Kisah Raksasa yang Gagal Membunuh Guru Sufi
Kamis, 11 November 2021 - 17:30 WIB
loading...
A
A
A
Keluhan ringan tersebut menggentarkan si raksasa dan muncul keraguan untuk menyerang lagi Sufi itu. Bagaimanapun, bila seorang dipukul tujuh kali sekuat tenaga dengan batang pohon oleh raksasa, orang itu seharusnya sudah ...
Pagi harinya, raksasa itu melemparkan sebuah kantong air dari kulit lembu pada Sang Sufi lalu berkata, "Pergilah mengambil air untuk sarapan, supaya kita bisa minum teh."
Alih-alih menggunakan kantong air itu (yang tentu sangat berat untuk diangkat), guru itu berjalan ke sungai yang terdekat dan mulai menggali saluran kecil menuju gua. Raksasa sudah kehausan, dan bertanya "Mengapa kau tidak bawa airnya?"
"Bersabarlah, temanku. Aku sedang membuatkanmu saluran air. Dengan begitu, air segar akan langsung menuju mulut gua, dan kau tidak usah lagi minum air dari kulit lembu."
Tetapi, raksasa itu pun sudah terlampau haus untuk menunggu. Ia pergi ke sungai dan mengisi sendiri kantong airnya. Ketika teh selesai dibuat, ia minum beberapa galon, dan kemampuan berpikirnya jadi lebih baik. "Jikalau kau memang demikian perkasa --dan sudah kusaksikan itu-- tak sanggupkah kau menggali saluran itu secepat mungkin, bukannya jengkal demi jengkal?"
"Sebab," kilah guru itu, "sesuatu yang berharga barulah sungguh-sungguh berharga bila dilakukan dengan upaya sekecil mungkin. Semua hal punya ukuran upaya masing-masing; dan aku melakukan upaya seminim mungkin untuk menggali saluran ini. Lagipula, aku tahu bahwa kau adalah mahluk yang terpenjara dalam kebiasaan sehingga kau akan selalu menggunakan kantor air dari kulit lembu."
Idries Shah dalam bukunya berjudul Tales of The Dervishes menjelaskan kisah ini sering terdengar dalam percakapan di kedai-kedai teh di Asia Tengah, dan menyerupai dongeng rakyat di Eropa pada abad pertengahan.
Versi ini diambil dari Majmua (koleksi darwis) yang aslinya ditulis oleh Hikayati pada abad kesebelas, menurut halaman penerbit, tetapi versi yang ditampilkan di sini tertera dari abad ke enambelas.
Baca juga: Sahabat Nabi yang Sufi sampai Imam Hasan al-Basri
Pagi harinya, raksasa itu melemparkan sebuah kantong air dari kulit lembu pada Sang Sufi lalu berkata, "Pergilah mengambil air untuk sarapan, supaya kita bisa minum teh."
Alih-alih menggunakan kantong air itu (yang tentu sangat berat untuk diangkat), guru itu berjalan ke sungai yang terdekat dan mulai menggali saluran kecil menuju gua. Raksasa sudah kehausan, dan bertanya "Mengapa kau tidak bawa airnya?"
"Bersabarlah, temanku. Aku sedang membuatkanmu saluran air. Dengan begitu, air segar akan langsung menuju mulut gua, dan kau tidak usah lagi minum air dari kulit lembu."
Tetapi, raksasa itu pun sudah terlampau haus untuk menunggu. Ia pergi ke sungai dan mengisi sendiri kantong airnya. Ketika teh selesai dibuat, ia minum beberapa galon, dan kemampuan berpikirnya jadi lebih baik. "Jikalau kau memang demikian perkasa --dan sudah kusaksikan itu-- tak sanggupkah kau menggali saluran itu secepat mungkin, bukannya jengkal demi jengkal?"
"Sebab," kilah guru itu, "sesuatu yang berharga barulah sungguh-sungguh berharga bila dilakukan dengan upaya sekecil mungkin. Semua hal punya ukuran upaya masing-masing; dan aku melakukan upaya seminim mungkin untuk menggali saluran ini. Lagipula, aku tahu bahwa kau adalah mahluk yang terpenjara dalam kebiasaan sehingga kau akan selalu menggunakan kantor air dari kulit lembu."
Idries Shah dalam bukunya berjudul Tales of The Dervishes menjelaskan kisah ini sering terdengar dalam percakapan di kedai-kedai teh di Asia Tengah, dan menyerupai dongeng rakyat di Eropa pada abad pertengahan.
Versi ini diambil dari Majmua (koleksi darwis) yang aslinya ditulis oleh Hikayati pada abad kesebelas, menurut halaman penerbit, tetapi versi yang ditampilkan di sini tertera dari abad ke enambelas.
Baca juga: Sahabat Nabi yang Sufi sampai Imam Hasan al-Basri
(mhy)
Lihat Juga :