Surat Yasin Ayat 55-57: Gambaran Kehidupan Penduduk Surga Bersama Pasangannya
Jum'at, 14 Januari 2022 - 09:22 WIB
loading...
A
A
A
Sama seperti pendapat-pendapat yang dikemukakan al-Thabari di atas terkait kenikmatan surgawi, Imam al-Qusyairi pun berpendapat bahwa surga dipenuhi dengan berbagai kenikmatan.
Namun al-Qusyairi menjelaskan lebih rinci bahwa kenikmatan terbesar dan paling tinggi di dalam surga bagi para penghuninya adalah dapat melihat langsung Allah SWT tanpa suatu penghalang apa pun.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 53-54: Penggiringan Massal dalam Proses Pengadilan Akhirat
Sibuk dengan Kesenangan
Pada hari itu, penduduk surga sibuk dengan kesenangan mereka. Laman Tafsir Al-Quran menyebutkan maksud dari sibuk dengan kesenangan atau bersenang-senang dalam kesibukan ini para ulama berbeda pendapat.
Fakhruddin al-Razi mengemukakan tiga penafsirannya. Yang pertama, bahwa para penghuni surga disibukkan dengan berbagai kenikmatan surga, sehingga tidak merasakan huru-hara kiamat berupa hisab maupun azab.
Kedua, bahwa mereka sibuk beraktivitas, namun bukan aktivitas yang menyusahkan, melainkan aktivitas yang disukai lagi menyenangkan.
Ketiga, bisa jadi mereka sibuk menerka-nerka kenikmatan seperti apa lagi yang akan mereka dapatkan, sebab kenikmatan surgawi yang datang selalu melebihi gambaran imajinasi mereka.
Selain tiga penafsiran tersebut, Nawawi al-Bantani menyebutkan dua penafsiran lain. Menurutnya, kenikmatan yang menyibukkan itu ialah saling berkunjung antarsesama penghuni surga. Bisa pula berarti mereka sibuk bertamu kepada Allah SWT. Melihat Allah SWT bagi ahlus sunnah wal jama’ah merupakan kenikmatan terbesar di akhirat kelak.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 51-52: Ditiupnya Sangkakala Awal Proses Hari Kebangkitan
Para penduduk surga itu bersama pasangannya berada di tempat yang teduh sambil bertelekan di atas dipan-dipan. Hamka dalam tafsir Al-Azhar menjelaskan, mereka nyaman, aman dan tentram di sana, tidak terkena terik panasnya matahari.
Sebagai catatan, berdasarkan hadits sahih riwayat Muslim no. 5108, pada hari kiamat kelak matahari hanya berjarak satu mil dari kepala manusia.
Ilustrasi ini dipilih bisa jadi dengan mempertimbangkan konteks masyarakat Arab abad 7 ketika ayat al-Qur’an ini turun. Dahulu kondisi Arabia identik dengan gurun pasir yang panas lagi gersang. Ketika sedang dalam perjalanan di gurun pasir, tempat berteduh tentu merupakan suatu kenikmatan tersendiri.
Namun al-Qusyairi menjelaskan lebih rinci bahwa kenikmatan terbesar dan paling tinggi di dalam surga bagi para penghuninya adalah dapat melihat langsung Allah SWT tanpa suatu penghalang apa pun.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 53-54: Penggiringan Massal dalam Proses Pengadilan Akhirat
Sibuk dengan Kesenangan
Pada hari itu, penduduk surga sibuk dengan kesenangan mereka. Laman Tafsir Al-Quran menyebutkan maksud dari sibuk dengan kesenangan atau bersenang-senang dalam kesibukan ini para ulama berbeda pendapat.
Fakhruddin al-Razi mengemukakan tiga penafsirannya. Yang pertama, bahwa para penghuni surga disibukkan dengan berbagai kenikmatan surga, sehingga tidak merasakan huru-hara kiamat berupa hisab maupun azab.
Kedua, bahwa mereka sibuk beraktivitas, namun bukan aktivitas yang menyusahkan, melainkan aktivitas yang disukai lagi menyenangkan.
Ketiga, bisa jadi mereka sibuk menerka-nerka kenikmatan seperti apa lagi yang akan mereka dapatkan, sebab kenikmatan surgawi yang datang selalu melebihi gambaran imajinasi mereka.
Selain tiga penafsiran tersebut, Nawawi al-Bantani menyebutkan dua penafsiran lain. Menurutnya, kenikmatan yang menyibukkan itu ialah saling berkunjung antarsesama penghuni surga. Bisa pula berarti mereka sibuk bertamu kepada Allah SWT. Melihat Allah SWT bagi ahlus sunnah wal jama’ah merupakan kenikmatan terbesar di akhirat kelak.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 51-52: Ditiupnya Sangkakala Awal Proses Hari Kebangkitan
Para penduduk surga itu bersama pasangannya berada di tempat yang teduh sambil bertelekan di atas dipan-dipan. Hamka dalam tafsir Al-Azhar menjelaskan, mereka nyaman, aman dan tentram di sana, tidak terkena terik panasnya matahari.
Sebagai catatan, berdasarkan hadits sahih riwayat Muslim no. 5108, pada hari kiamat kelak matahari hanya berjarak satu mil dari kepala manusia.
Ilustrasi ini dipilih bisa jadi dengan mempertimbangkan konteks masyarakat Arab abad 7 ketika ayat al-Qur’an ini turun. Dahulu kondisi Arabia identik dengan gurun pasir yang panas lagi gersang. Ketika sedang dalam perjalanan di gurun pasir, tempat berteduh tentu merupakan suatu kenikmatan tersendiri.
Lihat Juga :