Ketika Allah Menegur Nabi Musa karena Membunuh Juru Masak Firaun
Kamis, 28 Oktober 2021 - 19:02 WIB
loading...
A
A
A
Musa semakin yakin bahwa Firaun ada di pihak yang salah, Risalah Allah yang berupa hikmah dan ilmu menuntun Nabi Musa pada kebenaran tauhid yang sesungguhnya.
Baca juga: Nabi Musa dan Seorang Wali Tuhan: Gara-gara Segelas Air
Dua Pencapaian Fisik
Peristiwa tersebut terjadi saat Nabi Musa telah sampai pada 2 pencapaian fisik yang disebutkan melalui kata “Balagha Asyuddah” (diterjemahkan dengan “cukup umur”) dan “Istawa” (diterjemahkan dengan “sempurna akal”).
Laman Al-Qur'an menyebutkan konsep cukup umur sendiri banyak terjadi perbedaan pendapat di kalangan mufassir.
Menurut Az-Zamhasyari dalam al-Kasysyaf, usia Nabi Musa saat itu adalah 40 tahun, usia yang sangat matang untuk bersiap menerima wahyu.
Sedangkan Al-‘Iz bin Abdussalam dalam Tafsir-nya, mengemukakan konsep Istawa dengan beberapa alternatif karakteristik seperti stabilnya kekuatan, tumbuh jenggot, maupun berakhirnya masa remaja.
Dengan gambaran fisik yang cukup realistis tadi, Nabi Musa sedang memasuki kota Memphis, sebuah kota yang berjarak sekitar 2 farsakh atau sekitar 11 kilometer dari kediaman Nabi Musa.
An-Nakhjuni dalam tafsirnya memperkirakan bahwa kedatangan Nabi Musa di kota tersebut adalah ketika waktu-waktu tidur siang atau malam hari.
“Ketika penduduk lemah, karena saat itu para penduduk tidak mengawasi keberadaan Nabi Musa, ada yang mengatakan itu di waktu-waktu Qailulah (tidur siang), ada pula yang berpendapat pada waktu isya”
Tragedi pembunuhan
Pada saat kunjungannya itu, Nabi Musa menyaksikan perkelahian antara 2 orang, yang satu dari Bani Israel, sedangkan yang satunya bangsa Qibty (Mesir).
Dalam Tafsir Al-Bahr Al-Madid disebutkan bahwa dari pihak Bani Israel bernama Samiry, sedangkan dari Qibty adalah juru masak istana.
Baca juga: Nabi Musa dan Seorang Wali Tuhan: Gara-gara Segelas Air
Dua Pencapaian Fisik
Peristiwa tersebut terjadi saat Nabi Musa telah sampai pada 2 pencapaian fisik yang disebutkan melalui kata “Balagha Asyuddah” (diterjemahkan dengan “cukup umur”) dan “Istawa” (diterjemahkan dengan “sempurna akal”).
Laman Al-Qur'an menyebutkan konsep cukup umur sendiri banyak terjadi perbedaan pendapat di kalangan mufassir.
Menurut Az-Zamhasyari dalam al-Kasysyaf, usia Nabi Musa saat itu adalah 40 tahun, usia yang sangat matang untuk bersiap menerima wahyu.
Sedangkan Al-‘Iz bin Abdussalam dalam Tafsir-nya, mengemukakan konsep Istawa dengan beberapa alternatif karakteristik seperti stabilnya kekuatan, tumbuh jenggot, maupun berakhirnya masa remaja.
Dengan gambaran fisik yang cukup realistis tadi, Nabi Musa sedang memasuki kota Memphis, sebuah kota yang berjarak sekitar 2 farsakh atau sekitar 11 kilometer dari kediaman Nabi Musa.
An-Nakhjuni dalam tafsirnya memperkirakan bahwa kedatangan Nabi Musa di kota tersebut adalah ketika waktu-waktu tidur siang atau malam hari.
“Ketika penduduk lemah, karena saat itu para penduduk tidak mengawasi keberadaan Nabi Musa, ada yang mengatakan itu di waktu-waktu Qailulah (tidur siang), ada pula yang berpendapat pada waktu isya”
Tragedi pembunuhan
Pada saat kunjungannya itu, Nabi Musa menyaksikan perkelahian antara 2 orang, yang satu dari Bani Israel, sedangkan yang satunya bangsa Qibty (Mesir).
Dalam Tafsir Al-Bahr Al-Madid disebutkan bahwa dari pihak Bani Israel bernama Samiry, sedangkan dari Qibty adalah juru masak istana.
Lihat Juga :