Salam Baginda kepada Raja Non-Islam Jadi Masalah, Begini Nasihat Abu Nawas

Jum'at, 04 Februari 2022 - 09:47 WIB
loading...
Salam Baginda kepada Raja Non-Islam Jadi Masalah, Begini Nasihat Abu Nawas
Baginda kadang perlu minta nasihat Abu Nawas jika menghadapi masalah seputar agama Islam. (Ilustrasi: Ist)
A A A
Suatu hari Abu Nawas dipanggil Baginda. "Abu Nawas," kata Baginda Raja Harun Al Rasyid memulai pembicaraan. "Aku harus berterus terang kepadamu bahwa kali ini engkau kupanggil bukan untuk kupermainkan atau kuperangkap. Tetapi aku benar-benar memerlukan bantuanmu."

"Daulat Paduka yang mulia," jawab Abu Nawas penuh takzim. "Gerangan apakah yang bisa hamba lakukan untuk Paduka yang mulia?" tanya Abu Nawas.

"Ketahuilah bahwa beberapa hari yang lalu aku mendapat kunjungan kenegaraan dari negeri sahabat. Kebetulan rajanya beragama Yahudi . Raja itu adalah sahabat karibku," ujar Baginda.



Selanjutnya Baginda bercerita, bahwa begitu berjumpa dengannya, sahabatnya itu langsung mengucapkan salam secara Islam; Assalamualaikum (kesejahteraan buat kalian semua).

"Aku tak menduga sama sekali. Tanpa pikir panjang aku menjawab sesuai dengan yang diajarkan oleh agama kita, yaitu kalau mendapat salam dari orang yang tidak beragama Islam hendaklah engkau jawab dengan Wassamualaikum," ujar Baginda.

Balasan Baginda itu bermakna 'kecelakaan bagi kamu'. Tentu saja sahabat Baginda itu merasa tersinggung. Dia menanyakan mengapa Baginda tega membalas salamnya yang penuh doa keselamatan dengan jawaban yang mengandung kecelakaan.

"Saat itu sungguh aku tak bisa berkata apa-apa selain diam. Pertemuanku dengan dia selanjutnya tidak berjalan dengan semestinya. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku hanya melaksanakan apa yang dianjurkan oleh ajaran agama Islam. Tetapi dia tidak bisa menerima penjelasanku. Aku merasakan bahwa pandangannya terhadap agama Islam tidak semakin baik, tetapi sebaliknya," Baginda berkisah dengan suara parau dan wajah murung.

Baginda lalu melanjutkan ceritanya, sebelum Baginda berpisah dengan rekannya itu, sang karib berkata, "Rupanya hubungan antara kita mulai sekarang tidak semakin baik, tetapi sebaliknya. Namun bila engkau mempunyai alasan lain yang bisa aku terima, kita akan tetap bersahabat."



Baginda menatap Abu Nawas dengan harap-harap cemas. "Kalau hanya itu persoalannya, mungkin, hamba bisa memberikan alasan yang dikehendaki raja sahabat Paduka itu yang mulia," ujar Abu Nawas.

Mendengar kesanggupan Abu Nawas, Baginda amat riang. Beliau berulang-ulang menepuk pundak Abu Nawas. Wajah Baginda yang semula gundah gulana seketika itu berubah cerah secerah matahari di pagi hari.

"Cepat katakan, wahai Abu Nawas. Jangan biarkan aku menunggu," kata Baginda tak sabar.

"Baginda yang mulia, memang sepantasnyalah kalau raja Yahudi itu menghaturkan ucapan salam keselamatan dan kesejahteraan kepada Baginda. Karena ajaran Islam memang menuju keselamatan (dari siksa api neraka) dan kesejahteraan (surga)," ujar Abu Nawas.

"Sedangkan Raja Yahudi itu tahu Baginda adalah orang Islam. Bukankah Islam mengajarkan tauhid yaitu tidak menyekutukan Allah dengan yang lain, juga tidak menganggap Allah mempunyai anak. Ajaran tauhid ini tidak dimiliki oleh agama-agama lain termasuk agama yang dianut Raja Yahudi sahabat Paduka yang mulia."

"Ajaran agama Yahudi menganggap Uzair adalah anak Allah seperti orang Nasrani beranggapan Isa anak Allah. Maha Suci Allah dari segala sangkaan mereka. Tidak pantas Allah mempunyai anak."

"Sedangkan orang Islam membalas salam dengan ucapan Wassamualaikum (kecelakaan bagi kamu) bukan berarti kami mendoakan kamu agar celaka. Tetapi semata-mata karena ketulusan dan kejujuran ajaran Islam yang masih bersedia memperingatkan orang lain atas kecelakaan yang akan menimpa mereka bila mereka tetap berpegang teguh pada keyakinan yang keliru itu, yaitu tuduhan mereka bahwa Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak," Abu Nawas menjelaskan.

Baginda mengerti apa maksud Abu Nawas sehingga seketika itu kegundahan Baginda Raja Harun Al Rasyid sirna. Kali ini saking gembiranya Baginda menawarkan Abu Nawas agar memilih sendiri hadiah apa yang disukai. Abu Nawas tidak memilih apa-apa karena ia berkeyakinan bahwa tak selayaknya ia menerima upah dari ilmu agama yang ia sampaikan.

(mhy)
Copyright © 2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
read/ rendering in 0.2297 seconds (0.1#10.140)