Surat Yasin Ayat 36: Hikmah Allah SWT Ciptakan Semua Berpasang-pasangan
Kamis, 23 Desember 2021 - 12:22 WIB
loading...
Surat Yasin ayat 36 menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan makhluknya secara berpasang-pasangan. (Foto/Iustrasi: Ist)
A
A
A
Surat Yasin ayat 36 menjelaskan bahwa segala sesuatu yang telah Allah SWT ciptakan sejatinya tidak tunggal, tetapi berpasang-pasangaan. Pada ayat ini Allah ingin menunjukkan hikmahnya kepada kita semua melalui rangkaian penafsiran para ulama.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 33-35: Kekuasaan Allah SWT, Menghidupkan Bumi yang Mati
Allah SWT berfirman:
Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS Yasin : 36)
Tafsir al-Qurthubi menjelaskan permulaan ayat ini menggunakan redaksi subhanalladzi khalaqa yang setidaknya memiliki dua makna.
Pertama, adalah bentuk pujian Allah atas diri-Nya, dari tingkah kaum durhaka, yakni; mereka yang menyembah selain Allah, berpaling dari tanda-tanda kekuasan-Nya, dan tidak mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada mereka.
Kedua, kata subhana memiliki makna ta’ajjub. Yakni merasa heran atas kedurhakaan kaum tersebut, padahal mereka menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah akan tetapi mereka berpaling. Seharusnya, ketika menyaksikan tanda-tanda itu mereka berucap, Subhanaallah.
Adapun kata al-azwaj secara umum dipahami dengan berpasang-pasangan. Konteksnya pada ayat ini, memunculkan beberapa makna yang digunakan oleh para mufassir.
Zamakhsyari dalam Kitab Tafsir al-Khasysyaf menilai kata azwaj dengan al-ajnas/al-ashnaf yang bermakna jenis/golongan tumbuhan, bahwa Allah menciptakan tumbuhan itu dengan beragam jenis, ciri, warna, dan bentuk, untuk saling menyatukan dan memberi manfaat.
Ini diperkuat dengan kata yang setelahnya mimma tunbitul ardh yang secara tegas menunjukkan segala sesuatu yang tumbuh di bumi, seperti ; buah, tanaman, dan tumbuhan yang lain.
Disisi lain, kata azwaj juga memiliki makna berpasangan antara betina-jantan, pria-wanita, apabila disandingkan dengan kata min anfusihim. Pendapat ini dipakai oleh Ibnu Kathir, Thabari, Zamaksyari, Qurthubi, dan Zuhaili.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 30-31: Belajar dari Kisah-Kisah Terdahulu
Baca juga: Surat Yasin Ayat 33-35: Kekuasaan Allah SWT, Menghidupkan Bumi yang Mati
Allah SWT berfirman:
سُبْحٰنَ الَّذِيْ خَلَقَ الْاَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَ
Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS Yasin : 36)
Tafsir al-Qurthubi menjelaskan permulaan ayat ini menggunakan redaksi subhanalladzi khalaqa yang setidaknya memiliki dua makna.
Pertama, adalah bentuk pujian Allah atas diri-Nya, dari tingkah kaum durhaka, yakni; mereka yang menyembah selain Allah, berpaling dari tanda-tanda kekuasan-Nya, dan tidak mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada mereka.
Kedua, kata subhana memiliki makna ta’ajjub. Yakni merasa heran atas kedurhakaan kaum tersebut, padahal mereka menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah akan tetapi mereka berpaling. Seharusnya, ketika menyaksikan tanda-tanda itu mereka berucap, Subhanaallah.
Adapun kata al-azwaj secara umum dipahami dengan berpasang-pasangan. Konteksnya pada ayat ini, memunculkan beberapa makna yang digunakan oleh para mufassir.
Zamakhsyari dalam Kitab Tafsir al-Khasysyaf menilai kata azwaj dengan al-ajnas/al-ashnaf yang bermakna jenis/golongan tumbuhan, bahwa Allah menciptakan tumbuhan itu dengan beragam jenis, ciri, warna, dan bentuk, untuk saling menyatukan dan memberi manfaat.
Ini diperkuat dengan kata yang setelahnya mimma tunbitul ardh yang secara tegas menunjukkan segala sesuatu yang tumbuh di bumi, seperti ; buah, tanaman, dan tumbuhan yang lain.
Disisi lain, kata azwaj juga memiliki makna berpasangan antara betina-jantan, pria-wanita, apabila disandingkan dengan kata min anfusihim. Pendapat ini dipakai oleh Ibnu Kathir, Thabari, Zamaksyari, Qurthubi, dan Zuhaili.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 30-31: Belajar dari Kisah-Kisah Terdahulu
Lihat Juga :