Kisah Penemuan Harta Karun Saat Abdul Muthalib Menggali Sumur Zamzam

Sabtu, 29 Januari 2022 - 09:53 WIB
loading...
Kisah Penemuan Harta...
Pada era Jurhum sumur Zamzam sempat mengering. Pada era Abdul Muthalib sumur ini digali kembali sehingga mengeluarkan air. (Foto/Ilustrasi: Ist)
A A A
Sumur Zamzam mengering ketika Kakbah di bawah pengelolaan Jurhum. Kepengurunan berganti-ganti kondisi masih sama. Beberapa abad kemudian, di saat Abdul Muthalib menjadi petugas penyedia air dan makanan bagi tamu Baitullah, beliau mencoba menggali kembali sumur tersebut. Di dalam sumur itu ditemukan barang-barang berharga.

Baca juga: Begini Leluhur Nabi Muhammad SAW Mengelola Kakbah, Makan Gratis bagi Jamaah Haji

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menuturkan Abdul Muthalib mengambil alih kedudukan ayahnya, Hasyim, mengurus pembagian air dan persediaan makanan bagi tamu Kakbah. Dia menggantikan pamannya Muthalib.

Dalam mengurus dua jabatan ini, terutama urusan air, Abdul Muthalib menemui kesulitan yang tidak sedikit. Maklum saja, kala itu Abdul Muthalib baru memiliki seorang putra, yaitu Harith. Sedangkan persediaan air untuk tamu sangat terbatas.

Sejak sumur Zamzam mengering, air didatangkan dari beberapa sumur yang terpencar-pencar di sekitar Mekkah, yang kemudian diletakkan di sebuah kolam di dekat Kakbah.

Abdul Muthalib sudah barang tentu ingin memilik anak yang banyak sehingga pekerjaan tersebut bisa dilakukan lebih ringan. "Ini jugalah yang lama menjadi pikiran," tulis Haekal.

Orang-orang Arab masih selalu ingat kepada sumur Zamzam yang sudah lama tak berfungsi. Abdul Muthalib pun punya keinginan kuat untuk menggali lagi sumur Zamzam.

Baca juga: Tahukah Anda? Orang yang Pertama Kali Memasang Kiswah Kakbah Ternyata Penyembah Berhala

Zamzam Mengering
Sumur Zamzam mengering pada era Mekkah dikelola Jurhum, yakni masa Mudzadz bin 'Amr ibn Harith. Selama dalam masa generasi ini perdagangan Mekkah sedang berkembang sehingga membuat mereka hidup mewah. Mereka lupa bahwa mereka berada di tanah tandus dan bahwa mereka perlu selalu berusaha dan selalu waspada.

Haekal menyatakan, demikian lalainya mereka itu sehingga Zamzam menjadi kering dan pihak kabilah Khuza'a merasa perlu memikirkan akan turut terjun memegang pimpinan di tanah suci itu.

Peringatan Mudzadz kepada masyarakatnya agar menghentikan hidup berfoya-foya, tidak berhasil. Ia yakin sekali bahwa hal ini akan menghanyutkan mereka semua.

Kemudian ia berusaha menggali Zamzam lebih dalam lagi. Diambilnya dua buah pangkal pelana emas dari dalam Kakbah beserta harta yang dibawa orang sebagai sesajen ke dalam Rumah Suci itu.

Dimasukkannya semua itu ke dalam dasar sumur, sedang pasir yang masih ada di dalamnya dikeluarkan, dengan harapan pada suatu waktu ia akan menemukannya kembali.

Upaya ini gagal. Terjadilah kudeta oleh Khuza'a. Mudzadz pun keluar dari Mekkah bersama anak-anak Nabi Ismail. Kekuasaan sesudah itu dipegang oleh Khuza'a. Demikian seterusnya turun-temurun sampai kepada Qushayy bin Kilab, nenek (kakek) Nabl Muhammad yang kelima.

Baca juga: Kisah Amr bin Luhay, Penguasa Kakbah dari Yaman yang Eksportir Patung

Mengadu Nasib
Nah, pada masa Abdul Muthalib, keinginan untuk menggali kembali sumur Zamzam semakin kuat. Demikian kerasnya keinginan itu hingga terbawa dalam tidur Abdul Muthalib seolah ada suara gaib menyuruhnya menggali kembali sumur yang pernah menyembur di kaki Ismail neneknya dulu itu.

Demikian mendesaknya suara itu dengan menunjukkan sekali letak sumur itu. Dan diapun memang gigih sekali ingin mencari letak Zamzam tersebut, sampai akhirnya diketemukannya juga, yaitu terletak antara dua patung: Isaf dan Na'ila.

Abdul Muthalib terus mengadakan penggalian, dibantu oleh anaknya, Harith. Waktu itu tiba-tiba air membersit dan dua pangkal pelana emas dan pedang Mudzadz mulai tampak.

Melihat ada harta karun di dalam sumur, orang-orang mulai ikut campur. "Tidak!" ujar Abdul Muthalib. "Tetapi marilah kita mengadakan pembagian, antara aku dengan kamu sekalian. Kita mengadu nasib dengan permainan qid-h (anak panah). Dua anak panah buat Kakbah, dua buat aku, dan dua buat kamu. Kalau anak panah itu keluar, ia mendapat bagian, kalau tidak, dia tidak mendapat apa-apa," lanjutnya.

Usul ini disetujui. Lalu anak-anak panah itu diberikan kepada juru qid-h yang biasa melakukan itu di tempat Hubal di tengah-tengah Kakbah. Anak panah Quraisy ternyata tidak keluar.

Pedang-pedang dari sumur Zamzam itu buat Abdul Muthalib dan dua buah pangkal pelana emas buat Kakbah. Pedang-pedang itu oleh Abdul Muthalib dipasang di pintu Kakbah, sedang kedua pelana emas dijadikan perhiasan dalam Rumah Suci itu.

Sesudah sumur Zamzam memproduksi air kembali, Abdul Muthalib meneruskan tugasnya mengurus air untuk keperluan tamu.

Baca juga: Kisah Keturunan Nabi Ismail Terusir dari Mekkah dan Rusaknya Aqidah Pengelola Kakbah
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kemenhaj Ingatkan Jemaah...
Kemenhaj Ingatkan Jemaah Haji Tak Bawa Air Zamzam dalam Koper
Mengenal Masjid Pertama...
Mengenal Masjid Pertama yang Dibangun di Muka Bumi
Penasaran dengan Isi...
Penasaran dengan Isi Kakbah? Simak Penjelasannya di Sini!
Mengapa Kakbah Menjadi...
Mengapa Kakbah Menjadi Kiblat Umat Islam? Ini Makna Filosofisnya
Inilah Asal-usul Kakbah...
Inilah Asal-usul Kakbah dijadikan Kiblat dan Arah Salat
Sebelum Menjadi Kiblat...
Sebelum Menjadi Kiblat Umat Islam, Kakbah Sudah Dibangun Nabi Adam AS
Rekomendasi
Jepang Merevisi Probabilitas...
Jepang Merevisi Probabilitas Gempa Besar di Palung Nankai
Masuk ke Sumur Neraka...
Masuk ke Sumur Neraka Yaman, Penjelajah Gua Temukan Mahluk Tak Terduga
Elemen Kimia Terpenting...
Elemen Kimia Terpenting Ditemukan di Laboratorium Ilmuwan Terhebat dalam Sejarah
Artikel Terkini
Jadwal Puasa Muharam...
Jadwal Puasa Muharam 1448 H Tahun 2026, Kapan Puasa Tasu'a dan Asyura Dilaksanakan?
Jangan Tasyabbuh dengan...
Jangan Tasyabbuh dengan Tahun Baru Masehi, Ini Adab Menyambut 1 Muharram Menurut Ulama
Bolehkah Puasa pada...
Bolehkah Puasa pada 1 Muharram? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Doa Akhir dan Awal Tahun...
Doa Akhir dan Awal Tahun Baru Islam, Baca sebelum Maghrib Nanti!
Gus Zainul Arifin, Kiai...
Gus Zainul Arifin, Kiai Muda yang Hadirkan Dakwah Modern Tanpa Tinggalkan Tradisi
Selamat Tahun Baru Islam...
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, Berikut Keutamaan Muharram
Infografis
China, Penguasa Rare...
China, Penguasa Rare Earth Harta Karun Super Langka
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved