Kisah Tsabit Al-Bunani Berdialog dengan Pemuda yang Sudah Meninggal
Sabtu, 30 Oktober 2021 - 16:32 WIB
loading...
Pemuda itu mengeluh kepada Tsabit Al-Bunani bahwa keluarganya tak ada mendoakan serta bersedekah atas namanya. (Ilustrasi: Ist)
A
A
A
Ini adalah kisah Sayyid Tsabit Al-Bunani, seorang tabiāin, yang disampaikan Imam Muhamand Bin Abu Bakar dalam Kitab Al-Mawaidh Al-Usfuriyah.
Baca juga: Rabiah Al-Adawiyah Pergi Haji Bermodalkan Seekor Keledai
Alkisah, seorang pemuda yang meninggal dunia datang menemui Tsabit Al Banani di dalam tidurnya. Rohnya datang dalam keadaan berserabut, wajahnya pucat lesi, cemas dan gundah gulana.
Tsabit dapat melihat di dalam tidurnya itu, pemuda tersebut berjalan dengan tangan kosong sambil air matanya mengalir.
Pada waktu yang sama dia melihat semua ahli kubur yang lain memakai pakaian putih bersih serta membawa makanan beraneka macam.
Tsabit pun bertanya kepada pemuda yang menderita itu, "Hai Pemuda, siapa engkau sebenarnya? Mereka terlihat membawa hidangan dan kembali dengan suka cita, sedangkan engkau tidak menemukan makanan. Engkau pulang dengan dengan tangan hampa, penuh duka cita."
Pemuda itu berkata bahwa tidak ada seorang pun di dunia yang mau mendoakan serta bersedekah untuknya. Sedangkan ahli-ahli kubur yang lain mempunyai keluarga dan sanak saudara yang sering berdoa dan bersedekah untuk mereka pada setiap malam Jumat.
Ibunya masih hidup, tetapi setelah menikah lagi, ibunya lupa untuk berdoa dan bersedekah untuknya. "Kini aku telah berputus asa dan sentiasa sedih lagi cemas sepanjang masa," kata pemuda itu.
Tsabit pun bertanya tentang ibunya dan di mana dia tinggal serta berjanji akan menceritakan keadaan pemuda itu kepadanya. "Katakan bahwa di dalam bajunya ada uang seratus misgol warisan ayahku. Uang itu adalah kepunyaanku. Nanti dia akan percaya terhadap apa yang tuan ceritakan. "
Baca juga: Rabiah Al-Adawiyah Sering Mimpi Lihat Cahaya Menyatu ke Dalam Jiwa dan Tubuhnya
Baca juga: Rabiah Al-Adawiyah Pergi Haji Bermodalkan Seekor Keledai
Alkisah, seorang pemuda yang meninggal dunia datang menemui Tsabit Al Banani di dalam tidurnya. Rohnya datang dalam keadaan berserabut, wajahnya pucat lesi, cemas dan gundah gulana.
Tsabit dapat melihat di dalam tidurnya itu, pemuda tersebut berjalan dengan tangan kosong sambil air matanya mengalir.
Pada waktu yang sama dia melihat semua ahli kubur yang lain memakai pakaian putih bersih serta membawa makanan beraneka macam.
Tsabit pun bertanya kepada pemuda yang menderita itu, "Hai Pemuda, siapa engkau sebenarnya? Mereka terlihat membawa hidangan dan kembali dengan suka cita, sedangkan engkau tidak menemukan makanan. Engkau pulang dengan dengan tangan hampa, penuh duka cita."
Pemuda itu berkata bahwa tidak ada seorang pun di dunia yang mau mendoakan serta bersedekah untuknya. Sedangkan ahli-ahli kubur yang lain mempunyai keluarga dan sanak saudara yang sering berdoa dan bersedekah untuk mereka pada setiap malam Jumat.
Ibunya masih hidup, tetapi setelah menikah lagi, ibunya lupa untuk berdoa dan bersedekah untuknya. "Kini aku telah berputus asa dan sentiasa sedih lagi cemas sepanjang masa," kata pemuda itu.
Tsabit pun bertanya tentang ibunya dan di mana dia tinggal serta berjanji akan menceritakan keadaan pemuda itu kepadanya. "Katakan bahwa di dalam bajunya ada uang seratus misgol warisan ayahku. Uang itu adalah kepunyaanku. Nanti dia akan percaya terhadap apa yang tuan ceritakan. "
Baca juga: Rabiah Al-Adawiyah Sering Mimpi Lihat Cahaya Menyatu ke Dalam Jiwa dan Tubuhnya
Lihat Juga :