Marwan bin Muhammad, Khalifah Terakhir Dinasti Umayyah yang Gemar Menyalib Lawan-Lawan Politiknya
Rabu, 16 Maret 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Baru beberapa bulan menjabat, pemberontakan pertama pecah di Hims, tempat yang sebelumnya memberikan baiatnya kepada Marwan.
Di saat yang hampir bersamaan, pasukan Romawi yang dipimpin oleh Kaisar Constantine V melancarkan serangan ke Asia Kecil. Pasukan Bani Umayyah yang berada di tempat itu terpaksa mundur, dan pada tahun berikutnya pasukan musuh berhasil menguasai perbatasan Suriah bagian utara.
Dalam situasi ini, Marwan memilih terlebih dahulu mengamankan Hims yang jaraknya hanya 30 Mil dari Damaskus. Ketika Marwan berhasil memadamkan pemberontakan di Hims, lagi-lagi, ia memperlakukan musuhnya demikian kejam. Ia menyalib korban-korban yang terbunuh di dinding-dinding kota.
Belum sempat bernapas lega, pemberontakan kembali pecah di pinggir kota Damaskus, lalu di Palestina, dan juga di Irak yang dipimpin oleh Dhahak bin Qais Asy-Syaibani.
Dhahak bahkan berhasil membunuh Gubernur Irak dan menguasai kota tersebut. Tapi satu persatu rangkaian pemberontakan ini dapat taklukkan oleh Marwan bin Muhammad.
Baca juga: Kisah Muawiyah bin Yazid Menolak Menjadi Khalifah karena Trauma
Di internal keluarga Umayyah sendiri, masalah belum tuntas. Sulaiman bin Hisham, yang dulunya pernah disiksa oleh Walid II, juga melakukan pemberontakan. Ia melihat sosok Marwan sebagai representasi Khalifah Walid II, sehingga ia mengganggap inilah momen untuk membalas kezaliman yang dialaminya pada masa Walid II. Namun perlawanannya dapat dipatahkan oleh Marwan. Iapun melarikan diri, dan wafat di India.
Marwan bin Muhammad memerintah selama sekitar 5 tahun. Tapi tak seharipun kursi kekuasannya tenang. Demikian kisruhnya suasana sosial politik masa itu, hingga ia memutuskan untuk memindahkan ibu kota dari Damaskus ke Mesopotamia, wilayah bekas kekuasaannya. Ia merasa lebih aman di wilayah yang sudah dikenalnya, daripada di Damaskus.
Meski demikian perkasa menghadapi serangkaian front pertempuran, namun pada akhirnya laju sejarah tidak bisa dihentikan.
Di Khurasan, Bani Abbas yang sudah bertahun-tahun menyusun kekuatan dengan rapi tiba-tiba muncul ke permukaan. Berbeda dari banyak pemberontakan sebelumnya, kali ini yang ditawarkan oleh Bani Abbas adalah sebuah revolusi – yang perencanaannya sudah disusun bertahun-tahun sejak masa pemerintahan Yazid II.
Demikian sibuk para khalifah Dinasti Umayyah mengamankan kursi kekuasaannya, hingga mereka tidak mampu mendeteksi kekuatan besar yang mengular di bawah singgasananya.
Adalah Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas yang pertama-tama menyusun rencana revolusi besar ini. Dengan mengatasnamakan hak keluarga Nabi Muhammad SAW dan Bani Hasyim, secara diam-diam ia berhasil mengumpulkan baiat dari berbagai klan. Hingga akhirnya ia berhasil mengambil baiat dari Abu Muslim, Jenderal paling cakap pada masanya.
Abu Muslim adalah sosok yang sangat setia pada rencana revolusi Muhammad bin Ali. Ketika Muhammad bin Ali meninggal pada tahun 125 H, Abu Muslim tetap setia mengawal gerakan ini.
Di saat yang hampir bersamaan, pasukan Romawi yang dipimpin oleh Kaisar Constantine V melancarkan serangan ke Asia Kecil. Pasukan Bani Umayyah yang berada di tempat itu terpaksa mundur, dan pada tahun berikutnya pasukan musuh berhasil menguasai perbatasan Suriah bagian utara.
Dalam situasi ini, Marwan memilih terlebih dahulu mengamankan Hims yang jaraknya hanya 30 Mil dari Damaskus. Ketika Marwan berhasil memadamkan pemberontakan di Hims, lagi-lagi, ia memperlakukan musuhnya demikian kejam. Ia menyalib korban-korban yang terbunuh di dinding-dinding kota.
Belum sempat bernapas lega, pemberontakan kembali pecah di pinggir kota Damaskus, lalu di Palestina, dan juga di Irak yang dipimpin oleh Dhahak bin Qais Asy-Syaibani.
Dhahak bahkan berhasil membunuh Gubernur Irak dan menguasai kota tersebut. Tapi satu persatu rangkaian pemberontakan ini dapat taklukkan oleh Marwan bin Muhammad.
Baca juga: Kisah Muawiyah bin Yazid Menolak Menjadi Khalifah karena Trauma
Di internal keluarga Umayyah sendiri, masalah belum tuntas. Sulaiman bin Hisham, yang dulunya pernah disiksa oleh Walid II, juga melakukan pemberontakan. Ia melihat sosok Marwan sebagai representasi Khalifah Walid II, sehingga ia mengganggap inilah momen untuk membalas kezaliman yang dialaminya pada masa Walid II. Namun perlawanannya dapat dipatahkan oleh Marwan. Iapun melarikan diri, dan wafat di India.
Marwan bin Muhammad memerintah selama sekitar 5 tahun. Tapi tak seharipun kursi kekuasannya tenang. Demikian kisruhnya suasana sosial politik masa itu, hingga ia memutuskan untuk memindahkan ibu kota dari Damaskus ke Mesopotamia, wilayah bekas kekuasaannya. Ia merasa lebih aman di wilayah yang sudah dikenalnya, daripada di Damaskus.
Meski demikian perkasa menghadapi serangkaian front pertempuran, namun pada akhirnya laju sejarah tidak bisa dihentikan.
Di Khurasan, Bani Abbas yang sudah bertahun-tahun menyusun kekuatan dengan rapi tiba-tiba muncul ke permukaan. Berbeda dari banyak pemberontakan sebelumnya, kali ini yang ditawarkan oleh Bani Abbas adalah sebuah revolusi – yang perencanaannya sudah disusun bertahun-tahun sejak masa pemerintahan Yazid II.
Demikian sibuk para khalifah Dinasti Umayyah mengamankan kursi kekuasaannya, hingga mereka tidak mampu mendeteksi kekuatan besar yang mengular di bawah singgasananya.
Adalah Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas yang pertama-tama menyusun rencana revolusi besar ini. Dengan mengatasnamakan hak keluarga Nabi Muhammad SAW dan Bani Hasyim, secara diam-diam ia berhasil mengumpulkan baiat dari berbagai klan. Hingga akhirnya ia berhasil mengambil baiat dari Abu Muslim, Jenderal paling cakap pada masanya.
Abu Muslim adalah sosok yang sangat setia pada rencana revolusi Muhammad bin Ali. Ketika Muhammad bin Ali meninggal pada tahun 125 H, Abu Muslim tetap setia mengawal gerakan ini.
Lihat Juga :