat 20-21 Tentang Kisah Habib An-Najjar
Senin, 13 September 2021 - 17:47 WIB
loading...
A
A
A
Imam al-Qusyairi dalam tafsirnya menanggapi kisah dua ayat di atas bersyair betapa banyak nasihat yang mengalir kepada kalian, tetapi dikembalikan dengan cara murka kepada orang yang menasihati (Wa kam saqat fii aatsaarikum min nasihatin, wa qad yastafidu al-bughdhah al-mutanasshih).
Lalu terkait dengan sosok yang diceritakan, al-Qusyairi mengatakan bahwa orang yang teguh pada kebenaran dan sabar atas apa yang diperbuat kaumnya, maka ia menemukan kebaikan-kebaikan dan anugerah. Ia akan bertemu dengan Tuhannya dan menemukan kebenaran janji-Nya.
Al-Zamakhsyari menjelaskan bahwa tokoh yang dimaksud dalam dua ayat ini adalah Habib bin Israil al-Najjar, seorang pemahat patung. Habib ini, menurut al-Zamakhsyari, merupakan orang yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW meski antara masa keduanya berjarak enam ratus tahun. Ia seperti Taba’ al-Akbar, Waraqah bin Naufal dan lainnya, yang mengimani Nabi hingga masa diutusnya tiba.
Diceritakan dalam tafsirnya, al-Kasysyaf, bahwa Habib ini seringkali menyepi dalam gua untuk beribadah kepada Allah. Tatkala datang kabar bahwa para utusan Allah datang ke daerah dekat tempat tinggalnya, maka ia pun mendatangi kaumnya dan menampakkan keimanan kepada mereka. Karena hal ini kaumnya pun mempertanyakannya, "Apakah kamu melanggar agama leluhur?" tanpa menunggu jawaban, mereka membunuhnya.
Ibnu 'Asyur ketika menjelaskan ayat kata aqsha al-Madinah menjelaskan bahwa ketika itu iman kepada Allah telah tersebar di pinggiran kota, sebelum tersebar di pusat kota. Hal ini karena pusat kota adalah lokasi pemukiman penguasa dan pemuka agama, yang mereka-mereka ini menghadapi para Rasul dengan pandangan yang tidak objektif. Penduduk dalam kota pun takut kepada penguasa dan pemuka agama ini, berbeda dengan yang bermukim di pinggiran, yang memiliki pandangan objetif dan sikap yang mandiri.
Bagi Ibnu ‘Asyur didahulukannya kata aqsha al-madinah memiliki kesan bahwa orang-orang yang bermukim di pinggiran kota mendapatkan perhatian dan pujian yang lebih, bisa saja mereka menemukan aneka kebajikan di pinggiran kota yang tidak ditemukan di tengah kota. Ini juga menunjukkan bahwa orang-orang lemah seringkali lebih dahulu beriman karena mereka tidak dibendung kesenangan hidup dan kekuasaan, seperti terjadi pada para penguasa yang biasanya hidup di tengah kota.
Quraish Shihab menilai bahwa ucapan lelaki yang bergegas pada ayat ini dengan mendahulukan kalimat siapa yang tidak meminta imbalan dari kamu sejalan dengan pandangan penduduk ketika itu. Mereka mengukur semua orang sama dengan diri mereka. Penduduk ini selalu menduga adanya keuntungan material dibalik aktivitas setiap orang.
Mereka hampir tidak mengenal ketulusan dalam satu aktivitasnya. Karena inilah mereka tidak percaya kalau para Rasul itu tulus dan tidak mengharap imbalan atas tuntunannya.
Baca Juga: 7 Keutamaan Surat Yasin yang Jarang Diketahui
Lalu terkait dengan sosok yang diceritakan, al-Qusyairi mengatakan bahwa orang yang teguh pada kebenaran dan sabar atas apa yang diperbuat kaumnya, maka ia menemukan kebaikan-kebaikan dan anugerah. Ia akan bertemu dengan Tuhannya dan menemukan kebenaran janji-Nya.
Al-Zamakhsyari menjelaskan bahwa tokoh yang dimaksud dalam dua ayat ini adalah Habib bin Israil al-Najjar, seorang pemahat patung. Habib ini, menurut al-Zamakhsyari, merupakan orang yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW meski antara masa keduanya berjarak enam ratus tahun. Ia seperti Taba’ al-Akbar, Waraqah bin Naufal dan lainnya, yang mengimani Nabi hingga masa diutusnya tiba.
Diceritakan dalam tafsirnya, al-Kasysyaf, bahwa Habib ini seringkali menyepi dalam gua untuk beribadah kepada Allah. Tatkala datang kabar bahwa para utusan Allah datang ke daerah dekat tempat tinggalnya, maka ia pun mendatangi kaumnya dan menampakkan keimanan kepada mereka. Karena hal ini kaumnya pun mempertanyakannya, "Apakah kamu melanggar agama leluhur?" tanpa menunggu jawaban, mereka membunuhnya.
Ibnu 'Asyur ketika menjelaskan ayat kata aqsha al-Madinah menjelaskan bahwa ketika itu iman kepada Allah telah tersebar di pinggiran kota, sebelum tersebar di pusat kota. Hal ini karena pusat kota adalah lokasi pemukiman penguasa dan pemuka agama, yang mereka-mereka ini menghadapi para Rasul dengan pandangan yang tidak objektif. Penduduk dalam kota pun takut kepada penguasa dan pemuka agama ini, berbeda dengan yang bermukim di pinggiran, yang memiliki pandangan objetif dan sikap yang mandiri.
Bagi Ibnu ‘Asyur didahulukannya kata aqsha al-madinah memiliki kesan bahwa orang-orang yang bermukim di pinggiran kota mendapatkan perhatian dan pujian yang lebih, bisa saja mereka menemukan aneka kebajikan di pinggiran kota yang tidak ditemukan di tengah kota. Ini juga menunjukkan bahwa orang-orang lemah seringkali lebih dahulu beriman karena mereka tidak dibendung kesenangan hidup dan kekuasaan, seperti terjadi pada para penguasa yang biasanya hidup di tengah kota.
Quraish Shihab menilai bahwa ucapan lelaki yang bergegas pada ayat ini dengan mendahulukan kalimat siapa yang tidak meminta imbalan dari kamu sejalan dengan pandangan penduduk ketika itu. Mereka mengukur semua orang sama dengan diri mereka. Penduduk ini selalu menduga adanya keuntungan material dibalik aktivitas setiap orang.
Mereka hampir tidak mengenal ketulusan dalam satu aktivitasnya. Karena inilah mereka tidak percaya kalau para Rasul itu tulus dan tidak mengharap imbalan atas tuntunannya.
Baca Juga: 7 Keutamaan Surat Yasin yang Jarang Diketahui
(rhs)
Lihat Juga :