Nabi Isa dan Burung yang Terbuat dari Tanah Liat Bisa Terbang
Minggu, 26 Desember 2021 - 08:30 WIB
loading...
A
A
A
Alasan mengapa orang tidak bekerja pada hari Sabat sudah dilupakan. Manakah yang tipuan dan mana yang bukan, serta segala pengetahuan tentang hal itu merupakan sebuah kecacatan dari para pemuka agama tersebut. Maksud dan tujuan dari suatu keterampilan dan tindakan tidak diketahui oleh mereka, itu pula yang terjadi dalam peristiwa pemanjangan papan kayu.
Baca juga: Kisah Sufi Syaikh Ali Farmadhi: Orang yang Hidupnya Tak Terpahami
Lebih lanjut dikisahkan bahwa suatu hari Isa, putra Maryam, sedang berada di tempat kerja Yusuf, Si Tukang Kayu. Ketika sepotong papan dirasa kependekan, Isa menariknya, dan entah bagaimana kayu itu, dengan cara tertentu, menjadi lebih panjang.
Ketika kisah ini terdengar oleh khalayak, sebagian berkata, "Yang Ia lakukan itu mukjizat, niscaya anak ini akan menjadi orang suci."
Kata yang lain, "Kami tidak mempercayainya, kecuali jika kami melihatnya dengan mata kami sendiri.
"Kelompok ketiga berkata, "Mukjizat itu tidak mungkin benar adanya, karena itu harus dihapuskan dari buku-buku."
Ketiga kelompok itu, dengan perkiraan masing-masing, mendapat jawaban yang sama sebab tak ada dari mereka yang mengetahui tujuan dan arti sesungguhnya yang terkandung dalam pernyataan: "Ia memanjangkan sepotong papan."
Kisah ini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam bukunya berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.
Baca juga: Kisah Sufi Bayazid: Rapuhnya Pemisah antara Kita dan Maut
Baca juga: Kisah Sufi Syaikh Ali Farmadhi: Orang yang Hidupnya Tak Terpahami
Lebih lanjut dikisahkan bahwa suatu hari Isa, putra Maryam, sedang berada di tempat kerja Yusuf, Si Tukang Kayu. Ketika sepotong papan dirasa kependekan, Isa menariknya, dan entah bagaimana kayu itu, dengan cara tertentu, menjadi lebih panjang.
Ketika kisah ini terdengar oleh khalayak, sebagian berkata, "Yang Ia lakukan itu mukjizat, niscaya anak ini akan menjadi orang suci."
Kata yang lain, "Kami tidak mempercayainya, kecuali jika kami melihatnya dengan mata kami sendiri.
"Kelompok ketiga berkata, "Mukjizat itu tidak mungkin benar adanya, karena itu harus dihapuskan dari buku-buku."
Ketiga kelompok itu, dengan perkiraan masing-masing, mendapat jawaban yang sama sebab tak ada dari mereka yang mengetahui tujuan dan arti sesungguhnya yang terkandung dalam pernyataan: "Ia memanjangkan sepotong papan."
Kisah ini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam bukunya berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.
Baca juga: Kisah Sufi Bayazid: Rapuhnya Pemisah antara Kita dan Maut
(mhy)
Lihat Juga :