Kisah Sufi: Fatima si Pemintal Mencari Suami
Sabtu, 21 Desember 2024 - 05:15 WIB
loading...
Kisah Fatimah berakhir bahagia. Ilustrasi: AI
A
A
A
Konon, di sebuah kota di ujung barat hiduplah seorang gadis bernama Fatima. Ia putri seorang pemintal kaya raya. Suatu hari ayahnya berkata kepadanya, "Ikutlah denganku, putriku. Kita akan mengadakan perjalanan. Aku punya urusan dagang di kepulauan Laut Tengah. Barangkali dalam situasi menyenangkan kau akan bertemu seorang pemuda tampan yang akan kau pilih menjadi suamimu."
Begitulah, mereka pun bersiap dan melakukan perjalanan dari satu pulau ke pulau lain. Sang ayah berdagang, sementara Fatima mengangankan seorang pemuda yang akan menjadi suaminya. Tetapi, suatu hari dalam pelayaran menuju Kreta, laut mengamuk, dan badai dahsyat membuat kapal mereka karam. Fatima yang setengah sadar terdampar di pantai dekat Aleksandria. Ayahnya meninggal dan tinggallah Fatima kini sebatang kara.
Hanya samar-samar ia bisa mengingat siapa dirinya, sebab pengalaman karamnya kapal dan terlunta-lunta di laut lepas telah membuatnya letih.
Ketika ia sedang berputar-putar di pantai tanpa tujuan, sebuah keluarga penenun kain melihatnya. Meskipun miskin, mereka menerimanya di pondok mereka dan mengajarinya keterampilan menenun.
Baca juga: Kisah Sufi: Raksasa Perampok dan Guru Sufi
Demikianlah gadis itu memulai hidup keduanya, dan dalam setahun dua tahun ia sudah merasa gembira kembali. Ia berdamai dengan nasibnya. Tetapi suatu hari, ketika sedang bersantai di pantai, sekelompok pedagang budak menghadang dan membawanya pergi; bersamanya juga ada tawanan lain.
Ratapan dan keluh kesah Fatima tidak menimbulkan simpati dari orang-orang yang menangkapnya. Ia dijual ke Istanbul sebagai seorang budak.
Dunianya limbung untuk kedua kalinya. Fatima beruntung karena ketika itu pasar sedang sepi dan hanya ada sedikit pembeli budak. Salah satunya seorang lelaki yang mencari budak untuk bekerja di pabrik kayunya untuk membuat tiang-tiang kapal. Ketika dilihatnya Fatima diperlakukan tidak senonoh, ia merasa kasihan dan memutuskan membeli gadis malang itu. Pikirnya, dengan begitu setidaknya ia bisa memberi hidup yang sedikit lebih baik bagi Fatima dibandingkan bila gadis itu dibeli oleh orang lain.
Ia membawa Fatima ke rumahnya dengan maksud mempekerjakannya sebagai pelayan bagi istrinya. Tetapi ketika tiba di rumah, ia diberitahu bahwa kapal muatnya telah dirampok bajak laut. Padahal semua uangnya sudah ia habiskan untuk membeli muatan dalam kapal tersebut. Ia tak punya uang lagi untuk mengupah pekerja, jadi ia, Fatima, dan istrinya sendirian bekerja keras membuat tiang-tiang.
Fatima, yang sangat bersyukur telah diselamatkan oleh pembelinya itu, bekerja sangat giat dan baik sehingga tuannya membebaskannya, dan jadilah Fatima orang kepercayaan tuannya. Dan Fatima cukup bahagia dengan kehidupan ketiganya itu.
Begitulah, mereka pun bersiap dan melakukan perjalanan dari satu pulau ke pulau lain. Sang ayah berdagang, sementara Fatima mengangankan seorang pemuda yang akan menjadi suaminya. Tetapi, suatu hari dalam pelayaran menuju Kreta, laut mengamuk, dan badai dahsyat membuat kapal mereka karam. Fatima yang setengah sadar terdampar di pantai dekat Aleksandria. Ayahnya meninggal dan tinggallah Fatima kini sebatang kara.
Hanya samar-samar ia bisa mengingat siapa dirinya, sebab pengalaman karamnya kapal dan terlunta-lunta di laut lepas telah membuatnya letih.
Ketika ia sedang berputar-putar di pantai tanpa tujuan, sebuah keluarga penenun kain melihatnya. Meskipun miskin, mereka menerimanya di pondok mereka dan mengajarinya keterampilan menenun.
Baca juga: Kisah Sufi: Raksasa Perampok dan Guru Sufi
Demikianlah gadis itu memulai hidup keduanya, dan dalam setahun dua tahun ia sudah merasa gembira kembali. Ia berdamai dengan nasibnya. Tetapi suatu hari, ketika sedang bersantai di pantai, sekelompok pedagang budak menghadang dan membawanya pergi; bersamanya juga ada tawanan lain.
Ratapan dan keluh kesah Fatima tidak menimbulkan simpati dari orang-orang yang menangkapnya. Ia dijual ke Istanbul sebagai seorang budak.
Dunianya limbung untuk kedua kalinya. Fatima beruntung karena ketika itu pasar sedang sepi dan hanya ada sedikit pembeli budak. Salah satunya seorang lelaki yang mencari budak untuk bekerja di pabrik kayunya untuk membuat tiang-tiang kapal. Ketika dilihatnya Fatima diperlakukan tidak senonoh, ia merasa kasihan dan memutuskan membeli gadis malang itu. Pikirnya, dengan begitu setidaknya ia bisa memberi hidup yang sedikit lebih baik bagi Fatima dibandingkan bila gadis itu dibeli oleh orang lain.
Ia membawa Fatima ke rumahnya dengan maksud mempekerjakannya sebagai pelayan bagi istrinya. Tetapi ketika tiba di rumah, ia diberitahu bahwa kapal muatnya telah dirampok bajak laut. Padahal semua uangnya sudah ia habiskan untuk membeli muatan dalam kapal tersebut. Ia tak punya uang lagi untuk mengupah pekerja, jadi ia, Fatima, dan istrinya sendirian bekerja keras membuat tiang-tiang.
Fatima, yang sangat bersyukur telah diselamatkan oleh pembelinya itu, bekerja sangat giat dan baik sehingga tuannya membebaskannya, dan jadilah Fatima orang kepercayaan tuannya. Dan Fatima cukup bahagia dengan kehidupan ketiganya itu.
Lihat Juga :