Kisah Sufi Tarekat Asaaseen: Orang Berjalan di Atas Air
Senin, 27 Desember 2021 - 11:49 WIB
loading...
A
A
A
Kini, ia tak lagi mendengar suara dari gubug alang-alang itu, dan yakin bahwa pelajarannya sudah diterima dengan baik.
Kemudian, didengarnya darwis kedua itu mulai mengulang-ulang ungkapannya; tetapi ucapan U YA itu kembali keliru dilafalkan ...
Sementara darwis pertama memikirkan hal ini, merenungkan betapa manusia sering kali keras kepala mempertahankan kekeliruan, tiba-tiba ia melihat pemandangan yang ganjil dari pulau itu darwis kedua datang menuju perahunya, berjalan di atas air!
Ia pun berhenti mendayung karena takjub. Darwis kedua tadi mendekatinya dan berkata, "Saudara, maaf saya mengganggu Saudara, tetapi saya harus menemui Saudara untuk menanyakan kembali cara pengucapan yang benar yang Saudara sampaikan tadi, sebab saya kesulitan untuk mengingatnya."
Baca juga: Kisah Sufi Syaikh Ali Farmadhi: Orang yang Hidupnya Tak Terpahami
Menurut Idries Shah, dalam bahasa Inggris hanya satu arti yang bisa kita tangkap dari kisah ini. Versi Arab sering menggunakan kata-kata yang bunyinya sama tetapi artinya berbeda (homonim) untuk menandakan bahwa kata itu dimaksudkan untuk memperdalam kesadaran, dan juga untuk menunjukkan suatu moral yang dangkal nilainya.
Kisah ini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam bukunya berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi. Juga oleh Sapardi Djoko Damono dalam buku Kisah-Kisah Sufi, Kumpulan Kisah Nasehat Para Guru Sufi Selama Seribu Tahun yang Lampau.
Baca juga: Kisah Sufi Bayazid: Rapuhnya Pemisah antara Kita dan Maut
Kemudian, didengarnya darwis kedua itu mulai mengulang-ulang ungkapannya; tetapi ucapan U YA itu kembali keliru dilafalkan ...
Sementara darwis pertama memikirkan hal ini, merenungkan betapa manusia sering kali keras kepala mempertahankan kekeliruan, tiba-tiba ia melihat pemandangan yang ganjil dari pulau itu darwis kedua datang menuju perahunya, berjalan di atas air!
Ia pun berhenti mendayung karena takjub. Darwis kedua tadi mendekatinya dan berkata, "Saudara, maaf saya mengganggu Saudara, tetapi saya harus menemui Saudara untuk menanyakan kembali cara pengucapan yang benar yang Saudara sampaikan tadi, sebab saya kesulitan untuk mengingatnya."
Baca juga: Kisah Sufi Syaikh Ali Farmadhi: Orang yang Hidupnya Tak Terpahami
Menurut Idries Shah, dalam bahasa Inggris hanya satu arti yang bisa kita tangkap dari kisah ini. Versi Arab sering menggunakan kata-kata yang bunyinya sama tetapi artinya berbeda (homonim) untuk menandakan bahwa kata itu dimaksudkan untuk memperdalam kesadaran, dan juga untuk menunjukkan suatu moral yang dangkal nilainya.
Kisah ini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam bukunya berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi. Juga oleh Sapardi Djoko Damono dalam buku Kisah-Kisah Sufi, Kumpulan Kisah Nasehat Para Guru Sufi Selama Seribu Tahun yang Lampau.
Baca juga: Kisah Sufi Bayazid: Rapuhnya Pemisah antara Kita dan Maut
(mhy)
Lihat Juga :