Muhammad Ali Pasha (3): Tragedi Runtuhnya Dinasti Saud I
Senin, 01 November 2021 - 13:50 WIB
loading...
Muhammad Ali Pasha dan putranya meruntuhkan Dinasti Saud atas perintah Sultan Utsmaniyah. (Foto/Ilustrasi : Ist)
A
A
A
Setelah berkuasa di Mesir, Muhammad Ali Pasha mendapat tugas dari Daulah Utsmaniyah , untuk menghentikan Daulah Saud yang telah menguasai dua tanah suci Islam, Makkah dan Madinah. Di tangan Muhammad Ali Pasha dan putranya inilah Dinasti Saud runtuh.
Baca juga: Muhammad Ali Pasha (2): Penakluk Dinasti Saud sampai Ottoman
Sejarah mencatat, setelah Muḥammad ibn Saud meninggal, tampuk kepemimpinan diserahkan kepada putranya Abd al-Aziz. Sang putra pun bertekad meneruskan cita-cita ayahnya memperluas wilayah kekuasaan Dinasti Saud.
Sebagaimana ayahnya, Abd al-Aziz tetap memegang sumpah dengan Muḥammad ibn Abd al-Wahhab, dan menjalin persekutuan yang harmonis dengannya.
Abd al-Aziz bersama putranya – Saud ibn Abd al-Aziz (Saud I)-- melakukan ekspansi hingga berhasil menaklukan berbagai wilayah di Semenanjung Arabia. Pada tahun 1797 Qatar berhasil mereka taklukkan, begitu juga Bahrain dan Oman.
Pada tahun 1792, Muḥammad ibn Abd al-Wahhab meninggal pada usia 89 tahun. Tapi cita-cita perjuangannya sudah merasuk ke dalam jiwa darah daging dan keturunannya. Pemurnian Islam menjadi jargon perjuangan Dinasti Saud.
Pada tahun 1801, mereka menyerang Karbala yang menjadi kota suci umat Syiah . Belum lengkap sampai di sini, Saud I melanjutkan ekspansi hingga akhirnya berhasil merebut kota suci Makkah. Namun sepulangnya dari penaklukan yang gilang gemilang ini, Saud I harus mendapati kenyataan, ayahnya Abd al-Aziz meninggal.
Baca juga: Muhammad Ali Pasha (1): Pembantaian Kaum Mamluk di Benteng Kairo
Eamonn Gearon dalam bukunya berjudul Turning Points in Middle Eastern History menyatakan sepak terjang imperium muda ini ternyata mulai menarik perhatian Dinasti Ottoman yang pada masa itu menjadi satu-satunya imperium Islam yang paling kuat.
Di sisi lain, pada tahun 1804, Saud I terus merangsek ke utara dan berhasil merebut Madinah. Selama beberapa tahun kaum Wahabi juga sudah mulai menguasai sistem peribadatan di Tanah Suci.
Baca juga: Muhammad Ali Pasha (2): Penakluk Dinasti Saud sampai Ottoman
Sejarah mencatat, setelah Muḥammad ibn Saud meninggal, tampuk kepemimpinan diserahkan kepada putranya Abd al-Aziz. Sang putra pun bertekad meneruskan cita-cita ayahnya memperluas wilayah kekuasaan Dinasti Saud.
Sebagaimana ayahnya, Abd al-Aziz tetap memegang sumpah dengan Muḥammad ibn Abd al-Wahhab, dan menjalin persekutuan yang harmonis dengannya.
Abd al-Aziz bersama putranya – Saud ibn Abd al-Aziz (Saud I)-- melakukan ekspansi hingga berhasil menaklukan berbagai wilayah di Semenanjung Arabia. Pada tahun 1797 Qatar berhasil mereka taklukkan, begitu juga Bahrain dan Oman.
Pada tahun 1792, Muḥammad ibn Abd al-Wahhab meninggal pada usia 89 tahun. Tapi cita-cita perjuangannya sudah merasuk ke dalam jiwa darah daging dan keturunannya. Pemurnian Islam menjadi jargon perjuangan Dinasti Saud.
Pada tahun 1801, mereka menyerang Karbala yang menjadi kota suci umat Syiah . Belum lengkap sampai di sini, Saud I melanjutkan ekspansi hingga akhirnya berhasil merebut kota suci Makkah. Namun sepulangnya dari penaklukan yang gilang gemilang ini, Saud I harus mendapati kenyataan, ayahnya Abd al-Aziz meninggal.
Baca juga: Muhammad Ali Pasha (1): Pembantaian Kaum Mamluk di Benteng Kairo
Eamonn Gearon dalam bukunya berjudul Turning Points in Middle Eastern History menyatakan sepak terjang imperium muda ini ternyata mulai menarik perhatian Dinasti Ottoman yang pada masa itu menjadi satu-satunya imperium Islam yang paling kuat.
Di sisi lain, pada tahun 1804, Saud I terus merangsek ke utara dan berhasil merebut Madinah. Selama beberapa tahun kaum Wahabi juga sudah mulai menguasai sistem peribadatan di Tanah Suci.
Lihat Juga :