Surat Yasin Ayat 39-40: Ayat-Ayat Sains tentang Perputaran Bulan dan Matahari
Kamis, 30 Desember 2021 - 14:01 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Surat Yasin Ayat 37: Siang dan Malam Sebagai Tanda Kekuasaan Allah SWT
Begitupun manusia. Perjalanannya mirip seperti bulan, ia beranjak tumbuh sedikit-demi sedikit, dari bayi, terlentang, merangkak, berjalan menjadi anak-anak, tumbuh sebagai remaja, hingga dewasa. Ketika tua, kekuatannya akan menurun, membungkuk, semakin lemah, hingga lelap, dan menutup usia.
Matahari dan bulan adalah dua makhluk ciptaan Allah yang memiliki keistimewaan tersendiri. Menurut Qurthubi, keduanya tercipta dari api, yang kemudian dibungkus oleh cahaya. Matahari dibungkus oleh cahaya ‘Ars, sedangkan bulan dibungkus dari cahaya Kursiy.
Keduanya beredar sesuai ketentuan, Mujahid berkata, “Keduanya memiliki batasan yang telah ditentukan, tidak mungkin mendahului atau membelakangi, apabila penguasa siang (matahari) datang, maka penguasa malam (bulan) hilang, begitupun sebaliknya”
Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah menambahi, bahwa kata yanbaghi (يَنْبَغِيْ) mulanya bemakna “meminta sesuatu lalu memperolehnya”, proses ini kemudian melahirkan makna baru, yaitu “dapat/mampu”. Sehingga konteks ayat ini bisa dimaknai dengan ketidakmampuan bulan dan matahari untuk saling mendahului.
Menariknya, Zuhaili dalam tafsir Al-Munir mengumpamakan tata surya sebagai lautan dan matahari, bulan, dan bumi sedang berenang di dalamnya. Karena itu pula redaksi akhir ayat 40 menggunakan kata يَسْبَحُوْن (yasbahun) yang berarti berenang.
Menurutnya, dalam 1 tahun matahari berotasi pada teritorinya (mengitari bumi) sekitar jarak tempuh 93 juta mil. Sedangkan bulan beredar mengelilingi bumi setiap bulannya terhitung 240 ribu mil, adapun bumi beredar mengelilingi matahari, satu putaran terhitung sama dengan 1 tahun (365 hari).
Baca juga: Surat Yasin Ayat 36: Hikmah Allah SWT Ciptakan Semua Berpasang-pasangan
Lebih jauh lagi jika melihat jarak dengan bintan-bintang yang dinamai dengan galaxy, untuk menempuhnya membutuhkan kecepatan cahaya sekitar 104.000.000.000 mil/detik, sedangkan antara bumi ke matahari dan bulan membutuhkan kecepatan cahaya sekitar 186.000 mil/detik.
Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar menilai bahwa ayat ini memperlihatkan betapa kuasanya Allah dan kecilnya manusia. Semakin seseorang melihat ke langit, semakin kecil sesuatu yang terlihat, maka sejatinya adalah yang paling besar. Dan sebesar-besarnya sesuatu itu, ia tetaplah makhluk ciptaan Allah.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 33-35: Kekuasaan Allah SWT, Menghidupkan Bumi yang Mati
Begitupun manusia. Perjalanannya mirip seperti bulan, ia beranjak tumbuh sedikit-demi sedikit, dari bayi, terlentang, merangkak, berjalan menjadi anak-anak, tumbuh sebagai remaja, hingga dewasa. Ketika tua, kekuatannya akan menurun, membungkuk, semakin lemah, hingga lelap, dan menutup usia.
Matahari dan bulan adalah dua makhluk ciptaan Allah yang memiliki keistimewaan tersendiri. Menurut Qurthubi, keduanya tercipta dari api, yang kemudian dibungkus oleh cahaya. Matahari dibungkus oleh cahaya ‘Ars, sedangkan bulan dibungkus dari cahaya Kursiy.
Keduanya beredar sesuai ketentuan, Mujahid berkata, “Keduanya memiliki batasan yang telah ditentukan, tidak mungkin mendahului atau membelakangi, apabila penguasa siang (matahari) datang, maka penguasa malam (bulan) hilang, begitupun sebaliknya”
Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah menambahi, bahwa kata yanbaghi (يَنْبَغِيْ) mulanya bemakna “meminta sesuatu lalu memperolehnya”, proses ini kemudian melahirkan makna baru, yaitu “dapat/mampu”. Sehingga konteks ayat ini bisa dimaknai dengan ketidakmampuan bulan dan matahari untuk saling mendahului.
Menariknya, Zuhaili dalam tafsir Al-Munir mengumpamakan tata surya sebagai lautan dan matahari, bulan, dan bumi sedang berenang di dalamnya. Karena itu pula redaksi akhir ayat 40 menggunakan kata يَسْبَحُوْن (yasbahun) yang berarti berenang.
Menurutnya, dalam 1 tahun matahari berotasi pada teritorinya (mengitari bumi) sekitar jarak tempuh 93 juta mil. Sedangkan bulan beredar mengelilingi bumi setiap bulannya terhitung 240 ribu mil, adapun bumi beredar mengelilingi matahari, satu putaran terhitung sama dengan 1 tahun (365 hari).
Baca juga: Surat Yasin Ayat 36: Hikmah Allah SWT Ciptakan Semua Berpasang-pasangan
Lebih jauh lagi jika melihat jarak dengan bintan-bintang yang dinamai dengan galaxy, untuk menempuhnya membutuhkan kecepatan cahaya sekitar 104.000.000.000 mil/detik, sedangkan antara bumi ke matahari dan bulan membutuhkan kecepatan cahaya sekitar 186.000 mil/detik.
Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar menilai bahwa ayat ini memperlihatkan betapa kuasanya Allah dan kecilnya manusia. Semakin seseorang melihat ke langit, semakin kecil sesuatu yang terlihat, maka sejatinya adalah yang paling besar. Dan sebesar-besarnya sesuatu itu, ia tetaplah makhluk ciptaan Allah.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 33-35: Kekuasaan Allah SWT, Menghidupkan Bumi yang Mati
(mhy)
Lihat Juga :