Maulid Nabi: Barzanji, Kitab Paling Populer Setelah Al-Qur'an
Senin, 11 Oktober 2021 - 16:04 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: 11 Keutamaan Memperingati Maulid Nabi Muhammad
Bulan Mulud
Kitab Barzanji pada umumnya dibacakan pada momen Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh setiap tanggal 12 Rabiulawal. Oleh karena itu, orang Jawa menyebut bulan ini sebagai bulan mulud (diambil dari kata Maulid, yang merujuk kepada bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW). Pembacaan kitab Barzanji kemudian disebut dengan nuansa dialek lokal, yaitu barzanjian atau berjanjen.
Dan pada gilirannya, kegiatan ini terus menyebar kepada tradisi-tradisi lainnya seperti pada saat pemotongan rambut bayi untuk pertama kalinya dalam momen akikah, sebagai bacaan pada masa krisis, bagian dari ritual untuk mengusir setan, atau dijadikan sebagai bagian dari wiridan berjamaah yang dilakukan secara rutin.
Kemudian di beberapa wilayah Indonesia yang dikenal memeluk Islam secara ketat – Aceh, Sumatra Barat, dan Banten – terdapat sebuah tradisi yang disebut dengan debus. Para pelaku debus menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam hal kekebalan tubuh. Mereka menikam diri mereka sendiri dengan senjata tajam atau pedang tanpa menimbulkan luka.
Dalam sebuah catatan sejarah yang dinukil oleh Martin Van Bruinessen, ditemukan bahwa dalam tradisi debus, Kitab Barzanji dibacakan selama pertunjukan berlangsung. Jika Anda menyangka bahwa debus adalah sekadar pertunjukkan seni tradisional belaka, maka tidak demikian yang sebenarnya. Debus itu sendiri sangat erat kaitannya dengan tradisi dari mana Kitab Barzanji berasal.
Baca juga: Kisah Pemuda Mengagungkan Maulid Nabi Diangkat Jadi Wali
Ritual Baku Tarekat Qadiriyah
Penggubah Kitab Barzanji adalah Jafar Barzanji. Kitab Barzanji bukan nama sebenarnya dari kitab tentang ringkasan sirah Nabi tersebut, nama sebenarnya adalah al-Iqd al-Jawahir (bahasa Arab, artinya “Kalung Permata”), atau ada juga sebagian ulama yang menyebutnya Iqd al-Jawhar fi Maulid an-Nabiyyil Azhar.
Martin van Bruinessen menyatakan kitab Barzanji adalah karya yang paling populer dari semua kitab tentang maulid, dan di banyak tempat telah menjadi bagian dari ritual baku Tarekat Qadiriyah.
Meskipun tradisi peringatan Maulid Nabi tidak benar-benar diterima sepenuhnya oleh seluruh kalangan Islam, namun di Indonesia peringatan maulid beserta pembacaan Kitab Barzanji adalah kegiatan yang benar-benar populer dan dikenal secara luas.
Ada beberapa pendapat mengenai apa alasan Kitab Barzanji itu digubah.
Bulan Mulud
Kitab Barzanji pada umumnya dibacakan pada momen Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh setiap tanggal 12 Rabiulawal. Oleh karena itu, orang Jawa menyebut bulan ini sebagai bulan mulud (diambil dari kata Maulid, yang merujuk kepada bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW). Pembacaan kitab Barzanji kemudian disebut dengan nuansa dialek lokal, yaitu barzanjian atau berjanjen.
Dan pada gilirannya, kegiatan ini terus menyebar kepada tradisi-tradisi lainnya seperti pada saat pemotongan rambut bayi untuk pertama kalinya dalam momen akikah, sebagai bacaan pada masa krisis, bagian dari ritual untuk mengusir setan, atau dijadikan sebagai bagian dari wiridan berjamaah yang dilakukan secara rutin.
Kemudian di beberapa wilayah Indonesia yang dikenal memeluk Islam secara ketat – Aceh, Sumatra Barat, dan Banten – terdapat sebuah tradisi yang disebut dengan debus. Para pelaku debus menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam hal kekebalan tubuh. Mereka menikam diri mereka sendiri dengan senjata tajam atau pedang tanpa menimbulkan luka.
Dalam sebuah catatan sejarah yang dinukil oleh Martin Van Bruinessen, ditemukan bahwa dalam tradisi debus, Kitab Barzanji dibacakan selama pertunjukan berlangsung. Jika Anda menyangka bahwa debus adalah sekadar pertunjukkan seni tradisional belaka, maka tidak demikian yang sebenarnya. Debus itu sendiri sangat erat kaitannya dengan tradisi dari mana Kitab Barzanji berasal.
Baca juga: Kisah Pemuda Mengagungkan Maulid Nabi Diangkat Jadi Wali
Ritual Baku Tarekat Qadiriyah
Penggubah Kitab Barzanji adalah Jafar Barzanji. Kitab Barzanji bukan nama sebenarnya dari kitab tentang ringkasan sirah Nabi tersebut, nama sebenarnya adalah al-Iqd al-Jawahir (bahasa Arab, artinya “Kalung Permata”), atau ada juga sebagian ulama yang menyebutnya Iqd al-Jawhar fi Maulid an-Nabiyyil Azhar.
Martin van Bruinessen menyatakan kitab Barzanji adalah karya yang paling populer dari semua kitab tentang maulid, dan di banyak tempat telah menjadi bagian dari ritual baku Tarekat Qadiriyah.
Meskipun tradisi peringatan Maulid Nabi tidak benar-benar diterima sepenuhnya oleh seluruh kalangan Islam, namun di Indonesia peringatan maulid beserta pembacaan Kitab Barzanji adalah kegiatan yang benar-benar populer dan dikenal secara luas.
Ada beberapa pendapat mengenai apa alasan Kitab Barzanji itu digubah.
Lihat Juga :