Memasuki Ramadhan, Pesan Haedar: Puasa Harus Jadi Mi’raj Rohani
Jum'at, 24 April 2020 - 15:13 WIB
loading...
A
A
A
Suatu kali ada orang yang sedang memaki-maki hamba sahayanya lalu Nabi menyuruh orang itu untuk membatalkan puasanya. Dia berkata kepada Nabi, “Aku sedang berpuasa ya Rasul”. Lalu Rasul menjawab: Rub shoimin laisa min shiyamihi illal ju' wal 'ats,banyak orang yang berpuasa tapi tidak ada hasilnya kecuali lapar dan dahaga.
Puasa orang itu, ketika dia memaki-maki orang lain tidak membekas di dalam jiwa ruhaninya. Orang yang berpuasa dengan beramal saleh dia akan memberi manfaat untuk orang banyak, sehingga puasanya tidak cukup untuk dirinya tetapi memberi kemaslahatan bagi sesama.
Keempat, puasa tentu juga tetap menumbuhkan semangat berilmu bagi kaum muslimin, tidak ada alasan orang yang berpuasa berhenti untuk mencari ilmu. Wahyu pertama risalah sebagai penanda pertama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerima wahyu adalah Iqra. “Iqro’ bismirobbikalladzii kholaq, kholaqol insaana min ‘alaq, iqro’ warobbukal akrom, alladzii ‘allama bil qolam, 'allamal insana ma lam ya’lam..”.Hampir semua mufasir mengatakan bahwa wahyu pertama turun di bulan Ramadhan sampai umat Islam kemudian memperingatinya dalam Nuzulul Qur’an.
"Maknanya adalah kita umat Islam harus menjadi insan-insan berilmu yang punya tradisi Iqra’ dan bulan Ramadhan mari kita jadikan sebagai bulan untuk terus mengasah diri kita dengan ilmu, kecerdasan untuk membangun peradaban yang utama," katanya.
Maka dalam suasana apapun termasuk dan lebih-lebih di saat kita menghadapi musibah, ujar Haedar, jadikan Ramadhan sebagai bulan untuk muhasabah. Bulan untuk muroqobah dan bulan untuk mujahadah. "Muhasabah selalu introspeksi diri kita, refleksi diri kita, siapa tahu kita dalam perjalanan hidup ini banyak berbuat kesalahan dan sedikit amal kebajikan. Muroqobah selalu dekat dengan Allah dan merasa diawasi Allah dan mujahadah selalu bersungguh-sungguh di dalam kehidupan," katanya.
Insya’Allah dengan penghayatan rohani yang mendalam seperti itu puasa kita akan sampai pada tangga takwa, La’allakum tattaquun.
Puasa orang itu, ketika dia memaki-maki orang lain tidak membekas di dalam jiwa ruhaninya. Orang yang berpuasa dengan beramal saleh dia akan memberi manfaat untuk orang banyak, sehingga puasanya tidak cukup untuk dirinya tetapi memberi kemaslahatan bagi sesama.
Keempat, puasa tentu juga tetap menumbuhkan semangat berilmu bagi kaum muslimin, tidak ada alasan orang yang berpuasa berhenti untuk mencari ilmu. Wahyu pertama risalah sebagai penanda pertama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerima wahyu adalah Iqra. “Iqro’ bismirobbikalladzii kholaq, kholaqol insaana min ‘alaq, iqro’ warobbukal akrom, alladzii ‘allama bil qolam, 'allamal insana ma lam ya’lam..”.Hampir semua mufasir mengatakan bahwa wahyu pertama turun di bulan Ramadhan sampai umat Islam kemudian memperingatinya dalam Nuzulul Qur’an.
"Maknanya adalah kita umat Islam harus menjadi insan-insan berilmu yang punya tradisi Iqra’ dan bulan Ramadhan mari kita jadikan sebagai bulan untuk terus mengasah diri kita dengan ilmu, kecerdasan untuk membangun peradaban yang utama," katanya.
Maka dalam suasana apapun termasuk dan lebih-lebih di saat kita menghadapi musibah, ujar Haedar, jadikan Ramadhan sebagai bulan untuk muhasabah. Bulan untuk muroqobah dan bulan untuk mujahadah. "Muhasabah selalu introspeksi diri kita, refleksi diri kita, siapa tahu kita dalam perjalanan hidup ini banyak berbuat kesalahan dan sedikit amal kebajikan. Muroqobah selalu dekat dengan Allah dan merasa diawasi Allah dan mujahadah selalu bersungguh-sungguh di dalam kehidupan," katanya.
Insya’Allah dengan penghayatan rohani yang mendalam seperti itu puasa kita akan sampai pada tangga takwa, La’allakum tattaquun.
(mhy)
Lihat Juga :