Belajar dari Imam Al-Auza'i Menolak Gratifikasi, Berikut Kisahnya

loading...
Belajar dari Imam Al-Auzai Menolak Gratifikasi, Berikut Kisahnya
Kisah Imam Al-Auzai menolak hadiah pemberian dari seseorang yang meminta tolong kepadanya patut dijadikan pelajaran berharga. Foto ilustrasi/Ist
Imam Al-Auza'i (88-157 Hijriyah) atau Tahun 774 Masehi adalah ulama ahlussunnah yang juga seorang "Syaikh Islam" di wilayah Syam. Beliau bermukim di Al-Auza', kampung kecil di daerah Bab Al-Faradis, dekat Damaskus. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Amr bin Yuhmad Al-Auza'i.

Imam Al-Auza'i dikenal sebagai salah satu ulama yang teguh menyuarakan keadilan. Melansir dari portal islami.co, Imam Al-Auza'i tidak pernah memandang ras atau agama dalam menyuarakan keadilan. Ketika kaum Nasrani dizalimi, Al-Auza'i tak segan membelanya. Tak heran jika kemudian beliau sangat dihormati oleh kaum Nasrani.

Kemampuan Al-Auza'i dalam berkorespondensi juga menjadi salah satu penunjangnya. Beliau dikenal sebagai penulis yang andal. Kemampuan itu terlihat dari surat-surat yang telah ia tulis. Baik yang ditujukan kepada khalifah ataupun yang lain. Selain bahasa yang digunakan sangat indah, sistematika penulisan yang disajikan juga runtut. Sebagaimana penulis pada umumnya yang menghendaki bahasa indah, namun lupa pada tujuannya. Sementara Al-Auza'i tidak.

Bahkan Khalifah Ja'far al-Manshur pernah mengumpulkan surat-surat Al-Auza'i yang pernah ia terima dan tidak sanggup ia balas seraya mengakui kemampuan Al-Auza'i. Memang seringkali ketika ia mendapat surat dari al-Auza’i dan memerintahkan penulis di kerajaan untuk membalasnya, kebanyakan mereka tak menyanggupinya.

Bahkan Sulaiman bin Mujalid, salah satu penulis terbaik yang dimiliki oleh Khalifah Manshur pun mengakui bahwa kehebatan menulis Al-Auza'i yang mengagumkan:

مَا أحسن ذاك، وإن لَهُ نظْمًا فِي الكتب لا أظن أحدًا من جميع الناس يقدر عَلَى إجابته عَنْهُ

"Sungguh tulisan-tulisan Al-Auza'i dalam suratnya sangatlah bagus. Karena ia punya struktur dan sistematika penulisan yang sangat baik. Berdasarkan perkiraanku, tak satupun orang di dunia ini yang mampu membalas surat tersebut."

Dengan kemampuan itu, masyarakat sekitar yang punya keperluan kepada khalifah tak perlu repot-repot menulis ataupun menghadap langsung kepadanya. Cukup meminta bantuan Al-Auza'i, maka mereka sudah bisa menyampaikan pesannya. Selain lebih mudah, tentu surat dari al-Auza'i akan lebih didengar oleh pihak istana dari pada orang lain.

Dikisahkan, suatu hari Imam Al-Auza'i didatangi oleh salah seorang Nasrani yang hendak mengajukan keringanan jizyah kepada khalifah. Ia tahu, salah satu orang yang dekat dan didengar oleh khalifah adalah Al-Auza'i. Beliau dikenal sebagai sosok pengayom bagi umat Nasrani di daerah Lebanon.

Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengunjungi Al-Auza'i guna melancarkan ambisinya tersebut. Ia pun membawa satu tempayan madu murni sebagai 'pelicin' rencananya tersebut.
halaman ke-1
cover top ayah
اِنَّ الَّذِيۡنَ اتَّقَوۡا اِذَا مَسَّهُمۡ طٰۤٮِٕفٌ مِّنَ الشَّيۡطٰنِ تَذَكَّرُوۡا فَاِذَا هُمۡ مُّبۡصِرُوۡنَ‌ۚ
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

(QS. Al-A’raf:201)
cover bottom ayah
preload video