Kisah Hikmah : Amanah Berutang Seribu Dinar
Minggu, 27 Februari 2022 - 05:14 WIB
loading...
A
A
A
Dia menghadap kepada Allah dengan benar agar menyampaikan uang itu kepada pemiliknya. Dia menyadari Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Berangkat dengan keyakinan, iman, dan tawakal kepada Allah dia panjatkan doa dan melempar kayu berisi uang itu ke laut.
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku berutang 1.000 dinar kepada fulan, dia meminta penjamin kepadaku, lalu aku menjawab, 'Cukuplah Allah sebagai Penjamin.' Dan dia rela dengan-Mu. Lalu dia memintaku seorang saksi dan aku berkata, 'Cukuplah Allah sebagai Saksi'. Dia pun ridha kepada-Mu.
Sesungguhnya aku telah berusaha mencari perahu untuk mengirim haknya, tetapi aku tidak menemukan, dan aku menitipkannya kepada-Mu." Berkat ketulusan dan tawakkalnya yang tinggi itu, Allah menjaga kayu si pemuda tadi.
Dia-lah yang mengarahkan ombak-ombak lautan agar melemparkan kayu itu ke arah kota tempat pemiliknya berada. Allah pula yang menggerakkan keinginan pemilik uang agar pergi ke pantai pada hari itu, waktu ketika kayu itu tiba di pantai. Allah-lah yang memun culkan keinginan orang ini untuk memungutnya dan memerintahkan keluarganya agar membelahnya sesampainya dia di rumah.
Padahal, ada banyak kemungkinan terhadap nasib kayu berharga itu. Bisa jadi, kayu itu tidak akan sampai pada laki-laki si pemilik uang. Mungkin saja kayu itu tenggelam di dasar lautan, apalagi berisi uang yang tidak sedikit.
Kayu dalam kondisi seperti itu biasanya tenggelam dan tidak mengambang di permukaan air. Mungkin saja kayu itu di ambil awak kapal yang lewat di tempat tersebut. Mungkin saja ombak melemparkannya ke daratan lain yang jauh dari kota pemilik uang.
Baca juga: Kisah Hikmah : Istri Nabi Musa Alaihisalam yang Pemalu
Seandainya laki-laki itu sama sekali tidak keluar ke pantai atau dia pergi ke sana sesaat sebelum atau sesudah kayu itu sampai, jika bukan karena kehendak Allah, kayu itu bisa saja tidak akan sampai kepadanya. Dialah Allah. Dialah yang menjaganya, yang menggerakkan ombak dan menentukan waktu tiba kayu itu di hari ketika pemilik harta keluar ke pantai.
Menepati janji Hari itu adalah hari pembayaran utang yang telah disepakati. Ketika peluang terbuka bagi laki-laki pengutang, dia pun langsung pulang menemui pemilik harta dengan membawa 1.000 dinar yang lain karena dia khawatir uang yang dikirimkannya tidak sampai.
Dia datang menjelaskan alasannya dan menerangkan sebab ketidakhadirannya pada waktu yang disepakati. Di luar dugaan, uang itu telah sampai kepadanya. Ombak telah membawanya dan tiba tepat pada waktu pembayaran yang disepakati. Semua itu adalah berkat rahmat Allah, penjagaan, dan pengaturan- Nya.
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku berutang 1.000 dinar kepada fulan, dia meminta penjamin kepadaku, lalu aku menjawab, 'Cukuplah Allah sebagai Penjamin.' Dan dia rela dengan-Mu. Lalu dia memintaku seorang saksi dan aku berkata, 'Cukuplah Allah sebagai Saksi'. Dia pun ridha kepada-Mu.
Sesungguhnya aku telah berusaha mencari perahu untuk mengirim haknya, tetapi aku tidak menemukan, dan aku menitipkannya kepada-Mu." Berkat ketulusan dan tawakkalnya yang tinggi itu, Allah menjaga kayu si pemuda tadi.
Dia-lah yang mengarahkan ombak-ombak lautan agar melemparkan kayu itu ke arah kota tempat pemiliknya berada. Allah pula yang menggerakkan keinginan pemilik uang agar pergi ke pantai pada hari itu, waktu ketika kayu itu tiba di pantai. Allah-lah yang memun culkan keinginan orang ini untuk memungutnya dan memerintahkan keluarganya agar membelahnya sesampainya dia di rumah.
Padahal, ada banyak kemungkinan terhadap nasib kayu berharga itu. Bisa jadi, kayu itu tidak akan sampai pada laki-laki si pemilik uang. Mungkin saja kayu itu tenggelam di dasar lautan, apalagi berisi uang yang tidak sedikit.
Kayu dalam kondisi seperti itu biasanya tenggelam dan tidak mengambang di permukaan air. Mungkin saja kayu itu di ambil awak kapal yang lewat di tempat tersebut. Mungkin saja ombak melemparkannya ke daratan lain yang jauh dari kota pemilik uang.
Baca juga: Kisah Hikmah : Istri Nabi Musa Alaihisalam yang Pemalu
Seandainya laki-laki itu sama sekali tidak keluar ke pantai atau dia pergi ke sana sesaat sebelum atau sesudah kayu itu sampai, jika bukan karena kehendak Allah, kayu itu bisa saja tidak akan sampai kepadanya. Dialah Allah. Dialah yang menjaganya, yang menggerakkan ombak dan menentukan waktu tiba kayu itu di hari ketika pemilik harta keluar ke pantai.
Menepati janji Hari itu adalah hari pembayaran utang yang telah disepakati. Ketika peluang terbuka bagi laki-laki pengutang, dia pun langsung pulang menemui pemilik harta dengan membawa 1.000 dinar yang lain karena dia khawatir uang yang dikirimkannya tidak sampai.
Dia datang menjelaskan alasannya dan menerangkan sebab ketidakhadirannya pada waktu yang disepakati. Di luar dugaan, uang itu telah sampai kepadanya. Ombak telah membawanya dan tiba tepat pada waktu pembayaran yang disepakati. Semua itu adalah berkat rahmat Allah, penjagaan, dan pengaturan- Nya.
Lihat Juga :