Surat Yasin Ayat 58-59: Salam Perpisahan Penghuni Surga dengan Para Pendosa
Kamis, 20 Januari 2022 - 10:55 WIB
loading...
A
A
A
Sama seperti Umar bin Abdul Aziz, Muhammad bin Ka’ab sebagaimana dikutip Ibnu Jarir al-Thabari juga berpendapat bahwa redaksi ayat ke-58 adalah penjelasan (bayan) bagi kalimat apa yang mereka minta (maa yadda’uun).
Pendapat kedua, ucapan tersebut disampaikan oleh Allah akan tetapi tidak secara langsung, bisa melalui perantara malaikat, atau berupa suara Allah saja tanpa memperlihatkan wujud-Nya. Seperti yang pernah dialami oleh Nabi Musa ketika berada di Bukit Tursina.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 53-54: Penggiringan Massal dalam Proses Pengadilan Akhirat
Menurut Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah, kata Salam (سلام) terambil dari kata salima (سَلِمَ), dan memiliki dua model pemaknaan, yakni aktif dan pasif.
Makna aktif misalnya ketika memperoleh sesuatu yang disenangi dan diidamkan, termasuk ucapan Salam pada ayat ini.
Sedangkan makna pasif yakni Salam sebagai bentuk doa agar terselamatkan atau terhindar dari sesuatu yang tidak menyenangkan. Salam yang demikian mirip dengan apa yang sering diucapkan ketika di dunia yakni assalamu’alaikum.
Ini sekaligus menegaskan bahwa ucapan Salam ketika di dunia berbeda dengan di surga, adapun ucapan Salam yang berbentuk doa seperti assalamu’alaikum tidak diperlukan lagi di surga karena mereka sudah berada dalam negeri yang damai nan kekal yakni Dar al-Salam.
Berbanding terbalik dengan kondisi orang kafir ketika itu, mereka justru diusir dan diacuhkan oleh Allah SWT. Menurut Ibnu ‘Asyur, kata imtazu (امتازوا) terambil dari kata mazah (مَازَه) yakni memisahkan sesuatu yang bercampur dengannya.
Beberapa mufassir menggambarkan kondisi saat itu. Orang kafir dan mukmin berada pada suatu tempat yang sama, namun kaum Mukminin diperintahkan masuk ke dalam surga sedangkan mereka yang kafir dijerumuskan ke dalam neraka.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 51-52: Ditiupnya Sangkakala Awal Proses Hari Kebangkitan
Pendapat kedua, ucapan tersebut disampaikan oleh Allah akan tetapi tidak secara langsung, bisa melalui perantara malaikat, atau berupa suara Allah saja tanpa memperlihatkan wujud-Nya. Seperti yang pernah dialami oleh Nabi Musa ketika berada di Bukit Tursina.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 53-54: Penggiringan Massal dalam Proses Pengadilan Akhirat
Menurut Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah, kata Salam (سلام) terambil dari kata salima (سَلِمَ), dan memiliki dua model pemaknaan, yakni aktif dan pasif.
Makna aktif misalnya ketika memperoleh sesuatu yang disenangi dan diidamkan, termasuk ucapan Salam pada ayat ini.
Sedangkan makna pasif yakni Salam sebagai bentuk doa agar terselamatkan atau terhindar dari sesuatu yang tidak menyenangkan. Salam yang demikian mirip dengan apa yang sering diucapkan ketika di dunia yakni assalamu’alaikum.
Ini sekaligus menegaskan bahwa ucapan Salam ketika di dunia berbeda dengan di surga, adapun ucapan Salam yang berbentuk doa seperti assalamu’alaikum tidak diperlukan lagi di surga karena mereka sudah berada dalam negeri yang damai nan kekal yakni Dar al-Salam.
Berbanding terbalik dengan kondisi orang kafir ketika itu, mereka justru diusir dan diacuhkan oleh Allah SWT. Menurut Ibnu ‘Asyur, kata imtazu (امتازوا) terambil dari kata mazah (مَازَه) yakni memisahkan sesuatu yang bercampur dengannya.
Beberapa mufassir menggambarkan kondisi saat itu. Orang kafir dan mukmin berada pada suatu tempat yang sama, namun kaum Mukminin diperintahkan masuk ke dalam surga sedangkan mereka yang kafir dijerumuskan ke dalam neraka.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 51-52: Ditiupnya Sangkakala Awal Proses Hari Kebangkitan
Lihat Juga :