Surat Yasin ayat 63-65: Ketika Seluruh Tubuh Bersaksi di Hadapan Allah Taala
Kamis, 27 Januari 2022 - 12:21 WIB
loading...
A
A
A
حَتّٰىٓ اِذَا مَا جَاۤءُوْهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَاَبْصَارُهُمْ وَجُلُوْدُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka lakukan.
Berkaitan dengan hal ini, al-Qurthubi dalam tafsirnya mengutip hadis dalam Shohih al-Muslim yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, ia berkata:
كُنَّا عِنْدَ رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ فَضَحِكَ، فَقالَ: هلْ تَدْرُونَ مِمَّ أَضْحَكُ؟ قالَ قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسولُهُ أَعْلَمُ، قالَ: مِن مُخَاطَبَةِ العَبْدِ رَبَّهُ يقولُ: يا رَبِّ أَلَمْ تُجِرْنِي مِنَ الظُّلْمِ؟ قالَ: يقولُ: بَلَى، قالَ: فيَقولُ: فإنِّي لا أُجِيزُ علَى نَفْسِي إلَّا شَاهِدًا مِنِّي، قالَ: فيَقولُ: كَفَى بنَفْسِكَ اليومَ عَلَيْكَ شَهِيدًا، وَبِالْكِرَامِ الكَاتِبِينَ شُهُودًا، قالَ: فيُخْتَمُ علَى فِيهِ، فيُقَالُ لأَرْكَانِهِ: انْطِقِي، قالَ: فَتَنْطِقُ بأَعْمَالِهِ، قالَ: ثُمَّ يُخَلَّى بيْنَهُ وبيْنَ الكَلَامِ، قالَ فيَقولُ: بُعْدًا لَكُنَّ وَسُحْقًا، فَعَنْكُنَّ كُنْتُ أُنَاضِلُ
Ketika itu kami sedang bersama Rasulullah SAW dan tiba-tiba beliau tertawa, lalu bertanya kepada kami, “Apakah kalian tau sebab aku tertawa?"
Kami menjawab, “Tidak, Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”.
Kemudian Nabi menceritakanan bahwa di hari kemudian ada seorang hamba yang berkata kepada Allah: ‘Tuhan, bukankah Engkau telah melindungiku dari penganiayaan?”
Allah menjawab, “Benar.”
Hamba itu melanjutkan: “Jika demikian, aku tidak merasa puas kecuali bila ada saksi dari diriku.”
Kemudian, Allah berfirman: “Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini menjadi saksi, serta para Malaikat mulia yang menulis (amalmu) pun turut bersaksi”
Seketika mulutnya dikunci dan diperintahkan kepada anggota tubuhnya: “Berucaplah!” Maka masing-masing (anggota tubuh) mengucapkan amal-amalnya. Lalu, giliran hamba tersebut untuk berbicara, ia berkata: “Bedebah kamu wahai anggota badanku, engkau tadinya yang kuharapkan membelaku” (HR Muslim, No. 2969)
Hamka memahami ayat ini sebagai sandaran bahwa kebiasaan seseorang ketika di dunia, baik dari perangai, gestur tubuh, cara berpakaian, cara melirik, berjalan, dan sebagainya merupakan manifestasi dari polah orang itu yang bisa menjadi “saksi” penilaian terhadapnya.
Hamka memisalkan dirinya ketika sakit yang tak sadar tangannya bergerak seperti sedang menulis, hal ini diceritakan oleh anak dan istrinya. Peristiwa itu menggambarkan bahwa ia adalah seorang penulis, meski ia tidak berucap “aku penulis”, namun anggota tubuhlah yang membicarakannya.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 55-57: Gambaran Kehidupan Penduduk Surga Bersama Pasangannya
(mhy)
Lihat Juga :