Kisah Sufi Ibrahim bin Adham: Ketika Anaknya Meninggal dalam Pelukannya
Rabu, 03 November 2021 - 15:48 WIB
loading...
A
A
A
“Ini adalah ayahmu.”
Baca juga: Ini Alasan Mengapa Ibrahim bin Adham Tidak Menikah
Kegemparan yang tak terlukiskan muncul. Seluruh orang yang ada di situ dan juga teman-teman Ibrahim menangis tersedu sedan. Begitu anak itu dapat mengendalikan dirinya, dia memberi salam kepada ayahnya. Ibrahim membalas salamnya dan mendekapnya ke dadanya.
“Agama apa yang engkau ikuti?” dia bertanya.
“Agama Islam,” jawab putranya.
“Alhamdulillah,” seru Ibrahim. “Apakah engkau memahami Al-Qur'an?”
“Ya.”
“Alhamdulillah. Sudahkah engkau mempelajari akidah?”
“Sudah.”
Kemudian Ibrahim akan pergi, tetapi anak itu tidak mau melepaskannya. Ibunya berteriak-teriak dengan keras. Memalingkan wajahnya ke atas, Ibrahim menangis, “Ya Allah, tolonglah aku!”
Anak itu tiba-tiba meninggal dalam pelukannya.
“Apa yang terjadi, Ibrahim?” teman-temannya berseru.
“Ketika aku mendekapnya ke dadaku,” Ibrahim menjelaskan, “cintaku padanya menggugah hatiku. Sebuah suara berbicara kepadaku, ‘Ibrahim, engkau mengaku mencintai Aku, dan engkau mencintai yang lainnya bersamaan dengan-Ku. Engkau meminta teman-temanmu untuk tidak memandang kepada wanita atau anak asing mana pun, dan engkau telah melekatkan hatimu pada wanita dan anak itu.’
“Ketika aku mendengar panggilan ini, aku berdoa, ‘Tuhan Yang Maha Mulia, datanglah untuk menolongku! Dia akan menempati hatiku sehingga aku lupa untuk mencintai-Mu. Ambillah nyawanya atau nyawaku.’ Kematiannya adalah jawaban atas doaku.”
Baca juga: Kisah Sufi Ibrahim bin Adham: Perjalanan ke Makkah, Bertemu Daud dan Khidir
Baca juga: Ini Alasan Mengapa Ibrahim bin Adham Tidak Menikah
Kegemparan yang tak terlukiskan muncul. Seluruh orang yang ada di situ dan juga teman-teman Ibrahim menangis tersedu sedan. Begitu anak itu dapat mengendalikan dirinya, dia memberi salam kepada ayahnya. Ibrahim membalas salamnya dan mendekapnya ke dadanya.
“Agama apa yang engkau ikuti?” dia bertanya.
“Agama Islam,” jawab putranya.
“Alhamdulillah,” seru Ibrahim. “Apakah engkau memahami Al-Qur'an?”
“Ya.”
“Alhamdulillah. Sudahkah engkau mempelajari akidah?”
“Sudah.”
Kemudian Ibrahim akan pergi, tetapi anak itu tidak mau melepaskannya. Ibunya berteriak-teriak dengan keras. Memalingkan wajahnya ke atas, Ibrahim menangis, “Ya Allah, tolonglah aku!”
Anak itu tiba-tiba meninggal dalam pelukannya.
“Apa yang terjadi, Ibrahim?” teman-temannya berseru.
“Ketika aku mendekapnya ke dadaku,” Ibrahim menjelaskan, “cintaku padanya menggugah hatiku. Sebuah suara berbicara kepadaku, ‘Ibrahim, engkau mengaku mencintai Aku, dan engkau mencintai yang lainnya bersamaan dengan-Ku. Engkau meminta teman-temanmu untuk tidak memandang kepada wanita atau anak asing mana pun, dan engkau telah melekatkan hatimu pada wanita dan anak itu.’
“Ketika aku mendengar panggilan ini, aku berdoa, ‘Tuhan Yang Maha Mulia, datanglah untuk menolongku! Dia akan menempati hatiku sehingga aku lupa untuk mencintai-Mu. Ambillah nyawanya atau nyawaku.’ Kematiannya adalah jawaban atas doaku.”
Baca juga: Kisah Sufi Ibrahim bin Adham: Perjalanan ke Makkah, Bertemu Daud dan Khidir
(mhy)
Lihat Juga :