Ibnu Katsir, Ulama Ahli Tafsir yang Tunanetra di Masa Tuanya
Selasa, 08 Maret 2022 - 16:38 WIB
loading...
A
A
A
Ibnu Katsir dikenal pemberani. Ia tidak gentar berhadapan dengan penguasa. Ia terdepan mendukung kebijakan penguasa yang sesuai dengan petunjuk Ilahi.
Di saat yang sama, ia juga terdepan mengkritik atau memilih berseberangan dengan penguasa yang menyalahi aturan Tuhan dan Undang-Undang yang membawa kemaslahatan untuk umat.
Ia bahkan pernah harus menanggung siksaan karena mengeluarkan fatwa tentang thalaq yang berbeda dengan kebijakan pemerintah. Sempat juga ia disidang karena menjatuhkan hukuman mati terhadap orang yang mengaku dirinya menyatu dengan Tuhan.
Baca juga: Dahsyatnya Hari Kiamat: Sifat-Sifat Dajjal, Menurut Ibnu Katsir
Buta di Akhir Hayat
Dalam Al-Durar Al-Kaminah fi A‘yan Al-Mi’at Al-Tsaminah, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (w.852 H) menjelaskan bahwa, Ibnu Katsir kehilangan penglihatannya pada akhir hayat beliau. Keterangan yang sama juga disebutkan oleh Muhammad Husain Al-Dzahabi dalam Al-Tafsir wa Al-Mufassirun.
Cobaan ‘kebutaan’ yang menimpa Ibnu Katsir di akhir-akhir masa hidupnya, tidak menghalangi beliau untuk tetap berkarya dalam upaya menghidupkan Ilmu-Ilmu Al-Quran, khususnya Ilmu Tafsir. Melalui tafsirnya yang monumenal, kajian tafsir terus mengalami perkembangan, bahkan telah bermunculan mufassir-mufassir lain yang tetap berkiblat kepada penafsirannya.
Kepiawaiannya dalam berbagai bidang tersebut diakui oleh banyak ulama besar. Muhammad Husain al-Zahabi, dalam al-Tafsir wa al-Mufassirun, menyatakan “Ibnu Katsir telah menduduki posisi yang sangat tinggi dari sisi keilmuan, dan para ulama menjadi saksi terhadap keluasan ilmunya, penguasaan materinya, khususnya dalam bidang tafsir, hadits, dan tarikh.”
Ibn Katsir wafat di bulan Sya’ban pada tahun 774 H di Damaskus dan dikebumikan di samping makam gurunya Ibn Taimiyah di pemakaman al-Shufiyah.
Baca juga: Ibnu Katsir: Jelang Kiamat, Seluruh Ahli Kitab Beriman Kepada Nabi Isa
Di saat yang sama, ia juga terdepan mengkritik atau memilih berseberangan dengan penguasa yang menyalahi aturan Tuhan dan Undang-Undang yang membawa kemaslahatan untuk umat.
Ia bahkan pernah harus menanggung siksaan karena mengeluarkan fatwa tentang thalaq yang berbeda dengan kebijakan pemerintah. Sempat juga ia disidang karena menjatuhkan hukuman mati terhadap orang yang mengaku dirinya menyatu dengan Tuhan.
Baca juga: Dahsyatnya Hari Kiamat: Sifat-Sifat Dajjal, Menurut Ibnu Katsir
Buta di Akhir Hayat
Dalam Al-Durar Al-Kaminah fi A‘yan Al-Mi’at Al-Tsaminah, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (w.852 H) menjelaskan bahwa, Ibnu Katsir kehilangan penglihatannya pada akhir hayat beliau. Keterangan yang sama juga disebutkan oleh Muhammad Husain Al-Dzahabi dalam Al-Tafsir wa Al-Mufassirun.
Cobaan ‘kebutaan’ yang menimpa Ibnu Katsir di akhir-akhir masa hidupnya, tidak menghalangi beliau untuk tetap berkarya dalam upaya menghidupkan Ilmu-Ilmu Al-Quran, khususnya Ilmu Tafsir. Melalui tafsirnya yang monumenal, kajian tafsir terus mengalami perkembangan, bahkan telah bermunculan mufassir-mufassir lain yang tetap berkiblat kepada penafsirannya.
Kepiawaiannya dalam berbagai bidang tersebut diakui oleh banyak ulama besar. Muhammad Husain al-Zahabi, dalam al-Tafsir wa al-Mufassirun, menyatakan “Ibnu Katsir telah menduduki posisi yang sangat tinggi dari sisi keilmuan, dan para ulama menjadi saksi terhadap keluasan ilmunya, penguasaan materinya, khususnya dalam bidang tafsir, hadits, dan tarikh.”
Ibn Katsir wafat di bulan Sya’ban pada tahun 774 H di Damaskus dan dikebumikan di samping makam gurunya Ibn Taimiyah di pemakaman al-Shufiyah.
Baca juga: Ibnu Katsir: Jelang Kiamat, Seluruh Ahli Kitab Beriman Kepada Nabi Isa
(mhy)
Lihat Juga :