Kisah Hikmah: Terjebak karena Mengikuti Omongan Orang Lain
Sabtu, 11 Desember 2021 - 13:20 WIB
loading...
A
A
A
Kisah ini dinukil Yusuf Burhanudin dalam bukunya berjudul "Saat Tuhan Menyapa Hatimu" untuk menjelaskan betapa lelah jika kita meretas misi dan perjuangan hidup hanya demi mendapatkan kerelaan semua orang. Karena, seperti dipesankan Juha pada anaknya kemudian, mengharapkan kerelaan semua orang itu sesuatu yang tidak ada batasnya. Satu dengan yang lain relatif berbeda, masing-masing memiliki pendirian dan pendapat karena memang berbeda pikiran dan cara pandang.
"Kita salah bercermin jika ukuran perbuatan baik kita selalu ditinjau dari kacamata orang lain yang berseberangan pandang dengan diri kita. Selamanya kita akan merasa salah dan bimbang jika yang menjadi kacamata penilaian adalah melulu pendapat orang lain," ujarnya.
Selalu latah mengikuti pendapat orang lain tanpa pendirian yang kukuh terhadap prinsip hidup sendiri sebetulnya akan mengantarkan dirinya pada gejolak psikologis yang plinplan dan bermental bunglon, selalu berubah-ubah warna sesuai dengan yang ditempelinya demi keamanan dan kenyamanan dirinya sendiri.
Konsekuen dengan kebenaran berbeda dengan sikap egois. Konsekuen berarti bagaimana menempatkan sesuatu sesuai dengan posisinya dan bersikap sesuai dengan pendirian ilmu. Tegas terhadap kebenaran (istiqamah), namun tetap menghargai keragaman dan keberbedaan.
"Di sinilah, kisah itu juga mengingatkan kita tentang keragaman hidup dalam berbagai warna, agama, bahkan mazhab dan aliran masing-masing. Kita senantiasa dituntut hidup harmonis dengan saling mendahulukan sikap tenggang rasa satu sama lainnya," ujar Yusuf Burhanudin.
Pelajaran terakhir adalah setinggi-tingginya misi perjuangan dan pengabdian seyogianya ditunjang dengan ilmu yang memadai. Perjuangan yang tanpa ilmu memiliki konsekuensi kekeliruan yang besar, yang bukan saja dirinya tersesat, tetapi juga menyesatkan orang lain yang diajarinya. Kukuhnya ilmu kian memperkuat kebenaran dan menjadi pelita bagi jalan perjuangan tanpa harus lirik kiri dan tengok kanan demi mengharapkan kerelaan orang lain.
Pernah suatu kali Nabi SAW ditegur Allah SWT karena mengharamkan madu hanya karena ingin meredam kecemburuan kedua istrinya, Siti Aisyah dan Siti Hafshah. Pasalnya, beliau meminum madu tersebut di rumah istrinya yang lain, Siti Zainab.
Ada juga riwayat yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut seputar kasus Siti Maria Al-Qibthiyah, ummahat al-mu'minin, yang Nabi SAW berjanji tidak akan menggaulinya sedangkan Maria jelas-jelas seorang istri beliau.
Perilaku Nabi SAW ini kemudian mendapat teguran Allah SWT secara langsung melalui firman-Nya, "Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan kepadamu: kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS Al-Tahrim : 1).
Baca juga: Kisah Hikmah : Pesan dari Kuburan
"Kita salah bercermin jika ukuran perbuatan baik kita selalu ditinjau dari kacamata orang lain yang berseberangan pandang dengan diri kita. Selamanya kita akan merasa salah dan bimbang jika yang menjadi kacamata penilaian adalah melulu pendapat orang lain," ujarnya.
Selalu latah mengikuti pendapat orang lain tanpa pendirian yang kukuh terhadap prinsip hidup sendiri sebetulnya akan mengantarkan dirinya pada gejolak psikologis yang plinplan dan bermental bunglon, selalu berubah-ubah warna sesuai dengan yang ditempelinya demi keamanan dan kenyamanan dirinya sendiri.
Konsekuen dengan kebenaran berbeda dengan sikap egois. Konsekuen berarti bagaimana menempatkan sesuatu sesuai dengan posisinya dan bersikap sesuai dengan pendirian ilmu. Tegas terhadap kebenaran (istiqamah), namun tetap menghargai keragaman dan keberbedaan.
"Di sinilah, kisah itu juga mengingatkan kita tentang keragaman hidup dalam berbagai warna, agama, bahkan mazhab dan aliran masing-masing. Kita senantiasa dituntut hidup harmonis dengan saling mendahulukan sikap tenggang rasa satu sama lainnya," ujar Yusuf Burhanudin.
Pelajaran terakhir adalah setinggi-tingginya misi perjuangan dan pengabdian seyogianya ditunjang dengan ilmu yang memadai. Perjuangan yang tanpa ilmu memiliki konsekuensi kekeliruan yang besar, yang bukan saja dirinya tersesat, tetapi juga menyesatkan orang lain yang diajarinya. Kukuhnya ilmu kian memperkuat kebenaran dan menjadi pelita bagi jalan perjuangan tanpa harus lirik kiri dan tengok kanan demi mengharapkan kerelaan orang lain.
Pernah suatu kali Nabi SAW ditegur Allah SWT karena mengharamkan madu hanya karena ingin meredam kecemburuan kedua istrinya, Siti Aisyah dan Siti Hafshah. Pasalnya, beliau meminum madu tersebut di rumah istrinya yang lain, Siti Zainab.
Ada juga riwayat yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut seputar kasus Siti Maria Al-Qibthiyah, ummahat al-mu'minin, yang Nabi SAW berjanji tidak akan menggaulinya sedangkan Maria jelas-jelas seorang istri beliau.
Perilaku Nabi SAW ini kemudian mendapat teguran Allah SWT secara langsung melalui firman-Nya, "Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan kepadamu: kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS Al-Tahrim : 1).
Baca juga: Kisah Hikmah : Pesan dari Kuburan
(mhy)
Lihat Juga :