Kisah Detik-Detik Awal Perjalanan Spiritual Ibrahim bin Adham
Jum'at, 01 Oktober 2021 - 17:39 WIB
loading...
A
A
A
Untuk ketiga kalinya suara yang sama terdengar dari kerah jubahnya. Dengan demikian, firman itu telah disempurnakan, dan langit terbuka baginya.
Keimanan yang kuat sekarang terbangun di dalam dirinya. Dia turun, seluruh bagian pakaiannya, dan kudanya sendiri, ditetesi oleh air matanya. Dia melakukan pertobatan yang sebenar-benarnya dan ikhlas.
Menyisi dari jalan, dia melihat seorang penggembala yang berpakaian kain wol dan topi dari kain wol, menggiring dombanya ke hadapannya. Melihat lebih dekat, dia menyadari bahwa penggembala itu adalah budaknya.
Dia memberikan kepadanya jubahnya yang bersulam emas dan topinya yang berhiaskan berlian, bersama dengan domba-dombanya, dan mengambil darinya pakaian dan topinya yang terbuat dari kain wol. Semua ini dia pakai untuk dirinya sendiri.
Seluruh bala tentara malaikat berdiri menatap Ibrahim.
“Betapa kerajaan telah datang bagi putra Adham,” seru mereka. “Dia telah membuang pakaian kotor dunia, dan telah mengenakan jubah kemiskinan yang mulia.”
Dengan keadaan seperti itu dia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk mengembara ke pegunungan dan gurun yang tak berujung, menyesali dosa-dosanya, sampai dia tiba di Merv (sekarang di Turkmenistan).
Di sana dia melihat seorang pria yang terjatuh dari jembatan dan hampir tewas, tersapu oleh sungai. Ibrahim berteriak dari jauh. “Ya Allah, selamatkanlah dia!”
Orang itu kemudian mengambang di udara sampai orang-orang yang menolong tiba dan menariknya. Mereka tercengang melihat Ibrahim.
“Orang macam apa ini?” seru mereka.
Ibrahim pergi dari tempat itu, dan melanjutkan perjalanan ke Nishapur (sekarang di Iran). Di sana dia mencari tempat yang terpencil, sebuah tempat yang memungkinkan bagi dirinya untuk menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah.
Keimanan yang kuat sekarang terbangun di dalam dirinya. Dia turun, seluruh bagian pakaiannya, dan kudanya sendiri, ditetesi oleh air matanya. Dia melakukan pertobatan yang sebenar-benarnya dan ikhlas.
Menyisi dari jalan, dia melihat seorang penggembala yang berpakaian kain wol dan topi dari kain wol, menggiring dombanya ke hadapannya. Melihat lebih dekat, dia menyadari bahwa penggembala itu adalah budaknya.
Dia memberikan kepadanya jubahnya yang bersulam emas dan topinya yang berhiaskan berlian, bersama dengan domba-dombanya, dan mengambil darinya pakaian dan topinya yang terbuat dari kain wol. Semua ini dia pakai untuk dirinya sendiri.
Seluruh bala tentara malaikat berdiri menatap Ibrahim.
“Betapa kerajaan telah datang bagi putra Adham,” seru mereka. “Dia telah membuang pakaian kotor dunia, dan telah mengenakan jubah kemiskinan yang mulia.”
Dengan keadaan seperti itu dia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk mengembara ke pegunungan dan gurun yang tak berujung, menyesali dosa-dosanya, sampai dia tiba di Merv (sekarang di Turkmenistan).
Di sana dia melihat seorang pria yang terjatuh dari jembatan dan hampir tewas, tersapu oleh sungai. Ibrahim berteriak dari jauh. “Ya Allah, selamatkanlah dia!”
Orang itu kemudian mengambang di udara sampai orang-orang yang menolong tiba dan menariknya. Mereka tercengang melihat Ibrahim.
“Orang macam apa ini?” seru mereka.
Ibrahim pergi dari tempat itu, dan melanjutkan perjalanan ke Nishapur (sekarang di Iran). Di sana dia mencari tempat yang terpencil, sebuah tempat yang memungkinkan bagi dirinya untuk menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah.
Lihat Juga :