Surat Yasin Ayat 30-31: Belajar dari Kisah-Kisah Terdahulu
Kamis, 09 Desember 2021 - 17:42 WIB
loading...
A
A
A
Terkait kata ini, ada dua riwayat yang dinukil oleh Thabari dalam tafsirnya, pertama riwayat dari Qatadah, ia berpendapat bahwa perkara yang mereka sesali adalah menelantarkan perintah-perintah Allah. Sedangkan riwayat kedua dari Mujahid, bahwa penyesalan mereka adalah mengolok-olok para utusan-Nya.
Quraish Shihab dalam "Tafsir Al-Misbah" menyebut huruf ya’ yang menyertai kata tersebut berfungsi sebagai pengundang mitra bicara, yang dalam konteks ayat ini adalah ‘Ibad (hamba-hamba).
Seyogyanya sebagai hamba mereka harus menyambut panggilan/seruan ilahi yang dibawa oleh para Rasul, namun mereka malah menampiknya, maka wajar apabila mereka merasa sangat menyesal.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 26-27: Pesan Damai Habib al-Najjar saat Dirajam
Sedangkan menurut al-Thabari dalam "Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an", ayat 31 ditujukan kepada kaum kafir era Nabi Muhammad, di mana Allah ingin menyatakan kepada mereka agar mau mengambil pelajaran dari nenek moyang mereka yang telah diazab terlebih dahulu.
Terlebih lagi kata kam ahlakna menurut Ibnu ‘Ayur dalam “al-Tahrîr wa al-Tanwîr” menunjukkan makna jumlah al katsrah, yakni sudah banyak peristiwa serupa terjadi pada masa lampau, seperti yang terjadi pada kaum ‘Ad, Tsamud, dan sebagainya.
Namun Dr. Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir menilai ayat ini tidak hanya berfokus pada era Nabi Muhammad, menurutnya kata al-Qurun dalam ayat ini bermakna al-umam yang berarti umat-umat. Ini mengindikasikan bahwa ayat ini tidak hanya ditujukan – sebagai pelajaran – kepada orang kafir dimasa Nabi, namun juga kepada generasi-generasi setelahnya (sampai sekarang) agar tidak lupa terhadap sejarah umat masa lalu yang telah diceritakan al-Quran sehingga dapat mengambil pelajaran darikisah tersebut.
Sedangkan kata yarji’un berasal dari akar kata ra-ja-‘a, yang berarti kembali. Zamakshyari dalam Tafsir al-Khasysyaf memahami kata ini secara utuh sebagai kesatuan ayat bahwa, tidakkah mereka menyadari betapa banyak kami sudah membinasakan kaum-kaum yang ingkar dari tiap generasi (umat) sebelum mereka dan kondisi mereka tidak bisa kembali kepada para Rasul itu.
Baca juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 20-22: Figur Orang Tak Bernama dari Pinggiran Kota
Zamakhsyari juga menegaskan bahwa ayat ini sekaligus menjadi argumen untuk ahl raj’ah, yakni kaum yang menganggap adanya hari kebangkitan sebelum terjadinya kiamat. Mufassir lain seperti Wahbah Zuhaili dan Ibnu Katsir menyebut kaum ini dengan al-Duhriyyah, yang merujuk pada firman Allah dalam QS al-Jissiyahayat 24 :
Quraish Shihab dalam "Tafsir Al-Misbah" menyebut huruf ya’ yang menyertai kata tersebut berfungsi sebagai pengundang mitra bicara, yang dalam konteks ayat ini adalah ‘Ibad (hamba-hamba).
Seyogyanya sebagai hamba mereka harus menyambut panggilan/seruan ilahi yang dibawa oleh para Rasul, namun mereka malah menampiknya, maka wajar apabila mereka merasa sangat menyesal.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 26-27: Pesan Damai Habib al-Najjar saat Dirajam
Sedangkan menurut al-Thabari dalam "Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an", ayat 31 ditujukan kepada kaum kafir era Nabi Muhammad, di mana Allah ingin menyatakan kepada mereka agar mau mengambil pelajaran dari nenek moyang mereka yang telah diazab terlebih dahulu.
Terlebih lagi kata kam ahlakna menurut Ibnu ‘Ayur dalam “al-Tahrîr wa al-Tanwîr” menunjukkan makna jumlah al katsrah, yakni sudah banyak peristiwa serupa terjadi pada masa lampau, seperti yang terjadi pada kaum ‘Ad, Tsamud, dan sebagainya.
Namun Dr. Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir menilai ayat ini tidak hanya berfokus pada era Nabi Muhammad, menurutnya kata al-Qurun dalam ayat ini bermakna al-umam yang berarti umat-umat. Ini mengindikasikan bahwa ayat ini tidak hanya ditujukan – sebagai pelajaran – kepada orang kafir dimasa Nabi, namun juga kepada generasi-generasi setelahnya (sampai sekarang) agar tidak lupa terhadap sejarah umat masa lalu yang telah diceritakan al-Quran sehingga dapat mengambil pelajaran darikisah tersebut.
Sedangkan kata yarji’un berasal dari akar kata ra-ja-‘a, yang berarti kembali. Zamakshyari dalam Tafsir al-Khasysyaf memahami kata ini secara utuh sebagai kesatuan ayat bahwa, tidakkah mereka menyadari betapa banyak kami sudah membinasakan kaum-kaum yang ingkar dari tiap generasi (umat) sebelum mereka dan kondisi mereka tidak bisa kembali kepada para Rasul itu.
Baca juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 20-22: Figur Orang Tak Bernama dari Pinggiran Kota
Zamakhsyari juga menegaskan bahwa ayat ini sekaligus menjadi argumen untuk ahl raj’ah, yakni kaum yang menganggap adanya hari kebangkitan sebelum terjadinya kiamat. Mufassir lain seperti Wahbah Zuhaili dan Ibnu Katsir menyebut kaum ini dengan al-Duhriyyah, yang merujuk pada firman Allah dalam QS al-Jissiyahayat 24 :
Lihat Juga :